Zahrah (Korban Pembalasan)

Zahrah (Korban Pembalasan)
Ayah Syok!


__ADS_3

Ting Tong.


"Mita!!!"


"Mita, ada tamu tuh!!" Zahra berteriak pada Mita.


"Iya non, saya akan membukanya!" sahut Mita yang langsung berlari menuju ke pintu utama.


Tak berapa lama setelah itu, Mita pun kembali menghampiri Zahra yang tengah duduk di sofa depan tv.


"Non, ada orang yang mencari nyonya"


"Huh?"


Zahra terkejut, dia langsung berdiri dan mengikuti Mita ke depan.


"Ibu, Ayah!"


"Zahra!" ucap Lastri dan Gunawan tersenyum melihat putri bungsu mereka.


Zahra memeluk ibu dan ayah nya, kemudian membawa mereka masuk ke dalam rumah.


"Ayo ibu, ayah. Duduk di sini dulu."


"Mita, bawakan air buat ayah sama ibu dong" teriak Zahra.


Dia bukan bersikap seolah seperti orang kaya dan nyonya di rumah ini.


Namun, Zahra sedang panik dan berusaha mengalihkan semua perhatian agar ibu dan ayah nya tidak menanyakan soal kakak nya.


Zahra tidak tahu harus menjawab apa, jika ibu dan ayah nya menanyakan keberadaan kakaknya.


"Ini non, minumannya" Mita menyajikan minuman dingin dan hangat. Dia tidak tahu ibu dan ayah Zahra ingin minum apa.


Mita juga tidak ingin banyak bertanya pada Zahra, karena dia tahu apa yang saat ini Zahra hadapi.


setelah minum, Gunawan dan Lastri celingak celinguk mencari keberadaan Sirena.


Inilah yang Zahra takutkan.


"Nak, kakak kamu kemana. Kok gak keliatan?"


"Iya nak, katanya dia akan libur di saat ibu dan ayah datang" sambung Gunawan.


"Itu.. Ehm.."


Zahra kebingungan, dia tidak tahu harus mengatakan apa pada kedua orang tuanya.


"Zahra, kamu kenapa bingung. Kakak kamu di mana?"


"Itu yah, Ehm.."


"Zahra?"


"Putri kalian sudah kabur dengan pria lain!"


Semua orang terkejut, mereka menoleh kearah tangga dan langsung berdiri ketika melihat siapa yang berdiri di sana.


Dengan angkuh, Jerico menuruni anak tangga. Lalu, berdiri di hadapan mereka semua.


"Apa maksud ucapan kamu Jerico!" tanya Gunawan tidak mengerti.


Zahra mulai panik, dia tahu Jerico sangat marah dan kedua orang tua nya juga pasti akan syok jika mengetahui apa yang kak Sirena lakukan.


"Sirena berselingkuh dengan mantan kekasihnya!" jawab Jerico angkuh, sorot mata nya tajam penuh kebencian.


Gunawan mundur satu langkah, dadanya tiba-tiba berdenyut mendengar ucapan Jerico.

__ADS_1


"Jangan asal bicara Jerico, Sirena tidak akan melakukan hal itu!" sangkal Gunawan tidak percaya dengan apa yang baru saja Jerico katakan.


"Jika kalian tidak percaya, tanyakan saja pada putri kalian ini."


"Zahra melihat semua nya dengan mata kepalanya sendiri!, Sirena bersama pria itu di dalam kamar hotel, tanpa busana-"


"Sudah cukup kak!" Sela Zahra menghentikan Jerico. Dia sudah melihat gelagat aneh dari ayahnya.


"Kenapa Zahra, biarkan orang tua kamu tahu. Bagaimana sifat asli putri mereka sendiri!"


"Tidak... Tidak..." ucap Gunawan menggelengkan kepala, dia terus memegangi dadanya yang naik turun karena nafasnya mulai terasa pendek.


Bruk!


"Ayah!!!"


Zahra berteriak, dia panik melihat ayahnya tiba-tiba ambruk tidak sadarkan diri.


"Mas.. Mas..."


"Ibu, ayo bawa ayah ke rumah sakit!"


"Kak, bantu angkat ayah!"


"Kak!"


Zahra menggoyang goyangkan tangan Jerico, agar pria itu sadar dan membantunya.


"Kak, aku tahu kakak marah dan kecewa sama kak Sirena.,"


"Tapi, aku mohon kak. Bantu ayah. Dia tidak bersalah"


Zahra berlutut di hadapan Jerico, dia tidak tahu lagi harus melakukan apa. Hanya Jerico yang bisa membantu nya.


"Kak, tolong"


Jerico membantu Zahra mengangkat Gunawan masuk ke dalam mobil.


Mereka bergegas membawa Gunawan ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit Gunawan langsung di tangani oleh dokter berkat Jerico.


Zahra menangis, dia berdoa agar Tuhan menyelamatkan ayah nya. Dia tidak sanggup apabila dia harus kehilangan Ayahnya untuk saat ini.


Jerico juga ada di sana, Zahra menghapus air matanya kemudian mendekati Jerico.


"Makasih yah kak, kakak sudah mau membantu ayah!"


"Ini tidak gratis Zahra!"


"Huh?"


Zahra di buat bingung dan terkejut mendengar ucapan Jerico.


"Apa-"


Ceklek


Ucapan Zahra terhenti saat mendengar pintu ruangan ayah nya di tangani terbuka. Dokter muncul dan berjalan keluar.


"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?"


"Bagaimana kondisi ayah saya dokter?" tanya Zahra dan ibunya bersamaan.


"Tuan Gunawan baik baik saja, dia hanya syok dan menyebabkan jantung nya lemah" jelas dokter.


Fyuu..

__ADS_1


Zahra menghembuskan nafas lega. Ayah nya baik baik saja.


"Terimakasih God"


"Terimakasih telah menyelamatkan ayah"


"Apa sekarang kamu sudah boleh melihatnya?"


"Boleh, setelah pasien di pindahkan ke ruang rawat inap" jawab dokter.


Zahra mengangguk, dia memeluk ibu nya.


"Ayah selamat bu"


"Iya Zahra, ibu senang banget"


"Jerico.." Lastri menghampiri menantunya.


Pria itu tidak bergeming, dia hanya menatap ibu mertuanya datar.


"Ibu tahu, kamu sedang mengalami hal yang sulit. Apalagi soal putri kami yang entah apa yang telah terjadi, dia melakukan hal itu"


"Tapi, ibu tetap ingin mengucapkan terimakasih."


"Kamu sudah menolong suami saya"


"Iya kak, atas nama kak Sirena. Kami minta maaf. Dan kami mengucapkan terimakasih " kata Zahra.


Jerico yang sejak tadi hanya duduk di kursi tunggu, akhirnya berdiri di hadapan Zahra dan ibu nya.


Sorot mata tajam, seakan menikam ke manik mata Zahra.


"Ini semua saya lakukan tidak gratis. Setelah tuan Gunawan keluar dari rumah sakit."


"Saya akan mengatakan apa bayarannya!"


Lastri mengerutkan kening, dia tidak mengerti dengan ucapan Jerico barusan.


"Maaf nak Jerico, saya tidak mengerti apa yang kamu katakan"


"Fokus lah dengan pengobatan tuan Gunawan."


"Setelah nya, kita akan membicarakan ini!"


Selepas mengatakan itu, Jerico pergi meninggalkan ibu dan anak itu.


Zahra memeluk ibu nya, perubahan sikap Jerico sangat mengejutkan dirinya.


Sebenarnya wajar saja Jerico marah. Siapa yang tidak marah apabila di khianati seperti itu.


Bersyukur Jerico masih punya hati, dia masih mau membantu mereka.


"Ayo bu, kita lihat ayah. "


Zahra menuntun ibu nya menuju ke ruangan rawat inap ayah nya.


Sembari membawa ibu nya, hati Zahra terus mengutuk kakaknya. Dia tidak akan bisa memaafkan Sirena apabila terjadi sesuatu pada ayah nya.


'Awas saja nanti, aku akan memberi pelajaran pada wanita seperti mu!'


Zahra merawat ayah nya di rumah sakit, dia juga harus menjaga ibu nya agar tidak ikut down karena kondisi ayah nya.


Sudah 1 Minggu dia bolos kuliah. Fian dan Risa juga sudah khawatir karena tidak mendapat kabar apapun dari Zahra.


Sejak kemarin, Fian mencoba menghubungi Zahra. Namun, tida ada jawaban.


Pria itu juga sudah mengunjungi kos Zahra. Tetap tidak ada.

__ADS_1


Zahra menghilang bak di telan bumi. Entah kemana wanita itu pergi.


__ADS_2