
Seperti biasanya Zahrah bangun lebih awal. Dia selalu membereskan rumah sebelum berangkat ke sekolah.
"Zahrah, ibu bisa minta tolong gak?" tanya Lastri saat mereka sedang menikmati sarapan pagi.
"Tolong apa Bu?" tanya Zahrah.
"Tolong antarkan kain ini ke rumah teman ibu dusun sebelah"
"Oh oke Bu, tapi aku anter nya setelah pulang sekolah yah"
Lastri tersenyum dan mengangguk. "Iya sayang, gak papa kok setelah pulang sekolah"
Zahrah mengambil barang titipan itu dan memasukkannya ke dalam tas.
"Zahra berangkat dulu yah Bu, udah hampir telat ini" ucap Zahra pamit.
"Hati hati, jangan ngebut. Kalo pagi itu jalanan ramai" peringat Gunawan.
"Oke yah"
"Assalamualaikum "
Zahra mengayuh sepedanya dengan penuh semangat. Waktu memang masih banyak, tapi Zahra tidak suka datang ke sekolah di saat waktu yang mepet. Dia lebih suka datang ke ih awal atau sedikit mepet, tapi bukan mepet.
Saat tiba di sekolah, Semangat Zahrah seketika hilang ketika melihat Fian menunggu nya di depan gerbang.
Wajah yang tadi berseri, seketika berubah muram ketika tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Fian.
"Selamat pagi princess" sambut Fian yang di balas acuh oleh Zahrah. Gadis itu melewati Fian begitu saja.
"Oh astaga Fian. Apa kamu tidak bosan mengejar cewe itu?"
"Apa bagus nya coba? dia hanya berprestasi dan yah aku akui cantik. Tapi, sikapnya yang cuek dan sombong seperti itu untuk apa?"
"Kalian tidak akan mengerti, karena itulah kalian selalu jomblo!" Ledek Fian, membuat kedua sahabatnya nya menekukkan wajah.
Fian malah semakin geli melihat ekspresi kedua sahabatnya itu.
Awal nya Fian memang penasaran dengan wajah dingin dan cuek Zahrah. Namun, setelah dia mencari tahu soal kehidupan dan kepribadian Zahrah. Fian jadi ingin memiliki Zahrah, perasaan nya terasa nyata bukan karena penasaran.
Fian berjalan santai menuju ke kelas nya. Dia melihat Zahra sudah duduk di meja nya yang sedang mengobrol bersama ketiga sahabat nya.
"Selamat pagi semua nya" sapa Fian pada semuanya. Tapi, matanya hanya tertuju pada Zahrah seorang.
"Ngapain sih, kamu ke sini?" tanya Zahrah dengan nada tidak suka.
"Sayang, kamu habis makan daging kambing yah? pagi pagi udah marah aja kamu" ucap Fian menoleh dagu Zahrah.
"Ih. Bisa gak sih gak usah sentuh sentuh aku!" Ketus Zahrah menatap Fian marah.
"Apa salahnya sih, nyentuh calon istri sendiri "
__ADS_1
"What? Lo gila yah? atau Lo gak mandi pas mau ke sekolah. Mimpinya jadi kebawah" ucap Zahra tidak terima dengan ucapan Fian.
Kedua sahabat Zahrah hanya melongo mendengar percakapan mereka berdua.
"Lihat saja nanti, kamu pasti akan menjadi istri ku. Dan saat itu terjadi..-"
"Aku akan menjadi wanita paling menyedihkan di muka bumi, karena aku mendapat istri seperti kamu!" sambung Zahrah tersenyum mengejek Fian.
Mendengar ucapan wanita yang dia suka seperti itu, Fian pun pergi meninggalkan kelas Zahrah. Hati nya terasa sakit mendengar perkataan Zahra tadi.
"Lihat saja nanti, aku akan membuat kamu mengemis cinta pada ku!" telat Fian.
Setelah Fian pergi, Ketiga sahabatnya menatap Zahrah tidak percaya.
"Kamu kenapa ngomong kaya gitu sih Ra," ujar meli.
"Tau ih, kalau dia sakit hati dan mencelakai kamu gimana? pamali tahu ngomong kaya gitu sama cowok" sambung Jeni.
Zahrah terdiam, di dalam hatinya dia mengucap maaf untuk Fian.
Maafin aku Fian, bukan aku ingin menyakiti kamu. Tapi, aku tidak mau kamu kecewa karena aku. Aku suka sama kamu, tapi aku takut nanti kamu menderita sama aku.
...----------------...
Seperti biasanya, Sirena bangun pagi. Dia terkejut mendapati dirinya terbangun di dalam pelukan suaminya.
Padahal semalam Sirena sudah memastikan sebelum tidur memasang pembatas agar pria itu tidak bisa mendekatinya.
Setelah selesai mandi, Sirena keluar dari kamar. Dia pergi ke dapur. Di sana, Sirena melihat seorang wanita tengah sibuk menggoyangkan wajan. Seperti nya dia sedang memasak sesuatu.
Sirena menghirup aroma masakan. "Apa dia sedang membuat nasi goreng?" Sirena memutuskan untuk mendekati wanita itu.
"Selamat pagi" sapa Sirena ramah. Wanita itu menoleh,, dia terkejut melihat Sirena datang dan langsung memberi hormat.
"Selamat pagi nyonya"
"Jangan seperti itu, aku tidak suka. Panggil saja aku Sirena"
"Tapi.." Wanita yang hampir seumuran dengan ibunya.
"Tidak ada bantahan, aku sama ibu itu sama. Tolong bersikap biasa saja ketika melihat saya" ucap Sirena. Wanita itu mengangguk mengerti.
Sirena berdiri di samping wanita setengah baya itu, melihat masakan apa yang tengah dia buat.
"Apa ibu, pekerja di sini?"
"Ya nyonya, saya kepala pelayan di sini. Bertugas menyiapkan makanan dan menyiapkan pakaian tuan. Intinya saya di tugaskan untuk menyiapkan kebutuhan tuan" jelas Wanita yang bernama Wati.
"Nyonya"
"Jangan panggil aku seperti itu, aku tidak suka" peringat Sirena lagi. Namun, Wati tidak bisa memenuhi permintaan nya.
__ADS_1
"Maaf nyonya, di sini saya sebagai pelayan dan nyonya adalah majikan saya. Mungkin saya bisa bersikap tidak berlebih kepada nyonya, tapi saya harus tetap memanggil nyonya."
Sirena menghela nafas, dia pasrah jika memang wanita itu ingin memanggilnya seperti apa.
"Sedang masa apa?"
"Saya sedang membuat nasi goreng kampung kesukaan tuan" jawab Wati. Dia sudah selesai memasak nasi goreng, saat nya untuk menyajikan ke dalam piring.
Sirena merasa tidak enak pada Wati, sejak tadi dia hanya berdiri dan memperhatikan wanita itu bekerja.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" Wati menggeleng.
"Tidak ada nyonya. Dulu, saya yang bertugas menyiapkan kebutuhan tuan. Sekarang, semua itu menjadi tugas anda." Kata Wati menjelaskan tanpa di minta oleh Sirena.
"Sekarang, sebelum tuan bangun, nyonya siapkan pakaian nya!"
"Tidak perlu, dia sudah besar. Kenapa harus di siapkan, dia pasti bisa mencarinya sendiri" dengus Sirena.
Wati melongo, bagaimana mungkin Sirena bisa berkata seperti itu.
"Nyonya, tuan tidak pernah melakukan semua itu sendiri. Karena itulah dia membutuhkan seseorang untuk membantunya."
"Sekarang, pergilah. Tuan tidak suka menunggu " Wanita mendorong pelan tubuh Sirena. Mau tidak mau dia terpaksa kembali ke kamar nya.
Sirena kembali masuk ke kamarnya, dia menggeleng pelan melihat Jerico masih nyaman berpetualang di alam mimpi.
Sirena mendekati ranjang, mencoba menggoyangkan tubuh Jerico agar dia terbangun.
"Mas, bangun. Sudah lagi." Panggil Sirena. Namun, tidak ada pergerakan dari Jerico.
"Mas... " goyang Sirena lagi. Jerico masih belum bangun, membuat Sirena mendesah pelan, dia duduk di tepi ranjang sambil terus mencoba membangunkan Jerico. Hingga akhirnya, pria itu menggeliat dan membuka matanya.
"Morning honey" Jerico memeluk pinggang Sirena, membuat wanita itu terkejut.
Dengan halus, Sirena menolak Jerico. "Segeralah mandi, nanti mas bisa terlambat pergi ke kantor" kata Sirena sembari berdiri.
"Memangnya siapa yang berani memarahiku. Kalau aku terlambat hm?"
"Ayo kembali ke sini, aku masih ingin bersama mu"
Sirena menghindar, saat tangan Jerico berusaha untuk menggapai tubuhnya.
"Ayolah mas, segera mandi dan turun. Aku sudah lapar" rengek Sirena.
Melihat tingkah Sirena manja seperti itu, membuat Jerico terkekeh pelan. Istri nya benar benar sangat lucu.
"Baiklah baiklah, aku akan segera mandi dan sarapan bersama mu" kata Jerico berlalu masuk ke kamar mandi.
Sebelum kembali ke ruang makan, Sirena menyiapkan pakaian untuk Jerico terlebih dulu.
Melihat sikap baik Jerico, membuat Sirena bertekad ingin menerima Jerico dan pernikahan ini.
__ADS_1