Zahrah (Korban Pembalasan)

Zahrah (Korban Pembalasan)
Ke luar kita???


__ADS_3

Untuk pertama kalinya Sirena pulang dari kantor tidak di jemput Jerico. Pria itu terlalu sibuk dan tidak punya waktu untuk menjemputnya hari ini.


Sirena sebenarnya sudah sering meminta izin untuk membawa mobil sendiri, tapi Jerico selalu menolak. Dan lihat sekarang, dia harus pulang dengan gojek, karena tidak mendapatkan taxi.


Sirena sebenarnya takut naik kendaraan umum, mungkin karena dia tidak terbiasa dengan itu. Dulu sebelum menikah dengan Jerico, Sirena selalu menaiki motor sendiri atau kalau nggak dia akan di antar jemput sama Raditya.


Setibanya di rumah Sirena tidak mendapatkan Jerico, seorang pelayan membukakan pintu untuknya.


"apa tuan belum pulang?"tanya Sirena


"Belum, non." Sirena diam.


"Bi, aku mau makan ya. Laper banget." kata Sirena.


"Apa saya masakin buat tuan sekalian , Non?"


"Tidak usah, kalau buat tuan biar saya " pelayan itu pun mengangguk mengerti.


Sirena berlalu pergi ke kamarnya, membersihkan dirinya. Setelah melakukan sholat Maghrib, Sirena membaringkan tubuhnya sejenak di atas tempat tidur. Tubuh dan pikirannya sangat lelah sekarang.


Begitu banyak masalah yang harus di hadapinya akhir - akhir ini.


'Ting!'


Sirena mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang berada di sampingnya. Membukanya dengan malas, saat melihat nama pengirimnya ingin rasnya Sirena membanting ponselnya. Namun, hal itu tidak mungkin di lakukannya. Mengingat ponselnya itu di dapatkannya dengan susah paya dengan gaji pertamanya dulu.


' Selamat malam, Iren ku. Apa kamu udah sampai di rumah? Tadi aku melihatmu naik ojek, kenapa ? Apa suami kamu itu sudah tidak peduli lagi denganmu? Besok apa kamu mau aku jemput?'  


Sirena meremas ponselnya, menahan gejolak lain di hatinya. Semenjak kejadian Raditya melakukan itu di ruangannya. Sirena mulai menghindari pria itu, meskipun dia selalu mencari cara agar bisa bersama Sirena.


Namun, Sirena juga tidak bisa memungkiri bahwa dia masih sayang dan cinta pada Raditya. Karena itulah dia tidak menolak ketika pria itu memeluk dan melakukan sesuatu yang seharusnya tidak di lakukan nya.


"Ya allah, apa yang harus aku lakukan? Tolong jaga lah hati hamba ini, jangan biarkan hamba tergoda dengannya Ya allah." ucap Sirena menatap langit - langit kamarnya. Dia masih berusaha agar tidak mengkhianati Jerico, meskipun ini sulit, namun Sirena tetap berusaha.


Tak lama kemudian, pelayan pun datang, mengatakan kalau makanannya sudah siap.


Sirena berjalan dengan gontai menuju ke meja makan. Saat dia duduk di meja makan, dan melihat hidangan yang tersedia, tiba-tiba Sirena menjadi tidak selera.


Namun, mengingat kelelahan para pelayan yang memasakkan untuk nya. Membuat Sirena harus tetap makan.


"Apa Zahra sudah pulang?"


"Sudah nyonya, tapi nona Zahra keluar lagi, katanya dia ada yang ketinggalan di perpustakaan umum" jelas Mita.


Sirena menghela nafas mendengar penjelasan Mita. Dia merasa tidak enak jika dia makan sendiri.


"Ayo bergabunglah, bi. Kalau bisa bawa semuanya" kata Sirena pada pelayan yang tadi memanggilnya.

__ADS_1


"Tidak usah non..."


"Beraninya kamu!..." teriak seorang dari belakang Sirena


Sirena dan pelayan itu pun menoleh ke sumber suara. Mereka kaget saat melihat Jerico yang berdiri di sana.


"Mas?" ucap Sirena. Jerico berjalan mendekatinya.


"kenapa kamu menolak ajakan dia? Apa hak kamu menolaknya?!" tanya Jerico menatap tidak suaka pada pelayan yang bernama Mita itu.


"Sudahlah mas, dia tidak bersalah. "bujuk Sirena , mencoba meredam amarah suaminya yang tidak tahu kenapa tiba - tiba memburuk.


"Ta, kamu boleh pergi!" seru Sirena, Mita pun berpamit pergi.


Sirena melihat kearah Jerico. "Kamu kenapa?"tanya Sirena


"aku hanya tidak suka jika ada yang tidak mengindahkan kemauan kamu."jawabnya.


"Tc, dia itu menolak karena segan makan sama aku, dan itu wajar mas. Kamu nggak usah gini ih marah - marah nggak jelas."kata Sirena


"Aku bukannya marah - marah tidak jelas, amarah ku ini jelas, sangat jelas malah."


Sirena menarik nafas, " Yaudah, kamu mandi gih aku mau nyiapin makanan buat kamu" kata Sirena. Dan diangguki oleh jerico. Dengan patuh Jerico berlalu meninggalkan meja makan dan berjalan menuju ke  kamar mereka.


Sirena berjalan ke dapur dan di sana dia melihat Mita yang sedang membersihkan dapur.


"Ta,..." Sirena berjalan menghampiri Mita.


"Aku minta maaf ya, atas nama mas Jerico." kata Sirena.


"Tidak apa - apa nona, saya mengerti kok." balasnya.


Sirena tersenyum, dan dia pun mulai mengambil bahan yang dibutuhkannya dia dalam kulkas.


"Ada yang bisa saya bantu, non ?"tanya Mita.


"Hmm... Kamu cuci yang itu aja." kata Sirena


Sekita 30 menit semua makanannya pun masak dan Sirena menyuruh Mita untuk menghidangkannya. Sementara dirinya pergi ke kamar untuk memanggil Jerico.


Saat masuk ke dalam kamar, Sirena melihat Jerico yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin.


Sirena mendekatinya, memeluknya dari belakang. "kamu wangi banget" ucapnya, menghirup aroma tubuh pria itu dalam.


"Kamu suka?"


"Banget" balas Sirena, Jerico membalikkan posisi mereka.

__ADS_1


"Hmm... Gimana..."


"Tidak, aku lapar" potong Sirena yang tau kelanjutan kata Jerico.


"sebentar saja" kata Jerico.


"apa kamu mau melihatku mati kelaparan" sungut Sirena.


"Hmm... Baiklah" dengan pasrah Jerico pun mengurungkan niatnya. Istri nya selalu melakukan hal ini untuk menolak nya lagi.


"Kalau begitu, ayo kita makan" ajaknya. Dengan semangat Sirena mengandeng lengan suaminya keluar ke meja makan.


Saat sampai di meja makan Sirena kaget melihat hidangan yang di atas meja, tidak sama dengan hidang saat dia datang tadi.


"Ini semua aku yang masak, dan yang tadi itu masakannya Mita."jelas Sirena seolah bisa membaca pikiran Jerico.


"Kenapa masak lagi?"tanyanya, menarik salah satu kursi dan duduk.


"Aku tidak mau kalau kamu itu makan masakan wanita lain kecuali masakan aku" balas Sirena mengambilkan makanan untuk Jerico.


"Beruntungnya aku memiliki Istri." puji Jerico


"Oh iya mas, aku mau ngasih tahu kamu" ujar Sirena mengunyah makanannya, lalu meminum air. Setelah itu barulah dia melanjutkan ucapan nya.


"Mau ngasih tahu apa?"tanya Jerico mulai penasaran.


"Besok aku akan pergi ke Surabaya, perusahaan mengutus aku ke Surabaya!"


"Loh, kok mendadak? ngapain kamu ke sana?" Jerico menghentikan makannya.


"Perusahaan mengutus aku pergi ke surabaya untuk menemui klien"


"Apa tidak ada orang lain selain kamu?"


Sirena tertegun, dia menatap suaminya.


"Apa kamu tidak memberi ku ijin?"


"Bukan seperti itu, tapi-"


"Tapi, kenapa harus mendadak seperti ini?"


"Kamu tahu lah mas, perusahaan aku seperti apa"


Jerico terdiam, dia menatap makanannya dengan tatapan sulit di artikan.


"Mas.." panggil Sirena.

__ADS_1


"Pergilah, jika itu yang kamu mau. Aku akan mencoba mempercayai mu"


Setelah mengatakan hal itu, Jerico pun berlalu pergi.


__ADS_2