Zahrah (Korban Pembalasan)

Zahrah (Korban Pembalasan)
Kembali Bekerja


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Siren dan suami nya duduk santai di balkon kamar. Jesica yang tidak mau jauh dari Siren, menyuruh wanita itu duduk lebih dekat di samping nya, kaku memeluknya dari samping.


Siren tidak menolak, dia membiarkan suaminya memeluknya dengan begitu erat. Terkadang dia merasa sedikit canggung saat Jerico menelusup dan mengendus kulit lehernya.


Hal ini tentu membuat Siren sedikit aneh, karena ini adalah pengalaman pertama bagi nya.


"Mas, aku mau ngomong sama kamu"


"Katakan saja," balas Jerico di selah sela kesibukannya. Dia tidak menyangka Sirena akan menjadi candu seperti ini baginya. Aroma khas yang menyeruak dari tubuh Sirena membuat dirinya tidak mau melepaskan nya.


Sirena diam beberapa saat, menyiapkan kalimat yang akan dia ucapkan pada Jerico.


"Aku ingin kembali bekerja"


Jerico menegakkan tubuhnya menatap Sirena, membuat wanita itu sedikit gugup.


"Kemarin bos tempat aku bekerja menghubungi ku, meminta ku untuk kembali bekerja. Dia bilang aku bisa bekerja di kantor pusat" ucap Sirena menjelaskan.


"Apa kamu kekurangan uang?"


"Bukan begitu mas, aku hanya ingin bekerja, berdiam diri di rumah saja membuat aku merasa bosan"


"Kalau begitu keluar lah, kamu bisa menghabiskan semua uang ku dengan pergi ke mall" balas Jerico lagi, dia terlihat tidak setuju apabila Sirena bekerja.


Bagi Jerico, Sirena cukup berada di sisi nya untuk menemaninya hingga mereka tua. Untuk urusan uang, dia yang akan memikirkan hal itu.


Sirena adalah wanita idaman Jerico, dia sengaja meminta mami nya untuk mengatur perjodohan ini, agar bisa memiliki sang pujaan hati.


Mendengar keputusan Jerico, Sirena menghela nafas dalam. Harapan untuk kembali bekerja terlihat sirna.


Jerico menatap wajah murung istri nya, rasa tidak tega pun menghinggapi hatinya.


"Baiklah, kamu boleh bekerja" Seketika raut wajah Sirena berubah sumringah.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Tentu, tapi dengan 1 syarat"


"Apa syaratnya?" tanya Sirena tidak sabar. Apapun syarat nya dia akan lakukan, karena dia memang ingin bekerja seperti biasanya. Menjadi nyonya besar bukan kah impian nya.


Siapa sih yang tidak ingin menjadi istri dari seorang miliarder seperti Jerico. Di hormati dan di segani oleh semua orang.


Namun, Sirena malah tidak berpikir seperti itu. Dia malah tidak terlalu memikirkan soal uang. Sirena hanya ingin hidup bahagia dengan orang yang dia cinta. Menjadi ratu di dalam hati pria yang dia cintai.


Siren masih menatap Jerico, menunggu syarat apa yang akan dia berikan agar dirinya bisa bekerja.


"Kamu harus pergi dan pulang kerja bersama ku. Setiap hari tanpa ada bantahan ataupun tolakan"


"Apa hanya itu?" tanya Sirena tidak percaya. Syarat yang begitu mudah. Namun, dia sedikit merasa terbebani.


"Jarak kantor mas dan kantor pusat tempat kerja lama ku berlawanan arah"


"Tidak masalah, aku tetap akan melakukan nya" seru Jerico kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.


Setelah pembicaraan kecil mereka itu, Jerico menggendong Sirena masuk ke dalam, lalu membaringkan ke atas ranjang.


Jerico menatap Sirena lekat, mengusap pipi nya dengan sangat lembut.


"Ehm mas, kita harus segera tidur. Besok adalah hari pertama ku bekerja" cicit Sirena menghindari Jerico yang ingin mencium nya.


"Hm.. Baiklah" Jerico mengecup pipi Sirena, kemudian memposisikan kepalanya pada ceruk leher Sirena.


Fyu..


Sirena bernafas lega, dia memang sudah berusaha menerima Jerico sebagai suaminya. Namun, untuk menyerahkan dirinya sepenuhnya dia belum siap.


"Maafkan aku mas"lirih Sirena pelan, di balas dengan pelukan erat dari Jerico.

__ADS_1


Pagi hari nya, Sirena bangun lebih awal. Mengingat semalam dia tidur di dalam pelukan Jerico, membuat dirinya tidak terkejut lagi berada di dalam pelukan Jerico seperti sebelumnya.


Sirena beranjak dari ranjang, dia masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai, Sirena langsung sholat subuh dan setelah itu dia berlalu menuju ke dapur.


Sirena terlihat bersemangat sekali hari ini. Dia menyiapkan sarapan untuk dirinya dan suaminya.


"Hari ini harusnya berjalan lancar, aku tidak akan membuat mas Jerico kesal. Agar dia tidak menghentikan aku bekerja" gumam Sirena menatap nasi goreng seafood yang baru ia sajikan di atas meja.


Setelah itu, Sirena pun beranjak kembali ke kamar untuk membangunkan Jerico.


Batu saja masuk ke dalam kamar, Sirena mendapati suaminya sudah selesai mandi dan sedang memasang dasi.


"Mas,.." Sirena berniat ingin membantu suaminya memasang dasi. Namun, Jerico menghindar.


"Bersiap lah, aku akan menunggu di bawah" ucap Jerico berlalu pergi.


Sirena terdiam, dia bingung dengan perubahan sikap Jerico.


"Semalam masih baik baik saja, kenapa sekarang dia bersikap bodoh seperti itu!" gumam Sirena heran. Dia bergidik bahu, tidak ambil pusing.


"Mungkin dia terjatuh dan kepala nya terbentur!" Siren berlalu masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa pakaian yang akan dia kenakan.


Setelah selesai sarapan, mereka pun berangkat bekerja bersama. Sirena merasa Jerico sedikit aneh karena sejak tadi hanya diam saja.


"Aku pergi bekerja dulu" ujar Sirena pamit, dia meraih tangan suaminya lalu mencium punggung tangannya.


Setela Sirena turun dari mobil, Jerico langsung menyuruh supir menjalankan mobil.


Sirena menatap kepergian mobil suaminya, ada sedikit rasa penasaran dengan sikap Jerico saat ini.


"Ah sudah lah, nanti juga dia baik sendiri" gumam nya berlalu masuk ke dalam kantor baru nya.


Setelah menemui HRD, Sirena diarahkan menuju ke ruangan yang akan menjadi tempat dia bekerja.

__ADS_1


Saat memasuki ruangan itu, Nisa di sambut oleh seseorang.


"Selamat datang Iren ku" Tubuh Sirena seketika menegang, setelah mendengar ucapan orang itu. Dia berbalik dan melihat siapa yang baru saja menyambutnya.


__ADS_2