Zahrah (Korban Pembalasan)

Zahrah (Korban Pembalasan)
Malam Pertama


__ADS_3

"Ada apa ini, kenapa wajah boss begitu masam?"


"Tidak tahu, dia baru datang dan sudah begitu"


"Sebaiknya kita jangan buat masalah, jika tidak mau menjadi tempat pelampiasan kemarahannya!"


Jerico mengabaikan bisik demi bisikan dari karyawan nya.


Blam.


Resepsionis di meja luar ruangan nya terpekik pelan mendengar dentuman keras.


"Astaga, ada apa ini. Kenapa pria kaku itu marah marah!" gumam nya mengomel.


Jerico duduk di kursi kerja dengan kedua tangan nya mengepal menghantam meja beberapa kali.


Brak!


Brak!


"Siapa itu Raditya!"


"Apa hubungan pria itu dengan istri ku!" geram Jerico mengingat apa yang tadi dia lihat.


Selesai mandi tadi, Jerico mendapati ponsel Sirena menerima pesan masuk dari seseorang yang bernama Raditya.


Yang paling membuat Jerico marah adalah isi dari pesan itu.


'Selamat pagi sayang, have a nice day'


"Arrrgg!!!! Siapa dia!"


Prank!


Beriringan dengan teriakan marah Jerico, sebuah vas bunga melayang ke udara.


"Lihat saja nanti, aku akan mencari siapa pria itu!" tekad Jerico, dia tidak akan membiarkan seorang pun merebut Sirena darinya.


Sementara di kantor barunya, Sirena terkejut melihat Raditya ada di hadapan nya.


"Mas, kamu kenapa ada di sini?"

__ADS_1


Pria itu mengabaikan pertanyaan Sirena, dia melangkah maju dan memeluk wanita itu.


Tanpa bisa menolak, Sirena hanya membiarkan Raditya memeluknya.


"Aku merindukan mu"


"Me too" balas Sirena menerima pelukan hangat yang sudah lama dia rindukan.


"Ayo kita duduk!"


Sirena menurut saja, dia memang sangat terkejut dan juga sangat bahagia bisa bertemu dengan Raditya setelah 2 tahun berpisah.


Pria tampan yang memiliki jabatan lumayan bagus di kantor itu merupakan mantan kekasih Sirena.


"Bagaimana kabar mu? apa kamu masih bersama ku?"


Deg


sirena mendadak gugup, pertanyaan Raditya terasa mencekam lehernya.


"Hey, kenapa diam saja?" Sirena tersenyum, kemudian memeluk Raditya erat.


"Aku sangat merindukan kamu!" alihnya.


Maafkan aku mas Jerico, aku tidak bisa jujur pada Raditya jika aku sudah menikah. Aku ingin menerima mu, tapi aku juga tidak bisa membohongi hati ku.


Semenjak kembali bekerja, sikap Sirena tidak berubah pada Jerico. Dia tetap melayani Jerico seperti biasanya. Hanya hubungan badan saja yang tidak ia lakukan.


Setiap Jerico meminta hak nya, Sirena selalu berkata belum siap. Beruntung Jerico bukan tipe pria pemaksa.


Semakin hari, kedekatan Sirena dengan Raditya semakin dekat pula. Mereka ternyata sudah kembali bersama.


Setelah selesai membereskan meja makan dan wastafel, Sirena pergi ke kamar untuk tidur.


Saat membuka kamar, dia mendapati Jerico sudah tertidur pulas.


Mas, maafin aku.


Cukup lama Sirena menatap wajah Jerico dengan perasaan bersalah, akhirnya dia pun memutuskan untuk tidur.


Pagi hari nya, Sirena merasa tubuhnya sedikit kesusahan bergerak.

__ADS_1


"Kenap-" Mata Sirena melebar melihat wajah Jerico sangat dekat dengan nya.


"Kamu sudah bangun?"


Sirena mengangguk pelan, dia tidak tahu Jerico sudah bangun atau belum, soalnya dia masih memejamkan mata. Namun, mendengar pertanyaan keluar dari bibirnya, membuat Sirena yakin suaminya sudah bangun sejak tadi.


"Sayang, apakah kamu selalu akan menolak ku?"


"Mas, kamu ngomong apa hm?" alih nya berusaha untuk melepaskan diri.


Jerico malah semakin mengeratkan pelukan nya di perut Sirena. Semakin mendekatkan wajah nya pada wajah Sirena.


"Mas, aku ingin mandi dan sholat!" cicit nya berusaha mencari alasan untuk kabur.


"Jangan alihkan lagi Sirena, aku tahu kenapa kamu menolak ku. Karen kamu punya pria lain kan?"


"A-apa yang mas Jerico bicarakan?" gumam Sirena mulai gugup.


"Lalu, kenapa kamu selalu menolak ku. Kita sudah menikah 3, bulan. Kamu masih belum siap? tidak kah kamu berbuat menerima perjodohan ini?"


Perkataan Jerico membuat pintu hati Sirena terketuk. Dia langsung merasa bersalah telah menipu Jerico.


Mas Jerico benar, aku sudah menjadi istri nya. Aku tidak boleh bersama dengan Raditya.


"Baiklah, jika mas mau melakukan nya. Lakukan saja"


"Benarkah?" mimik wajah Jerico langsung berubah. Tanpa memberi aba aba, dia langsung menyerang bibir ranum milik Sirena.


"Terimakasih " gumam Jerico di sela sela kegiatannya menikmati setiap inci tubuh Sirena.


Wanita itu juga tidak diam saja, di berusaha untuk menikmati kegiatan yang biasa di sebut oleh pengantin baru sebagaimana malam pertama.


Tapi mereka malah melakukan nya di subuh hari. Apakah ini akan di sebut sebagai subuh pertama?


Setelah bergumul beberapa ronde, Sirena terkejut melirik jam dinding kamar nya. Pukul 10 siang, ini sudah sangat telat pergi bekerja.


"Astaga mas, kita terlambat" kata Sirena tak berdaya, tenaganya sudah di kuras habis oleh permainan nya dengan Jerico.


"Hari ini kita libur saja, aku akan memberi kabar pada perusahaan mu nanti"


"Tapi,,"

__ADS_1


"Sudah lah, sekarang istirahat lah" Jerico menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua.


"Baiklah" sahut Sirena pasrah, tak bisa membantah suaminya.


__ADS_2