
Tak butuh waktu lama, Dengan kecepatan tinggi Jerico akhirnya sampai di rumah dan dia tidak mendapati Sirena di rumah.
"Bik, apa kamu melihat nyonya?"tanya Jerico pada kepala pelayan yang kebetulan lewat di dekatnya .
"Tidak tuan , nyonya belum pulang." jawab pelayan itu.
Jerico mengangguk pelan, kemudian berlalu menuju ke kamar nya.
Sekitar pukul tujuh malam, Sirena pun pulang dengan di antarkan oleh Raditya. Saat sebelum masuk ke dalam rumah, dia pun memasang wajah lelah nya.
"Mita, apa tuan sudah pulang?"tanya Sirena.
"Sudah nyah, tuan pulang sejak sore"jawab Mita.
"Baiklah, aku akan ke atas dan tolong siapkan bahan masakan, sebentar lagi aku akan turun untuk memasak" kata Sirena sebelum dia berlalu ke kamar nya.
Di kamar, Sirena melihat Jerico sedang berdiri di depan jendela. Sirena tersenyum, dia berjalan pelan mendekati suaminya, lalu memeluk pria itu dari belakang.
"Kamu sudah pulang? Kenapa nggak jemput aku?"tanya Sirena manja.
Jerico menggenggam tangan Sirena kua, memutar tubuhnya menghadap pada Sirena.
"Apa kau serius? Aku sudah datang menjemputmu. Tapi kamu sudah pergi" kata Jerico dengan nada dingin, matanya menatap mata Sirena lekat.
"Oo itu... Aku pergi ke gudang untuk mendata barang di sana" kata Sirena beralasan. Jerico menatap mata Sirena mencari kebohongan di sana.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"tanya Sirena mengalihkan pandangan matanya.
Jerico tidak menjawab, dia beranjak duduk ke sofa.
" kamu pulang di antar siapa?" Jerico menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa dan menengadahkan kepalanya ke atas.
Sirena terdiam, dia merasa aneh dengan suaminya itu.
" Aku tadi di antar oleh rekan kerjaku" jawab Sirena berjalan ke lemari dan mengambil baju santainya.
"Apa kamu sudah mandi?"tanya Sirena.
"Sudah"jawab Jerico.
"Yaudah aku mandi dulu, dan aku akan masak untuk makan malam kita" Kata Sirena sebelum berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Jerici hanya diam dan menatap lama pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat.
......................
Setelah selesai memasak, Sirena memanggil Jerico untuk makan malam.
Saat masuk ke kamarnya, Sirena melihat suaminya tengah serius dengan laptop di pangkuannya.
__ADS_1
"Mas, ayo makan!" Ajak Sirena.
Tanpa menjawab Jerico berdiri dan berlalu pergi meninggalkan Sirena yang terdiam di tempat melihat perubahan sikap suaminya.
"Ada apa dengan dia"gumam Sirena heran. Dia menyusul suaminya ke ruangan makan.
~
Saat ini Sirena dan Jerico sedang menonton tv, Sirena menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Mas, aku mau ngomong" kata Sirena setelah menyusun kata kata.
"Bicaralah..." jawab Jerico cuek.
"Lusa aku akan ke surabaya, aku ada peninjauan lapangan di sana." Jerico terdiam, dia menoleh pada istrinya.
" apa tidak ada orang lain yang bisa di utus oleh perusahaanmu itu?"tanya Jerico mulai muak.
"Kamu kok nanya nya gitu? Ini kan kerjaan aku mas"ujar Sirena mulai emosi.
"Kamu sadar nggak, kamu itu terlalu sering dinas keluar kota." ujar Jerico yang sudah merasa sedikit keberatan dengan kegiatan istri nya.
"Kamu ini gimana sih mas, ini tu udah kerjaan aku. Ya mau gak mau aku harus siap"balas Sirena menjauhkan kepalanya dari bahu Jerico.
"Yaudah terserah kamu, aku mau tidur. Besok ada kerjaan penting yang harus di kerjakan" Jerico beranjak menuju ke kamar nya.
Sedangkan Sirena, dia hanya terdiam membeku menatap kepergian suaminya.
Ting~
Sintia mengambil ponselnya yang di simpan di samping pahanya.
'Malam sayang, apa kamu udah makan?' Sirena tersenyum senang membaca pesan itu. Sirena membaringkan tubuhnya di sofa sambil berbalas pesan dengan seseorang.
Tanpa Sirena sadari Jerico memperhatikan dirinya dari lantai atas, dia hanya diam dan memperhatikan tingkah istri nya.
Jerico mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Lakukan dengan bersih!"
...----------------...
Pagi - pagi sekali, Zahra sudah bersiap untuk pergi ke kampus. Dia tidak ingin terlambat sedikitpun. Dia tidak mau mendapat hukuman di hari pertamanya masuk kuliah.
Jam enam tepat Zahra sudah berangkat dan sampai jam 6.10 .
Setibanya di kampus, Zahra mendapati 3 orang panitia yang bertugas di gerbang kampus. Dengan sopan Zahra memberi salam.
Zahra berjalan menuju ke lokernya untuk menyimpan barang - barang. Setelah selesai menyimpan barang, Zahra pun berjalan menuju ke lapangan dengan membawa semua atribut yang dibutuhkannya nanti.
__ADS_1
Sampai di lapangan, Zahra melihat sudah ada beberapa orang mahasiswa berdiri di sana.
Suasana terasa sedikit canggung, Karena Zahra belum mengenal siapa pun.
Zahra hanya bisa diam sambil melihat panitia yang sibuk menyiapkan upacara pembukaan ospek.
"Hai.." Zahra menoleh saat seseorang menepuk bahunya. Dahi Zahra mengerut, detik kemudian dia tersenyum manis.
"Boleh kenalan? Aku Risa" gadis itu mengulurkan tangannya, dengan senang hati Zahra langsung menyambut uluran tangan Risa.
"Boleh dong, aku Zahra"
"Kamu dari mana? Apa kamu hanya sendirian?"tanya Risa.
"Aku dari desa Xxx, iya aku sendiri di sini. Teman - temanku gak ada yang ke sini. Kamu sendiri?"
"Aku juga sendiri, aku asli sini" jawab Risa.
"Oo..." Zahra mengangguk mengerti.
"Apa kamu mau jadi temanku?"tanya Risa.
"Tentu saja" bala Zahra tersenyum.
Tentu saja Zahra mau menjadi teman Risa, apalagi dia belum memiliki teman di kampus ini.
Tak lama acara ospek pun dimulai, kegiatan di awali dengan upacara pembukaan. Setelah itu pembentukan regu, Zahra tertegun saat mendengar sebuah nama yang sangat familiar di telinganya ' Davin' yang benar saja nama itu dipanggil dan di masukkan kedalam regunya.
Awalnya Zahra ragu dan mengira itu hanya sebuah kebetulan kemiripan nama saja. Pikiran Zahra melayang, saat seseorang yang dia kira hanya kemiripan namanya saja berdiri dan menatap dirinya.
"Fian?,kamu juga masuk ke universitas ini?"tanya Zahra.
"I- iya apa kamu nggak suka? Atau kamu gak mau satu regu sama aku"tanya Fian dengan nada dingin.
"Nggak, aku seneng ketemu kamu disini. Aku jadi ada teman dan kita satu desa lagi" jawab Zahra senang, melihat reaksi Zahra, Fian sedikit tidak menyangka.
' kenapa dia terlihat berbeda dari biasanya?'batin Fian.
Zahra pun menjalankan OSPEK nya dengan sangat senang, dia tidak menyangka kalau akan bertemu dengan Fian. Zahra berdoa semoga saja semuanya baik baik saja.
Zahra sudah tidak ingin melihatkan ketidaksukaannya pada Fian. Zahra berpikir, tidak ada salahnya untuk membuka hatinya pada orang yang sebenarnya dia cintai sejak lama.
' Semoga kamu masih memiliki perasaan sama aku Fian' batin Zahra menatap Fian yang sedang sibuk menyelesaikan misi yang di berikan panitia pada peserta ospek.
"Jangan hanya bengong aja, bantuin kek" sindir Fian.
Zahra pun jadi salah tingkah dan dengan cepat mengambil tali yang sedang Fian pegang..
"Sini biar aku yang ikat!" ujar Zahra.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Zahra, Fian menatapnya dengan senyum bahagia.
' Ayolah, Fian nggak boleh kaku gini. Relax, santai aja dan ingat jangan bikin Zahra ilfil sama kamu' batin Fian menyemangati dirinya sendiri.