Zahrah (Korban Pembalasan)

Zahrah (Korban Pembalasan)
Pergi Ke Kota


__ADS_3

Setelah sarapan pagi, saat akan berangkat kerja. Sirena memberitahu suaminya kalau Zahrah akan datang.


"Mas, nanti Zahrah akan datang ke sini"


"Benarkah?" Sirena mengangguk penuh semangat.


"Dia akan tinggal di sini sama kita mas, apa tidak apa apa?" tanya Sirena sambil memberikan tas kantor pada Jerico.


Cup.


"Tidak masalah sayang, Adik kamu, adalah adik aku juga"


Sirena sangat senang, dia langsung memeluk Jerico dan membalas kecupan suaminya.


"Makasih mas, aku tahu kamu tidak akan keberatan"


"Kita berangkat sekarang?"


"ayo!!" sahut Sirena menggandeng tangan suaminya girang.


Melihat kebahagiaan di mata istri nya, membuat hati Jerico tersentuh. Dia tidak menyangka pernikahan ini akan menjadi kebahagiaan tiada Tara seperti ini.


Sesampai nya di depan kantor tempatnya bekerja, Sirena meraih tangan suaminya, lalu mencium nya.


"Terimakasih mas, nanti hati hati yah"


"Iya sayang"


"Jangan lupa, liatin adek aku di universitas nanti. Katanya dia akan langsung ke sana"


"Ok, siap ibu bos!!" Sirena tersenyum mendengar ucapan suaminya.


"Yasudah, aku kerja dulu"


"Dahh..." Sirena melambaikan tangannya melihat kepergian suaminya. Setelah mobil suaminya tidak terlihat lagi, barulah Sirena masuk ke dalam perusahaan.


Saat masuk ke dalam ruangannya, tiba-tiba seseorang langsung menutup pintu dan menguncinya.


Blam!


"Astaga!" Sirena menatap Raditya yang sudah berdiri di hadapan nya.


"Raditya, ada apa. Kenapa pintunya di tutup?"


"Raditya!" pekik Sirena saat pria itu mendorongnya hingga terduduk di tepi meja yang ada di ruangan Sirena.


"Kamu kemana aja Sirena, kenapa kamu tidak menerimanya panggilan ku. Kenapa kamu tidak membalas pesan ku?"


"Raditya, kamu ini kenapa sih!" ucap sirena berusaha melepaskan diri.


Namun, Raditya terlihat tidak mau melepaskan wanita itu. Kilatan kemarahan terlihat jelas di manik mata nya.

__ADS_1


"Aku suda menghubungi kami. Tapi kenapa kamu tidak menerimanya!"


Brak!


Sekuat tenaga Sirena berusaha mendorong Raditya hingga pria itu menabrak kursi hingga terjatuh.


"Sudah cukup Raditya, aku tidak mau berurusan dengan mu lagi. Aku sudah muak. Kita sudah putus dan tolong jangan ganggu aku lagi!"


Mendengar hal itu, emosi Raditya semakin memuncak.


"Aku cinta sama kamu Sirena, makanya aku seperti ini!"


"Tapi aku tidak mencintai kamu lagi."


"Bohong!" bentak Raditya membuat Sirena terkejut.


"Aku tidak berbohong, aku sudah mencintai seseorang!"


"Apa yang kamu maksud itu suami mu itu? cih"


"Jika kamu mencintainya, kamu tidak akan enggan memberitahuku sejak awal. Karena kamu mencintai aku, karena itulah kamu tidak memberitahu ku!"


"Itu" Sirena memalingkan wajahnya, menghindari bertatap muka dengan Raditya.


Pria itu tersenyum miring, melihat sikap Sirena seperti ini, membuat dirinya semakin yakin jika Sirena masih mencintainya.


"Lihat lah, menatap ku saja kamu tidak mau."


"Aku tidak peduli Iren. Aku tidak peduli, aku hanya tahu aku mencintai kamu, dan kamu mencintai aku!"


"Tapi aku sudah menikah!"


Cup.


Raditya langsung mencium Sirena ketika wanita itu menatap kearahnya.


Awalnya Sirena menolak, namun lama kelamaan dia menerimanya bahkan menikmatinya.


"Aku tahu, kamu mencintaiku. " gumam Raditya di sela sela aksi mereka.


...----------------...


Zahra menatap lama rumah nya, ini bukan yang pertama kali dia meninggalkan rumah. Namun, kali ini entah kenapa Zahra merasa sangat sedih.


"Nduk, hati hati yah. Jaga diri kamu baik baik"


"Iya Bu, doain Zahra berhasil yah. Setelah Zahra lulus dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Zahra akan kembali dan membawa ibu sama ayah ke kota" janji Zahra.


Gunawan dan Lastri tersenyum seraya mengangguk.


"Sekarang, Zahrah berangkat dulu" ucap Zahra memeluk ibu dan ayah nya secara bergantian.

__ADS_1


Setelah berpamitan, Zahra pun masuk ke dalam bus.


"Hati hati!!!", teriak Lastri menahan air mata ketika melihat putrinya melambaikan tangan dari kaca bus yang mulai bergerak meninggalkan terminal.


"Hiks... hiks.. Putri ku,,,"


"Sudah la Lastri, Putri kita pergi sekolah, bukan pergi untuk selamanya. Dia bisa pulang ketika libur nanti"


"Tapi mas, aku tetap merasa sedih. Zahra adalah anak kita yang Paling baik"


"Aku mengerti, tapi gak baik juga jika kita bersedih. Lebih baik kita doakan saja dia" Lastri mengangguk, kemudian mereka pun pulang.


Di dalam bus, Zahra hanya duduk diam. Termenung menatap ke luar jendela kaca bus. Tatapannya kosong, pikiran nya melayang.


Lama perjalanan yang Zahra tempuh adalah 5 jam. Dia berangkat dari pukul 8 pagi.


Ayah, ibu, Zahra janji. Zahra akan menunaikan janji Zahra tadi. Zahra akan membuat ibu sama ayah bangga dan menikmati masa tua tanpa memikirkan mencari nafkah. Tunggu Zahra ibu, ayah.


5 jam berlalu, Zahra di bangunkan oleh knet bus.


"Neng, sudah sampai. Ayo turun!"


Zahra terkejut, dia melihat ke kaca bus. Benar saja, mereka sudah tiba di terminal kota tujuan nya.


Zahra segera turun, mengambil koper besarnya, lalu menariknya menuju salah satu taxi.


"Pak, bisa antar saya ke universitas C gak?"


"Bisa non, silahkan masuk" ucap supir itu seraya mengambil koper Zahra untuk di masukkan ke dalam bagasi.


Zahra masuk ke dalam mobil taxi, hanya 30 menit. Mereka pun tiba di universitas yang sangat sangat bagus.


"Wah, luar biasa. Ini adalah universitas impian aku!"


"Ya Allah, terimakasih sudah menuntun jalan ku ke universitas ini" gumamnya bersyukur.


Zahra membayar taxi, kemudian menarik kopernya masuk ke dalam universitas.


Saat di gerbang, dia di cegah oleh satpam.


"Maaf nona, apa keperluan anda ke universitas?"


"Oh, saya peserta seminar dan test masuk universitas ini pak. Ini kartu identitas saya"


Pak satpam memeriksa kartu yang Zahrah perlihatkan.


"Nona boleh masuk, mohon simpan koper Anda di sana"


Zahra menoleh pada deretan koper orang orang yang mungkin juga sama seperti dirinya.


"Silahkan ikuti petunjuk ini yah, agar nona sampai ke lokasi acara"

__ADS_1


"Baik pak"


__ADS_2