Zahrah (Korban Pembalasan)

Zahrah (Korban Pembalasan)
Orang Aneh


__ADS_3

Pagi sekali, Zahra sudah bangun pagi. Dia harus segera bersiap, karena pagi ini dia ada test akhir dari pihak universitas.


Sebelum pergi ke universitas, Zahra berniat ingin sarapan dulu.


"Eh, kak Jerico kenapa makan sendiri?" sapa Zahra terkejut melihat kakak iparnya makan sendiri di meja makan.


Jerico melihat sebentar pada asik ipar nya yang sudah rapi.


"Mau kemana?"


"Aku ada test lagi hari ini, jika aku lulus maka beasiswa itu akan menjadi milik ku!" tutur Zahra penuh semangat.


"Kalau begitu sarapan lah, aku akan mengantar mu" Zahra tersenyum lebar, dia sempat khawatir siapa yang akan mengantarnya ke universitas.


Beruntung kakak iparnya sangat baik dan mau mengantarnya.


"Ngomong ngomong, kakak kemana? kok gak keliatan?" Zahra celingak celinguk mencari keberadaan kakak nya yang mungkin berada di dapur. Namun, kakak nya tidak terlihat.


"Dia keluar kota. Ada urusan pekerjaan" jawab Jerico acuh.


Zahra mengangguk pelan, lalu menghabiskan makanan yang Mita hidangkan.


"Terimakasih kak Mita" ucap Zahra ramah.


Mita membalasnya dengan senyuman, Zahra emang beda, dia sangat ramah dan baik hati. Bahkan ucapan nya sangat lembut dan santun.


Setelah selesai makan, mereka pun bergegas pergi bersama. Jerico akan mengantar Zahra ke universitas.


Selama perjalanan menuju ke kampus, Zahra maupun Jerico tidak ada yang berniat memecahkan keheningan. Hingga mobil yang Jerico kendarai berhenti di depan kampus.


"Apa kamu punya uang?" tanya Jerico sebelum Zahra turun dari mobilnya.


"Ada kak, kakak tenang aja. Terimakasih atas tumpangan nya"


"Hm. Nanti, jika sudah selesai, hubungi saja aku!"


"Baik kak" jawab Zahra.


Jerico mengangguk pelan, kemudian vmelaju pergi setelah Zahra turun dari mobil nya.


"Dingin, tapi perhatian" gumam nya seraya berbalik masuk ke universitas tempatnya menimba ilmu selanjutnya.


"Selamat pagi pak " sapa Zahra ramah pada para satpam.


"Pagi juga neng" balas pak satpam tersenyum luluh.


"Udah cantik, ramah, baik, aduhh idaman banget dah ah"


"Benar Dod, aku mau juga lah kalo punya istri kaya neng Zahra"


plok!


Rio, satpam yang membalas sapaan Zahra meneplokkan buku yang ada di atas meja jaga mereka ke wajah satpam yang bernama Dodi.


"Apaan sih, sakit tahu Rio!"


",Kamu sih, menghayal ketinggian. Gak takut jatuh?"


"Namanya jug ngarep!" Sahut Dodi.


...----------------...


Setelah selesai mengikuti test akhir, Zahra pun kembali menghubungi Jerico. Kebetulan sudah jadwalnya makan siang. Jadi, Zahra tidak sungkan menghubungi kakak ipar nya itu.


Tak berapa lama menunggu, Jerico pun datang menjemput Zahra.


"Bagaimana tesnya?"tanya Jerico. Saat ini mereka sedang di perjalanan pulang.


"Sangat - sangat menegangkan, tapi alhamdulillah lancar kak. Ya, walau pun aku tidak tahu hasil gimana. Tapi tadi aku sudah berusaha semampuku." balas Zahra menceritakan bagaimana pengalamannya tadi saat tes.


"Semangat aja, jangan pikirkan hasilnya. Yang penting jalani saja dulu" kata Jerico. Yang di balas dengan anggukan oleh Zahra.


"Apa kamu sudah makan?"

__ADS_1


"Belum, kakak?"Zahra menoleh kearah Gibran


"Aku belum juga, kalau begitu kita makan dulu baru pulang" kata Jerico, melajukan mobilnya menuju ke sebuah restoran.


"Ayo pesanlah, makanan yang kamu inginkan!" suruh Jerico pada Zahra saat dia melihat menu makanan.


Zahra membesarkan mata saat melihat harga makanan yang tertera di buku menu.


"Kak, apa kakak serius ? Ini mahal sekali, ayo kita makan ditempat yang lain saja" kata Zahra dengan suara pelan.


Jerico tersenyum, " Aku tidak akan bangkrut dengan membayarkan makananmu itu. Jangan pikirkan harga, pesan apa saja yang kamu inginkan" kata Jerico menggeleng dengan kepolosan yang di miliki adik iparnya ini.


"Orang kaya memang berbeda ya" gumam Zahra lirih dan Jerico pun tersenyum mendengarnya.


Zahra memesan makanan yang harga nya paling murah, yah meskipun tetap saja mahal bagi nya.


...----------------...


Setelah makan siang selesai, Jerico baru lah mengantarkan Zahra pulang ke rumah.


"Masuklah, dan istirahat" ucapnya, berlalu pergi meninggalkan Zahra yang berdiri di depan gerbang rumahnya.


"Assalamualaikum pak, apa bapak sudah makan?"tanya Zahra saat melewati pos satpam.


"Waalaikumsalam neng, saya sudah makan." jawab satpam tersebut sambil tersenyum.


"Saya masuk dulu ya pak" pamit Zahra.


"Iya neng." balas Satpam itu.


"Memang berbeda antara bu Sirena dan neng Zahra. Bu Sirena memang baik tapi tidak seramah neng Zahra" kata pak satpam.


Zahra sampai di rumah, dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


"Ting~" Zahra menoleh mendengar bunyi ponselnya. Diraihnya tas selempang yang berada tidak jauh dari tubuhnya. Mengambil ponsel dan mengeceknya.


'Hai...' 


"Mungkin orang iseng." gumamnya lagi, mengabaikan pesan itu.


Saat Zahra hendak pergi ke kamar mandi ponselnya kembali berbunyi. Zahra pun mengambil ponselnya dan membaca pesan masuk tersebut..


'Kenapa kamu suka sekali mengabaikan pesanku?'


Ting~


'Ayolah, jangan hanya membacanya saja. Apa kamu tidak bisa mengetik barang satu kata saja?'


"Siapa sebenarnya ini?"


'Siapa?'


Akhirnya dia pun membalas pesan itu, kemudian meletakkan ponselnya di atas tempat tidur dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dia akan mengurus masalah pesan dari nomor yang tidak di kenal itu nanti.


~_~


Setelah selesai mandi Zahra kembali berbaring di atas tempat tidur.


"Gini ya rasanya tidur di rumah orang kaya. Tempat tidur empuk, kamar ada Ac nya, mandi nggak perlu keluar kamar, enak banget..." gumam Zahrah tersenyum sambil mengamati setiap sudut kamar yang dia tempati.


"Aku harus bisa jadi sukses dan bisa membeli rumah seperti ini buat ayah dan ibu" lanjutnya. Zahra sangat ingin memberikan kemewahan yang saat ini di rasakannya pada kedua orang tuanya.


"O iya, ponsel. Apa orang itu membalasnya atau tidak ya" ucapnya duduk dan meraih ponselnya yang berada di sudut ranjang bagian kakinya.


Dahi Zahra mengerut membaca balasan dari orang yang tidak di kenalnya itu.


' Aku adalah orang yang selalu ada bersamamu'


"Siapa? Yang selalu bersamaku?" Gumam Zahra mulai berpikir dan mengingat semua orang yang dekat dengannya.


"Apa aku ladenin aja kali ya, mana tau dia orang sini dan aku bisa mempunyai teman." ucapnya, Zahra pun mengetikkan kata - kata yang bersahabat. Namun saat hendak mengirimnya, Zahra pun jadi ragu.

__ADS_1


"Bagaimana kalau dia orang jahat?" Zahra pun menghapus kembali pesan yang sudah dia ketik dan meletakkan ponselnya di samping bantal.


"Mending aku tidur aja, "putusnya seraya memejamkan mata.


...----------------...


Pukul 4 sore Jerico pulang, dia memanggil pelayan  dan menyuruh untuk menyiapkan kopi untuk dirinya


"Apa nyonya sudah pulang?"


"Belum tuan, nyonya pulangnya besok lusa tuan" jawab kepala pelayan.


"Hmm... Siapkan aku kopi, aku akan turun setelah mandi" Ucap Jerico berlalu ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, Jerico meletakkan tas kerjanya di atas meja kerja. Membuka sepatu dan membuangnya kesembarangan arah, tidak lupa juga dengan dasi dan jas kerjanya. Kamar yang awalnya rapi seketika menjadi berantakan.


Jerici menghempaskan tubuhnya ke ranjang, ia menatap foto pernikahan nya yang terpampang jelas menggantung besar di dinding kamar.


"Kenapa aku tiba - tiba memikirkan mu Al, apa terjadi sesuatu dengan mu?" gumam Jerico.


Huft~


"Kenapa akhir - akhir ini dia sering banget dinas keluar sih"


"Kan aku jadi sering di tinggal, rese banget sih tu perusahaan" gumamnya lagi.


...----------------...


Zahra menggeliat, membuka matanya perlahan. Baru saja dia memejamkan matanya kembali, tiba - tiba sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.


'Jangan abaikan aku, tidak bisakah kamu tidak mengabaikanku?'


Nomor yang tidak di kenal itu kembali mengiriminya pesan dan kali ini, benar - benar membuat Zahra penasaran. Kapan dia mengabaikan orang ini? Bagaimana dia berbuat seperti itu sementara dia saja tidak mengenal orang itu.


'Maksud kamu apa? Bagaimana aku mengabaikan mu, sementara aku tidak mengenalmu '


Balas Zahra, kemudian dia mencoba menghubungi nomor itu. Namun, orang itu menolak panggilannya.


Ting~


' Aku belum siap berbicara denganmu, tidak bisakah kita komunikasi lewat chat saja?'


'Tidak bisa? Kalau kamu tidak mau menerima panggilanku, berhentilah menghubungiku!' balas zahra.


'Bagaimana kamu bisa sekejam ini pada ku? Di dunia nyata kamu juga menolak ku, setidaknya terima lah aku di dunia virtual ini' balas orang itu.


Zahra mengernyitkan keningnya, kapan dia menolak orang ini. Rasa penasarannya pun semakin menjadi.


'Kapan aku menolakmu? Aku tidak pernah menolak siapa pun.'


'jangan munafik, Ra. Kamu selalu menyakiti hati ku dengan penolakan mu'


"Siapa sebenarnya orang ini? Apa dia berasal dari desaku juga?" gumamnya mencoba berfikir siapa kiranya orang yang mengiriminya pesan.


"Baiklah, aku akan ikuti permainannya dulu"


' Sebenarnya apa mau mu?' tanya Zahra.


Ting ~


'Berteman lah denganku, setidaknya jika aku tidak bisa memilikimu di dunia nyata. Izinkan aku dekat denganmu di dunia maya ini' balas orang itu.


Zahra tidak langsung membalasnya, dia berfikir sejenak. Dia ragu untuk menjawabnya, bagaimana kalau orang ini berniat jahat padanya. Tapi, bukankah ini hanya di dunia maya?


"Semoga keputusanku ini tidak salah, aku hanya penasaran dengannya"


'Baiklah!'


Balas Zahra, kemudian meletakkan ponselnya di atas kasur . Dia memutuskan untuk keluar kamar, dia merasa lapar. Ingin melihat di dapur rumah kakaknya ini apa ada makanan yang bisa di makannya.


"Selamat sore kak, apa ada makanan?"tanya Zahra sopan pada seorang pelayan.


"Apa nona lapar?"tanya pelayan itu yang tidak lain adalah Mita.

__ADS_1


__ADS_2