Zahrah (Korban Pembalasan)

Zahrah (Korban Pembalasan)
Menjadi istri Yang baik


__ADS_3

Sirena dan suaminya sedang menikmati makanan buatan bi Wati.


"Bagaimana, apa kamu suka dengan masakan bi Wati? apa nasi goreng nya enak?" tanya Jerico.


"Enak, aku suka dengan masakan bi Wati. Aku juga bukan tipe pemilih makanan" jawab Siren


"Baguslah, kalau kmu mau sesuatu. Kamu bilang saja sama bi Wati, dia akan membuatkan untuk mu" jelas Jerico.


Sirena diam sebentar, memikirkan permintaan yang ada di otaknya saat ini.


"Untuk pertama kalinya aku ingin minta sesuatu!"


"Apa itu?" Jerico menatap istrinya penasaran.


"Aku ingin, urusan dapur aku yang mengurusnya!" Pinta Sirena, membuat Jerico terkejut.


"Apa kamu tidak suka dengan makanannya? apa tidak enak?" Sirena menggeleng.


"Aku ini istri mu, jadi sudah seharusnya aku yang menyediakan makanan untuk suamiku "


Bi Wati yang mencuri dengan bernafas lega. Dia sempat khawatir menunggu jawaban Sirena. Ternyata majikan barunya itu sangat bijaksana.


"Itu tidak perlu, kmu cukup berada di sisiku. Untuk hal lain nya, biarkan pelayan yang menyelesaikannya." ucap Jerico, lalu dia menyeruput kopi panasnya.


"Apa kamu takut aku meracuni mu, jika aku yang menyediakan makanan untuk?" tanya Sirena menatap suaminya, dan suaminya juga menatap dirinya.


"Bukan seperti itu, tapi"


"Kalau begitu, tolong ijin kan aku" potong Sirena.


Huh.


Jerico menghela nafas berat, istri nya sangat keras kepala.


"Oke baiklah" balas Jerico pasrah.


Sirena tersenyum senang, dia memakan nasi goreng nya dengan lahap.


...----------------...


Seisi kelas di hebohkan dengan informasi yang di sampaikan oleh ketua kelas.


"Hari ini guru rapat, jadi kita di perbolehkan pulang lebih awal" Sorak sang ketua kelas.


Zahrah dan ketiga sahabat nya langsung bersorak girang. Jika merek pulang lebih awal, maka mereka bisa pergi nongkrong bersama.


"Ayo kita nongkrong!" ajak Meli.


"Yuhuuu" sahut Jeni melompat lompat.


"Yuk Ra" ajak Hana merangkul bahu Zahra yang sejak tadi dia diam saja.


"Kalian aja deh, aku gak bisa"


"Loh kenapa Zahra? tumben banget kamu gak mau" tanya Meli.

__ADS_1


"Bukan begitu, Aku lagi kere banget. Uang jajan ku tinggal pas pasan buat seminggu ini" jawab Zahra jujur.


"Udah, kamu tenang aja. Kalo ini aku yang traktir" kata Meli.


"Beneran ni?" tanya Zahra senang


"Iya, penting kita pergi sekarang!!! Yuhuu!!"


Zahra langsung bersorak senang, wajah murungnya seketika melayang di udara.


"Sayang deh sam kalian!!!" mereka berpelukan.


"Sudah sudah, ayo kita pergi sekarang." seru Jeni.


Mereka pun bergegas mengambil tas, lalu melenggang keluar dari kelas.


Saat mereka berjalan menuju ke gerbang sekolah, Zahra melihat Fian tak jauh dari mereka.


Zahrah merasa sedikit aneh, Fian menatapnya dingin. Berbeda dari biasanya, Fian selalu menatapnya dengan penuh cinta.


"Ayo kita naik angkot aja" seru Meli.


"Iya" jawab Zahra mengabaikan Fian yang masih berada di tempatnya.


Kenapa kamu melihat ku seperti itu Fian, apa kamu marah karena perkataan ku tadi?


Zahra dan ketiga teman nya turun dari angkot setelah mereka sampai di depan cafe langganan mereka.


Mereka duduk di meja paling sudut, sehingga mereka bisa bebas bercanda dan tertawa keras tanpa harus takut mengganggu pengunjung lain. Karena meja sudut berjarak sedikit jauh dari meja lainnya.


Tidak terasa waktu sudah sampir sore. Zahra mengingatkan teman temannya dan mengajak mereka pulang.


"Sudah hampir sore, ayo kita pulang" Ketiga sahabatnya pun mengangguk setuju. Mereka segera meninggalkan cafe dan menaiki angkot lagi untuk pulang ke rumah masing-masing.


Sesampainya di rumah, Zahra melihat motor ayah nya terparkir di depan rumah.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawab Lastri baru keluar dari kamar.


"Kok pulang nya telat?"


"Tadi, teman teman ajakin jalan" jawab Zahra jujur.


"Lain kali, kalo mau pergi itu bilang dulu. Biar orang rumah tidak khawatir"


"Iya Bu, maaf yah Bu" sesal Zahra menunduk takut.


"Pergilah mandi, setelah itu makan" titah Lastri.


Zahra mengangguk patuh, dia pun langsung berjalan menuju ke kamar nya.


Sesampai di dalam kamar, Zahrah meletakkan tas ransel di atas meja belajar. Kemudian mengeluarkan semua peralatan sekolahnya, lalu menyusun sesuai pada tempat masing masing.


Zahra terduduk di meja belajarnya, pikirannya teringat pada perkataan dan tatapan mata Fian tadi.

__ADS_1


"Maaf Fian, aku tidak tahu harus berbuat apa" gumamnya pelan.


...----------------...


Jerico pergi ke kantor, wajah nya terlihat berseri seri. Baru kali ini Jerico merasa bersemangat pergi bekerja, tidak seperti biasanya dia merasa bosan dengan aktivitas yang selalu sama itu.


Seharian berada di kantor, membuat Jerico merasa tidak sabar ingin segera pulang. Bahkan ketika belum jadwal pulang, dia sudah meluncur pulang.


"Assalamualaikum" ucap Jerico ketika memasuki rumah.


"Waalaikumsalam" jawab Sirena menyambut Jerico dengan senyum manis nya.


Sirena mencium punggung tangan Jerico, kemudian mengambil tas kantor suaminya.


"Mas mau mandi dulu, atau mau mandi dulu?" tanya Sirena lembut.


Jerico tertegun mendengar ucapan lembut istrinya. Dia merasa kurang percaya jika Sirena ini adalah istri nya.


"Mas, kok bengong. Bukannya menjawab pertanyaan aku?" Sirena menyentuh lengan Jerico, membuat pria itu tersadar dari lamunannya.


"I-iya, aku mau mandi dulu" jawab Jerico gugup. Sirena lun mengangguk, di membawa suaminya ke kamar.


Sirena mengambil handuk, lalu memberikan pada suaminya.


"Aku mandi dulu" ujar Jerico menerima handuk dari istri nya.


Sirena mengangguk, dia pun beranjak mendekati lemari besar. Menyiapkan pakaian yang akan Jerico pakai.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Sirena pun pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam suaminya.


Melihat Sirena sibuk di dapur, membuat pelayannya merasa tidak enak.


"Nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?" Sirena menggeleng pelan.


"Tidak ada, kamu beristirahat lah, aku bisa mengurus ini semua" ucap Sirena santai.


Pelayan itu pun menghembuskan nafas pasrah, lalu kemudian dia pergi, meninggalkan Sirena sendiri di sana.


Setelah selesai mandi, Jerico menyusul istri nya ke dapur.


Seketika sudut bibir Jerico terangkat membentuk sebuah lengkungan, saat Dia melihat istrinya sedang menata makanan di atas meja makan.


"Ayo sini, kita makan malam" ajak Sirena menyadari kehadiran suaminya yang tengah berdiri tak jauh dari posisinya.


Jerico pun menurut, dia berjalan mendekati istrinya.


"Waw, apa semua ini kamu yang membuatnya?" decak Jerico kagum.


"Tentu saja, ayo cicipi lah" Sirena mengulurkan piring pada suaminya, lalu mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk yang dia masak sendiri.


"Bagaimana?" Sirena menatap Jerico penasaran, menunggu reaksi suaminya setelah memakan masakannya.


"Bagaimana?" desak Sirena tidak sabar. Sedangkan Jerico, dia malah sengaja memasang wajah biasa saja.


"Apa tidak enak?" tanya Sirena lagi, dia benar-benar penasaran dengan penilaian Jerico.

__ADS_1


__ADS_2