
Jerico kembali keluar kamar, dia pergi ke ruang keluarga dan dia mendapati Zahra yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Kakak sudah pulang? Apa sudah makan?"tanya zahra saat melihat Jerico berjalan menghampirinya.
"Iya baru saja. Belum, apa kamu sudah makan?" Jerico duduk di sebelah Zahra.
"Aku belum, tadi aku ketiduran saat menonton" jawab Zahra.
"Kamu pulang dengan siapa tadi?"tanya Jerico, mengambil remote dan menukar siaran tv.
"Aku tadi pulang naik taxi"
"Kenapa tidak menghubungi kakak minta jemput?"Jerico menoleh pada adik iparnya.
"Aku tadi mau keliling dulu, sambil nyari oleh - oleh untuk ayah, dan ibu" jawab Zahra jujur.
"Oo... Tapi lain kali beri lah kabar, biar orang gak khawatir" seru Jerico, membuat Zahra menunduk merasa bersalah.
"Apa sudah ada kabar dari kak Sirena?"tanya Zahra.
"Tadi aku sudah mencoba menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif. Apa dia tidak ada menghubungimu?"tanya Jerico, Zahra pun menggeleng.
"Hmm... Apa kakak selalu seperti ini jika sedang dinas luar kota?"tanya Zahra lagi.
"Tidak, biasanya dia selalu menghubungi ku, tapi tidak tahu. Kali ini dia tidak ada kabar sama sekali." ucap Jerico tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.
"Tc, kebiasaan" dengus Zahra.
"Maksudnya?"Jerico menoleh.
"Iya, kakak itu terlalu cuek dan gila kerja"jawab Zahra menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.
"Apa dia tidak terlalu peduli dengan keluarga?"tanya Jerico penasaran.
"Bukan seperti itu, kakak orangnya sabgat peduli dengan keluarga. Tapi dia itu orangnya sangat cuek, dia sangat jarang menghubungi rumah. Bukan berarti tidak peduli" jelas Zahra, Jerico pun paham karena dia juga seperti itu orangnya.
"Kak kita jalan - jalan yuk, aku merasa bosan berada di rumah seharian." ajak Zahra.
"Apa kamu tidak puas berkeliling tadi?"sindir Jerico.
Zahra tercengir, "Waktunya terlalu singkat, lagi pula jalan jalan sendiri itu sangat membosankan"
"Ayolah kak, temani sebentar saja"bujuk Zahra.
"Aku malas, kamu pergilah sendiri kalau mau jalan - jalan." seru Zahra yang kembali menoleh pada Tv
"Hmm... Apa aku boleh mengajak Mita?"tanya Zahra.
__ADS_1
"Pergilah, dan bawah supir agar kalian tidak repot"balas Jerico.
"Baiklah, kamu baik sekali kak. Kalau gitu aku akan bersiap dulu" Zahra pun beranjak dengan semangat.
"Dasar bocah" gumam Jerico.
Sebelum ke kamar, Zahra pergi ke kamar Mita terlebih dulu.
Tok... Tok... Tok...
"Kak Mita... Kak.." panggil Zahra di depan kamar Mita.
Ceklek
"Iya.."Saut Mita saat membukakan pintu kamar.
"Ada apa nona? Apa anda ingin makan?"tanya Mita.
"Tidak, aku tidak ingin makan."
"Lalu, nona mau apa?"tanya Mita.
"Apa kakak sibuk? Ayo temani aku jalan - jalan."ajak Zahra.
"Maaf nona, tapi tuan ada di rumah dan dia tidak akan mengizinkan kita" ucap Mita.
"Tapi nona..."
"Tc, kakak bandel juga ya. Udah di kasih tahu jangan panggil nona! Udah sana bersiaplah, aku nggak mau tau pokoknya 15 menit lagi aku akan seret kakak untuk pergi dan aku tidak peduli walau pun kakak pake daster gini. Aku nggak masalah" ujar Zahra pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Mita.
Tak butuh waktu lama Zahra pun sudah selesai bersiap dia kembali mendatangi kamar Mita.
Tanpa mengetuk, Zahra pun langsung masuk ke dalam kamar Mita.
"Ayo!" ajaknya yang melihat Mita sudah siap dengan baju santainya.
"Ayo"sahut Mita.
Mereka pun keluar dan menghampiri Jerico yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Kak kita pergi dulu ya" pamit Zahra.
"Tunggu!" seru Jerico, dia mengambil sebuah kartu dari dalam dompetnya.
"Bawalah ini dan pakailah untuk belanja apa yang kamu mau" kata Jerico mengulurkan sebuah kartu kredir pada Zahra.
"Tidak usah kak, aku masih punya uang kok" balas Zahra yang merasa tidak enak menerima kartu itu.
__ADS_1
"Ambil ini atau tidak usah pergi sama sekali!"ancam Jerico.
"Baiklah kalau kakak memaksa, tapi jangan salahkan aku kalau nanti aku menguras isinya" ucap Zahra tersenyum senang.
"Lakukanlah sesukamu" balas Jerico tidak ambil pusing.
Bersama Mita dan di antar oleh supir, Zahra dan Mita pergi ke mall yang paling besar di kota itu.
Sesampai di mall, Zahra menggandeng tangan Kita menuju ke tempat makan. Sebelum mereka bersenang senang, Zahra ingin menyelesaikan urusan perutnya terlebih dulu.
"Nona tunggulah di sini biar aku yang pesan." ucap Mita hendak pergi ke kloter pemesanan makanan.
"Tunggu kak" Zahra menahan tangan Mita.
"Saat ini aku ini hanya teman kakak, bukan majikan dan pelayan, lagi pula aku ini hanya adik kak Sirena dan aku bukan boss kakak. Jadi berhentilah memanggilku dengan embel - embel nona, aku nggak suka" ujar Zahra, yang tidak suka dengan panggilan Mita padanya.
"Baiklah Zahra, aku akan pesan makanan" ucap Mita tersenyum, Zahra menggeleng.
"Apa lagi?"tanya Mita.
"Kita akan memesannya bersama, malam ini aku ingin kita menjadi sahabat ok" kata Zahra kembali mengandeng lengan Mita.
Mereka pun memesan makanan, kemudia memakan makanan mereka sambil ngobrol santai. Setelah selesai dengan urusan perutnya. Zahra pun mengajak Mita untuk menonton Film, dan setelah itu mereka akan berjalan jalan sambil melihat lihat apa yang membuat mereka tertarik.
"Kakak kalau ada barang yang mau di beli bilang ya, masih ingatkan kalau malam ini kita sangat kaya" ucap Zahra semangat.
"Iya, tapi apa kamu masih mau beli barang lagi, padahal ini tu udah sangat banyak?"tanya Mita tidak percaya dengan Zahra. Gadis itu seperti nggak ada capeknya dari tadi terus saja keluar masuk toko.
"Aku hanya ingin melihatnya kak" jawab Zahra tercengir.
"Melihat, tapi di beli juga"
"Itu karena aku suka"Zahra terkekeh pelan, kemudian menggandeng tangan Mita masuk ke toko pakaian.
"Kak, kira kira ini cocok gak yah untuk ibu aku?"
"Ini untuk ayah aku"
Zahra menunjukkan pada Mita sepasang baju pria dan wanita.
"Zahra, bukan kah sejak tadi kamu hanya membelikan barang untuk ayah dan ibu mu. Lalu, kapan kamu akan membeli untuk diri mu sendiri?" tanya Mita heran.
Zahra tersenyum.
"Aku masih punya banyak barang, ibu sama ayah sangat jarang beli baju dan barang barang yang lainnya."
"Kamu memang berbeda dengan nyonya Sirena, ' batin Mita.
__ADS_1