- J A S E N -

- J A S E N -
Bab 1


__ADS_3

Klik


Regita mematikan lampu kamarnya. Saat ini, penerangan yang tersisa hanya sebuah lampu tidur di atas nakas. AC sudah ia atur senyaman mungkin, jendela-jendela juga sudah ditutup dan dikunci. Regita menarik selimut tebalnya hingga sebatas dada, lalu memejamkan matanya.


"Fly me to the moon ... let me play among the stars ..."


"Let me see what spring is like ... on Jupiter and Mars ...."


Lagu milik Frank Sinatra yang berjudul 'Fly Me To The Moon' mengalun begitu saja dari ponsel milik Regita, itu berarti ada telepon masuk. Namun Regita tak segera mengangkatnya, ia membiarkan beberapa saat sambil mendengarkan lagu itu dengan mata masih memejam.


"In other words, hold my hand ... in other words, baby, kiss me ...."


Regita meraih ponselnya. Tak boleh membiarkannya lama-lama, siapa tahu itu telepon penting. Atau mungkin telepon dari pacarnya. Ah, jangan berharap. Sampai gajah beranak kambing, pacar Regita tidak mungkin meneleponnya. Garis bawahi ya, TIDAK MUNGKIN.


"Felin?" Mata gadis itu langsung terbuka lebar ketika membaca nama yang tertera di layar ponsel. Ia segera menekan tombol hijau.


"Hallo, Kak Re!"


"Iya, hallo, Fel, ada apa? Kangen ya sama Kak Re?"


Suara di seberang sana tak langsung menyahut. Felin memang sudah biasa menelepon Regita, tapi tak pernah di jam-jam larut malam seperti ini. Regita menjadi penasaran dibuatnya.


"I-itu, Kak. Hm ... Kak Jasen."


Mata Regita kian melebar ketika mendengar nama pacarnya disebut. Jasen Laksamana Pressapda, pacarnya sekaligus kakak tiri Felin.


"Jasen kenapa?"

__ADS_1


Lagi-lagi Felin tidak langsung menyahut. Regita menggigit bibir bawahnya, rasa khawatir menyelimutinya.


"Jasen kenapa? Ngomong Fel!"


Regita menggeram frustasi karena Felin tidak memperjelas kalimat utamanya. Sementara itu perasaan Regita semakin khawatir.


"Kak Jasen ... Hmm, Kak Jasen lagi i-ikut nyerang Geng Galaksi, Kak."


"Hah?! Jasen ikut nyerang Geng Galaksi? Geng Galaksi-nya SMA Tunas Bangsa?"


"Iya, Kak."


"Kamu tahu lokasinya?"


"Jalan Flamboyan."


Regita memutuskan telepon secara sepihak. Ia segera mengganti baju tidurnya dengan skinny jeans berwarna biru pudar dan kaos pendek warna maroon. Tak lupa, Regita juga memakai jaket jeans basic untuk melindunginya dari dingin angin malam. Sebelum keluar kamar, Regita menyambar kunci motornya.


"Loh, non Gita mau ke mana?" Regita menoleh ke asisten rumah tangga yang melemparkan pertanyaan padanya.


"Keluar sebentar, Bi. Jangan bilang Mama sama Papa ya." Asisten rumah tangga itu mengangguk, nurut.


Regita menuruni tangga sambil berlari. Butuh waktu lama untuk sampai ke garasi tempat motornya berada. Pasalnya, rumah Regita sangat besar dan luas. Apalagi kamarnya berada di lantai empat.


"Capek banget, ih. Kenapa sih Papa gak ganti tangga sialan ini jadi lift?!" gumamnya sambil terus berlari menuruni tangga.


Sampai di bagasi, Regita mengedarkan pandangannya mencari si Mita--motor ninja kesayangannya. Di bagasi rumahnya itu, terdapat delapan mobil mewah dan puluhan motor. Sehingga membuat Regita kesulitan mencari Mita.

__ADS_1


Tinn ... tinn ...


Regita meng-klakson dua kali agar satpam penjaga gerbang rumahnya terbangun. Dasar kebo. Disuruh jaga malah molor.


"Cepet pak! Buru-buru nih!"


"Iya iya, Non. Maaf." Gerbang rumahnya terbuka secara otomatis ketika Pak Satpam memencet sebuah tombol di dekat pos jaga.


Regita menarik gas. Mita melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Untung saja jalanan sudah sepi karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Sampai di Jalan Flamboyan, Regita mematikan mesin motornya di pinggir jalan. Ia mengamati sekeliling yang sudah benar-benar tak karuan. Manusia-manusia terkapar di jalan itu dengan bersimbah darah. Tak sedikit juga yang masih bertarung, entah itu dengan tangan kosong atau dengan senjata.


Regita segera berlari menghampiri ketika matanya menemukan sosok yang dicarinya. Tentu saja dengan perasaan takut.


"Stop, Sen!" Regita berteriak memohon sambil menarik lengan seorang lelaki yang merupakan pacarnya.


"ANJI**! MINGGIR LO!" Lelaki itu mendorong Regita hingga terjerembab ke aspal. "Gak seharusnya lo di tempat ini!!"


Regita bergeming, terduduk di atas aspal tanpa ada niatan untuk berdiri. Ia menatap pacarnya yang sudah penuh lebam dan luka berdarah-darah. Bukan hanya Jasen, hampir semua orang di tempat itu mengeluarkan darah. Entah itu karena darah dari luka tendangan, tonjokan, pukulan kayu atau besi, bahkan tusukan dari belati. Akibatnya, bau anyir darah tercium oleh hidung mereka semua.


Bugh!


Refleks Regita menoleh ke belakang, bertepatan dengan tumbangnya seorang lelaki yang tadi hampir memukul kepala Regita dengan sebuah balok kayu. Gadis itu terkejut setengah mati, lalu merubah posisi tubuhnya menjadi berdiri.


Gimana bagus gak, kalau bagus Author akan usahain up setiap hari deh😃..


Di tunggu kritik dan sarannya yah

__ADS_1


__ADS_2