- J A S E N -

- J A S E N -
Bab 14


__ADS_3

Gibran mendorong Sendra mendekat ke meja Meli. "Cepet! Playboy kok cemen. Bacain puisi buat Meli aja gak berani," ejek Gibran.


Saat main PS semalam di rumah Pradit, Sendra kalah. Alhasil ia harus membacakan puisi untuk Meli di depan teman-teman sekelas.


"Pengecut lo, Ndra!" timpal Galang.


"Bac*t lo pada!" ucap Sendra.


Akhirnya Sendra terima saja. Ia mendekat ke gadis culun berkacamata itu.


"Hai, Mel," sapa Sendra.


Meli menutup novel yang tengah ia baca, lantas menatap Sendra. "Eh? Ha-hai," balas Meli canggung.


Sendra meraih tangan Meli, lalu menggenggamnya. Meli tersenyum malu, ia menampakkan gigi-giginya yang hitam.


"Anji*, tangannya digenggam, ***!" seru Galang. Ia dan yang lain menyaksikan aksi Sendra tersebut. Bahkan Gibran sampai mem-video adegan tersebut.


Kini Sendra dan Meli sudah berdiri di depan papan tulis. Meli sangat gugup, ia berkali-kali salah tingkah dengan membenarkan letak kacamatanya.


"Hey semua! Mari kita saksikan Sendra dan Meli!!" teriak Revon.


Dalam sekejap, semua pasang mata menatap dua orang itu. Mereka bersorak-sorak. Namun, banyak juga murid putri yang merasa iri. Sendra kan ganteng, masa sama Meli?


"Aku punya puisi buat kamu, Mel" ucap Sendra sebagai permulaan.


"Suit suit, uhuy!"


"Puisi apaan tuh, Bang?"


"Ternyata Sendra sama Meli."


"Selera lo kurang top, Ndra!"


Meli tersenyum kaku. "Pu-puisi apa, Ndra?" tanya Meli gugup.


Sendra menarik napas panjang, lalu menghembuskannya lewat mulut.


"Andai aku jadi langit, kamu adalah pelanginya."

__ADS_1


Meli tersipu, pipinya merona merah hingga ke telinga.


"Aku jadi mataharinya dong, Ndra!"


"Aku jadi pesawat, Ndra! Ubut ubut ngeng ngeng!"


Sendra melanjutkan puisinya, "Andai aku jadi kuda, kamu kusirnya."


"Hiya hiya!"


"Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk, suara sepatu kuda."


"Andai aku jadi lautan, kamu jadi cumi-cuminya," ucap Sendra masih menggenggam tangan Meli.


"Gak jadi ikan buntal sekalian, Ndra?"


"Gue jadi pausnya dong!"


Sendra melepaskan genggamannya, lalu melanjutkan. "Andai aku jadi abang penjual sayur, kamu tomat busuknya."


"Wuanjer!"


Senyum di wajah Meli memudar. Ia disamakan dengan tomat busuk? What the fu*k


"Kamu tahu gak, Mel? Apa bedanya kamu sama bau kotoran sapi?" tanya Sendra.


Meli tersenyum lagi, pasti Sendra mau ngegombal. "Nggak tahu, Ndra. Emang bedanya apa?"


"Nggak ada bedanya, sama-sama bikin mual dan pengen muntah!" ucap Sendra.


"HAHAHAHA!"


"Jangan terlalu jujur gitu lah, Ndra!"


"Kasian tuh, Ndra. Anak orang lo tarik ulur."


"Meli berasa di terbangkan ke langit, terus dihempaskan ke bumi."


Gelak tawa memenuhi kelas XII IPS 7 itu. Mata Meli sudah berkaca-kaca. Tiba-tiba seorang gadis masuk ke kelas itu, menyibak kerumunan.

__ADS_1


Plak!


Hening, semua memperhatikan adegan yang barusan terjadi dengan melongo.


"Brengs*k!" teriak gadis itu.


Sendra memegangi pipinya yang memanas. Lisa baru saja menampar pipinya di depan banyak orang. Gadis itu hendak pergi, merasa puas sudah menampar Sendra. Namun, Sendra segera mencekal pergelangan tangannya.


"Lisa, aku bisa jelasin," ucap Sendra menahan pacarnya itu.


Lisa menatap Sendra dengan penuh air mata, lalu menyentak tangan Sendra dan keluar dari kelas tersebut.


"BUBAR BUBAR! Adegan selesai!" teriak Revon membuat keramaian itu sirna seketika.


"Tuh kan, Lisa jadi marah sama gue," ucap Sendra.


"Resiko lo lah, salah sendiri gak bisa ngalahin gue pas main PS kemarin," balas Gibran tak mau disalahkan.


"****** lo, Ndra! Bentar lagi, lo pasti putus dari Lisa," timpal Galang.


"Stok pacar gue banyak! Hilang satu tumbuh seribu," ucap Sendra.


"Cowok murahan," ucap Jasen, singkat tapi menusuk.


Revon berkata bijak "Jaga apa yang lo punya sekarang. Lo gak tahu betapa banyaknya orang yang pengen milikin kepunyaan lo, Ndra."


"Iya juga ya, Rev. Susulin, ah." Sendra berlari keluar dari kelas untuk menyusul Lisa.


Sendra berlari menuruni anak tangga. Lisa adalah adik kelasnya, tepatnya kelas XI IPA 4. Sampai di lantai dua, Sendra mendapati Lisa sedang menangis di balkon depan kelasnya.


Sendra menyentuh bahu Lisa, "Maafin aku."


Lisa terlonjak kaget. Ia membalikkan badannya menghadap Sendra. Lisa sengaja tidak masuk ke kelas, padahal ada guru pengajar dan untungnya kelas Sendra sedang kosong.


Sendra mengusap air mata di pipi Lisa dengan punggung tangannya. "Maafin aku ya," ucapnya lagi.


Lisa mengangguk, ia melihat ada perasaan bersalah dari manik mata Sendra.


"Aku cuma ngejalanin tantangannya Gibran. Mana mau aku sama Meli, jelek, dekil, item, mana gigi-giginya keropos item lagi. Meli gak ada apa-apanya dibanding kamu, honey."

__ADS_1


__ADS_2