- J A S E N -

- J A S E N -
Bab 16


__ADS_3

"Mau ke mana lo, Kak?" Elang melompat ke atas kasur Regita dengan toples berisi kacang di tangannya.


"Elang lak-nat! Kacangnya banyak yang jatoh, pungut nggak!!" bentak Regita. Ia meletakkan lip blam yang sudah selesai ia pakai.


Elang melirik kacang-kacang yang berserakan di atas kasur Regita. Melirik doang, kemudian kembali menyumpalkan kacang ke dalam mulutnya.


"Pungut!!" bentak Regita lagi.


"Kalo gue nggak mau?" Elang menantang.


"Gue lindes lo pake traktor!"


Elang tak mengubris, ia masih saja santai sambil makan kacang. Bocah usia sembilan tahun tersebut tidak menyadari jika Regita tengah marah. Regita paling tidak suka kalau kamarnya kotor dan berantakan.


Pluk


"Sakit anji*g!" pekik Elang mengusap-usap kepalanya. Regita baru saja mendaratkan botol kaca berisi parfum. Pasti sakit.


"Biar ilang tuh songong lo," ucap Regita puas. Regita kok dilawan?


Elang mengambil parfum Regita dan langsung melemparkannya ke lantai. Alhasil, parfumnya pecah hingga semerbak baunya memenuhi kamar Regita.


"Elang biadab!" teriak Regita menghampiri parfumnya yang sudah pecah. "Ini parfum mahal!"


"Ini parfum mahal. Tiga loli parfum setara dengan segelas susu," ucap Elang meniru gaya bicara di iklan permen nikita.


"Kurang ajar banget sih, lo?!" bentak Regita.


"Kiring ijir bingit sih li." Elang menye-menye.


"Adek gak guna, mati aja sana!" Regita mendorong bahu Elang hingga bocah itu terjungkal ke belakang.


"Idik gik gini, miti iji sini!"


"Anji*g!"

__ADS_1


"Mamiiii ... Kak Gita ngatain aku anji*g!" teriak Elang dengan suara sekeras yang ia bisa.


"Regita, jangan kayak gitu sama Elang!" Armita balas berteriak dari kamarnya.


"Ambilin pisau dapur sana, El. Gue mau bunuh lo!" Regita menatap Elang dengan tajam.


"Mamiiii ... Kak Gita katanya mau bunuh aku!" Elang kembali mengadu sambil berteriak.


"REGITA!"


Pintu kamar Regita terbuka, menampilkan sosok Armita dan Agas. Orang tua pemilik kedua anak itu berkacak pinggang. Mereka kompak menatap Regita dengan melotot tajam.


"Apa melotot kayak gitu?" tanya Regita tanpa sopan santun pada kedua orang tuanya.


"Mulutnya ... jadi pengin Papi tabok pakek raket nyamuk!" ucap Agas.


"Kamu diapain sama Regita, El?" tanya Armita seraya menghampiri Elang.


"Elang habis aku perkosa, tuh kasurnya berantakan," jawab Regita.


"Abisnya aku kesel, liat tuh parfum aku sampe pecah gitu." Regita menunjuk parfumnya yang pecah, lalu memajukan bibirnya.


"Berapa harga parfumnya, hm? Sepuluh juta? Tiga puluh juta?" tanya Agas.


Regita tersenyum senang. 'Minta ganti yang lebih mahal, ah. Yang pecah itu kan cuma tiga juta,' batinnya.


"Lima belas juta, Pi. Papi mau beliin lagi?"


Agas mengerutkan kening hingga kedua alisnya menyatu. "Siapa yang mau beliin? Papi cuma nanya doang."


Elang tertawa terbahak-bahak. "****** lo, Kak," ejeknya.


Regita melotot ke arah Elang. "Bac*t! Beliin gue parfum baru!" bentak Regita.


"Lo mau pake parfum apa nggak, sama aja. Sama-sama bau kambing!"

__ADS_1


"Elang!" Armita mencubit paha Elang hingga si empunya meringis kesakitan.


Agas menatap Regita yang terlihat begitu cantik malam ini. Anak gadisnya itu memakai dress berwarna dusty pink dengan sedikit corak berwarna merah. Rambut pirang sepunggungnya digerai cantik. Tak lupa juga Regita mengoles sedikit make up ke wajahnya.


"Anak Papi mau kemana? Cantik banget," tanya Agas dilengkapi pujian.


"Oh, aku masih anak Papi?" ketus Regita.


"Jangan ngembek dong, sayang. Nanti Mami beliin kamu parfum baru," bujuk Agas.


"Loh? Kok Mami sih?" tanya Armita.


Agas tersenyum ke arah Armita, lalu mengedipkan matanya. "Iya kan, Mi? Nanti Mami bakal beliin Regita parfum kan?" tanya Agas dengan nada manja.


Armita melotot. "Nggak! Malam ini Papi tidur di teras!" tegas Armita.


Agas mendengus, pasrah. Sudah biasa di suruh tidur di teras rumah. Pengusaha kaya yang mendadak keliatan kayak gembel.


"Rasain tuh, siapa suruh pelit sama anak sendiri? Kaya tapi pelit!" ucap Regita puas melihat Papinya ternistakan.


"Gak ada uang jajan selama sebulan!" ucap Agas yang langsung dibalas pelototan oleh Regita.


"Tenang, Re. Mami yang bakal kasih kamu uang jajan," bela Armita.


Regita berlari ke arah Armita, lalu memeluknya dengan erat. Kemudian Regita memeletkan lidahnya pada Agas, merasa menang.


"Uang saku aku ditambahin juga kan, Mi?" tanya Elang.


Armita mengangguk. "Iya, nanti kita bobol brankas Papi. Kita colong semua duitnya," ucap Armita sambil tersenyum licik.


"Tau ah, sebel!" Agas menghentak-hentakan kakinya dengan kesal sambil keluar dari kamar Regita.


Setelah kepergian Agas, ketiga orang itu tertawa terbahak-bahak. Puas banget ngerjain Agas.


"Kamu mau kemana, Re?" tanya Armita.

__ADS_1


__ADS_2