- J A S E N -

- J A S E N -
Bab 5


__ADS_3

"Pilih mana?" tanya Bu Aning sebelum Regita membantah lagi.


Regita terdiam sejenak dan berpikir. Kalau keliling halaman upacara sepuluh kali, apa dia kuat? Kalau perkenalan di seluruh kelas XII, bisa rusak reputasinya. Semua kakak kelasnya akan tahu kalau seorang Regita Queenelyn Agrakari sering telat ke sekolah. Tapi, suer deh, Regita gak sering telat. Cuma hari ini aja.


"Perkenalan ke kelas XII aja deh, Bu. Mana kuat kalo saya disuruh lari-larian sepuluh putaran," jawab Regita.


Bu Aning mengangguk-angguk. "Ayo!"


"Bu, Bu, tunggu!" cegah Biana.


Bu Aning yang sudah hampir sampai di ambang pintu membalikkan badannya, menatap Biana dengan tajam dan seolah bertanya 'ada apa?'.


"Saya ikut. Atau biar saya aja yang nemenin Regita," ucap Biana dengan cengiran khasnya.


Guru itu berpikir sejenak, lalu menjawab, "Oke. Tapi, apa kamu bisa dipercaya?"


"Trust me, saya bakal ngawasin Regita dalam penyelesaian hukumannya." Ucapan Biana terdengar menyakinkan di telinga Bu Aning.


"Ya sudah, saya percaya pada kamu. Lagipula saya juga harus menjelaskan materi hari ini." Bu Aning berjalan kembali ke meja guru.


"Saya ikut Regita juga dong, Bu!" seru Leuren sambil mengangkat tangan kanannya.


"Ngapain kamu ikut-ikutan?" tanya Bu Aning memicingkan matanya menatap Leuren.


"Sebagai best friends sejati, saya harus selalu bersama Biana dan Regita dalam kondisi apa pun. Saat bahagia, berduka, gembira, berbunga-bunga, jatuh cinta, terlu..."

__ADS_1


"Iya sana, terserah kamu!" Bu Aning memijit pelipisnya, puyeng.


"Thanks you so much, Bu. Lopyu lopyu muahhh!" Leuren melemparkan kiss bye pada Bu Aning seraya menghampiri Biana dan Regita.


"Ih jijik! Kalo gue jadi Bu Aning, muntah darah sehari semalem karena abis dikasih kiss bye sama Leuren," celetuk Reon yang duduk di bangku paling belakang.


"Iri bilang bos!" balas Leuren.


Regita, Biana, dan Leuren keluar dari kelas. Tiga bersahabat itu menaiki tangga ke lantai tiga, dimana kelas-kelas XII berada.


SMA Pancasila merupakan sekolah favorit di Jakarta. Sekolahnya luas pake banget. Ada lapangan sepak bola, lapangan voly, sampai kolam renang juga ada di bagian paling belakang di sekolah itu.


"Seriusan kita mau ke kelas XII?" tanya Regita nampak ragu.


"Loh sekarepmu lah, gue mah ngikut aja," ucap Leuren santai. Namanya memang terdengar modern, namun kalian harus tahu nama lengkapnya. Leuren Tukiyem Pustri, 100% berdarah Jawa dan belum lama tinggal di Ibukota. Bahasanya juga kadang dicampur-campur antara ngapak dan Bahasa Indonesia.


"Ngikut-ngikut piwe? Ko sing tanggung jawab, Bi!" ucap Leuren dengan nada kesal.


Biana menoyor kepala Leuren hingga oleng ke samping. "Biasa aja dong, gak usah pake ngegas!"


Mereka bertiga sampai di depan pintu kelas XII IPA 1. Ketiganya mematung dan ragu untuk mengetuk pintu kelas tersebut.


"Bisa rusak reputasi gue kalo harus jalanin hukuman ini," gumam Regita.


"Emang reputasi lo bagus?" sindir Biana.

__ADS_1


"Yang pasti, gue lebih famous daripada lo!" balas Regita.


"Tol*l" timpal Leuren.


Kemudian hening. Mereka tidak ada yang berani masuk ke dalam kelas itu, bahkan mengetuk pintu pun tidak berani. Dasar pengecut, ya.


Biana tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi. "Gue punya ide!" serunya.


Regita dan Leuren menatap sahabatnya dengan tatapan bertanya.


Biana melangkahkan kaki semakin dekat dengan pintu kelas XII IPA 1. Ia tersenyum kemudian mengetuk pintu tiga kali.


Tok tok tok...


Biana membuka pintu dengan perlahan. Ia berdiri di ambang pintu dengan senyum yang masih tercetak manis di bibirnya.


"Permisi, Pak Erdi," ucap Biana ramah.


Pak Erdi, guru yang tengah mengisi kelas itu memicingkan matanya. Guru botak itu memilin-milin kumisnya yang panjang.


"Ada apa?" tanya Pak Erdi.


Biana melangkah masuk ke dalam kelas, diikuti Regita dan Leuren di belakangnya. Semua pasang mata milik para murid di kelas itu menatap mereka.


"Boleh minta waktunya sebentar, Pak?" tanya Biana.

__ADS_1


"Boleh, sebentar saja. Jangan lama-lama," jawab Pak Erdi.


__ADS_2