
Jasen memimpin keluar markas. Ia tak membawa senjata apa pun. Ini salah Sendra yang menyulut emosi Anggara lebih dulu. Semoga bisa diselesaikan secara kekeluargaan, apalagi Geng Alexus bersahabat dengan Geng Zolvenior.
Jasen dan Anggara berhadap-hadapan. Anggara menatap tajam, namun Jasen membalas dengan tatapan datar.
"Mulai sekarang, geng kita nggak sahabatan lagi!" tegas Anggara.
"Nggak usah kayak anak kecil, Ra. Ini bukan masalah besar," ucap Jasen datar.
Anggara tertawa miris. "Bukan masalah besar?" tanyanya. "Sendra udah nyakitin adik gue. Lisa sejak tadi siang nangis, nggak mau makan. Itu semua gara-gara temen brengs*k lo!"
"Dia cuma patah hati, nanti juga sembuh," ucap Sendra enteng.
"Cuma? Cuma patah hati lo bilang? Dia tuh sayang banget sama lo, Ndra. Gue tahu itu!" Anggara semakin menampakkan kilatan emosi di matanya.
"Udah udah," ucap Jasen menengahi. "Sekarang mau lo apa?" tanya Jasen.
Anggara menunjuk Sendra dengan jari telunjuknya. "Dia balikan sama adik gue, Lisa."
Sendra mendecih. Balikan? Nggak ada kata balikan di dalam kamus hidup Sendra. Seakan cewek di dunia ini cuma ada Lisa sampai-sampai ia harus balikan. Toh Sendra juga sudah jadian dengan Retta kan?
"Nggak!" tolak Sendra tegas sambil memelototkan matanya pada Anggara.
Bugh!
Sendra kembali mendapat bogeman nikmat dari Anggara di rahang bawahnya.
Gibran yang tidak terima langsung mendorong kedua bahu Anggara. "Gak udah pake mukul lagi dong! Gak liat muka Sendra udah babak belur begitu?!" ucap Gibran kalap.
"Tau tuh! santuy, bro!" timpal Galang.
"Dia udah keterlaluan sama Lisa, bangs*t! Lisa itu baru pertama kali pacaran dan dengan seenak jidat Sendra permainin Lisa!" ucap Anggara meluapkan semua emosi.
Galang menepuk-nepuk jidatnya dengan telapak tangan. "Nih jidat!" celetuknya.
"Apaan sih, Lang? Gak mutu banget," ucap Pradit mengomentari kelakuan Galang.
Jasen bersuara lagi, "Cinta gak bisa dipaksa, Ra. Lo denger sendiri kalo Sendra gak mau balikan sama Lisa."
__ADS_1
"Lagian Sendra tuh bukan cowok baik-baik. Seharusnya lo itu jangan biarin Lisa berhubungan lagi sama Sendra, bukan malah nyuruh balikan," timpal Revon.
"Luisa sama gue aja, kuy! Gue anaknya baik, alim, 24434-nya gak pernah bolong! Dan yang paling penting, gue siap jadi adik ipar lo," ucap Galang.
Pradit menginjak kaki Galang. "Mending lo gak usah ikut ngomong deh! Gue jijik denger suara lo!"
Anggara membalikkan badannya. Ia mengangkat tangan kanan, memberi isyarat pada anggota gengnya untuk meninggalkan tempat itu.
Oke, masalah selesai. Mungkin.
***
"Good morning, Pradit." Seorang gadis mendekati meja Pradit. Ia membawa kotak bekal berisi nasi goreng.
"Morning too, Andria." Bukan pradit yang membalas sapaan, tapi Galang.
Andria duduk di sebuah bangku kosong. Berdekatan dengan Pradit yang duduk di atas meja.
"Ngapain lo ke sini? Pagi-pagi udah bikin mood gue ancur!" ucap Pradit ketus.
"Jangan gitu lah, Dit. Kasian anak orang, ntar nangis." Gibran menasehati.
"Iya, emang anak orang, yang bilang Andria anak siluman siapa?" ucap Gibran.
"Ngomongin apa sih lo berdua? Gak jelas!" Jasen ikut kesal mendengar ocehan tak bermutu dari Sendra dan Gibran.
"Aku bawain kamu nasi goreng, Dit," ucap Andria. Ia membuka kotak bekalnya dengan senyum mengembang.
"Terus gue harus bilang wow gitu?" tanya Pradit.
"WOW!" ucap Gibran, Galang, Sendra, Revon bersamaan. Bahkan Jasen juga ikut-ikutan.
"Ada telor mata kambingnya juga, wahhhh!" ucap Galang sambil memegangi kedua pipinya. Matanya berbinar melihat telur mata sapi di atas nasi goreng itu. Norak!
"Bukan mata kambing, Lang. Tapi mata kerbau," ucap Revon.
"Bukan mata kerbau, Rev. Tapi mata onta," ucap Sendra.
__ADS_1
"Bukan mata onta, Ndra. Tapi mata ubur-ubur," ucap Gibran.
"Ubur-ubur punya mata?" tanya Galang.
"Kalo gak punya mata, dia jalan bisa nabrak-nabrak ikan paus, gobl*k!" jawab Gibran.
"Lo yang gobl*k, Bran. Ubur-ubur gak bisa jalan!" sahut Jasen.
"Ubur-ubur bisa terbang?" tanya Gibran.
"Nggak, bisanya ngesot!" jawab Galang.
Lah malah bahas ubur-ubur?
"Bodo ah!" ucap Gibran pusing sendiri. "Andria, mau dong disuapin," pintanya dengan menampilkan puppy eyes.
"Hih ogah! Ini spesial buat Pradit!" tolak Andria cepat.
"Gue gak mau," ucap Pradit ketus.
"Ya udah deh, aku gak mau maksa. Aku taruh di sini ya, dah." Andria meletakkan kotak bekal di atas meja yang Pradit duduki, lalu melenggang keluar dari kelas tersebut. Kelasnya ada di sebelah.
Semua yang ada di situ saling melirik-lirik kotak bekal berisi nasi goreng dan telur mata sapi itu.
"Buat gue!"
"Gue!"
"Eh monyet, lo udah sarapan tadi!"
"Gue belum kenyang, lutung!"
"Buat gue aja sini!"
Pradit merebut kotak bekal yang sedang diperebutkan itu. "Andria ngasih ini buat gue!" ucapnya.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Masih ada yang nungguin cerita Jasen gak? Kalau masih ada Author ucapkan Terimakasih ya😊.
Jangan lupa untuk dukung author dengan like, komen, rate 5 + vote ya....