
"Sadis amat kata-kata lo, Dit," timpal Revon.
"Biarin lah, yang penting Andria udah tau perasaan gue ke dia. Mau nangis atau enggak, bodo amat." Pradit mematikan ponselnya, jaga-jaga jika Andria menelepon lagi.
"Lama-lama lo jadi kayak Jasen, ya," ucap Sendra.
"Jangan bawa-bawa gue!" bentak Jasen.
"Jahat lo, Dit. Sumpah. Nggak nyangka gue, lo bisa sejahat itu. Kalo lo gak suka sama Andria, cukup cuekin aja, jangan kasih dia kata-kata kayak gitu," ucap Gibran.
"Gue salah ya?" tanya Pradit menunjuk wajahnya dengan jari telunjuk.
"IYA!" jawab Revon, Sendra, Galang, dan Gibran bersamaan. Jasen mah sibuk sama game onlinenya.
Gibran menarik baju Sendra. "Main PS, kuy!" ajaknya.
"Kuy lah, paling lo yang kalah!" sambut Sendra.
"Bac*t, yang ada lo yang bakal kalah!" balas Gibran tak terima.
"Berani taruhan?" tantang Sendra.
Gibran menunjukkan senyum smirk-nya. "Siapa takut," ucapnya.
"Yang kalah, harus traktir kita semua di warung Mang Wedi selama seminggu," ucap Sendra.
"Kurang seru, ah! Masa cuma traktiran, kayak orang miskin aja," kata Galang. "Yang kalah, harus bacain puisi buat Meli di depan anak-anak sekelas," lanjut Galang asal.
"Deal!" balas Gibran dan Sendra kompak.
Gibran dan Sendra berpindah posisi. Mereka bersiap untuk memainkan PS di ruang keluarga yang luas itu. Sesekali, dua lelaki itu menghisap rokok di tangan masing-masing.
***
"Hey bro, seru tuh main ML. Mabar, yuk!"
Jasen mengusap-usap bahunya yang baru saja disentuh oleh seseorang. Ia duduk di samping Jasen sambil melihat layar ponsel Jasen.
"Sok kenal," ketus Jasen.
__ADS_1
Revon, Sendra, Galang, dan Gibran menatap ke arah cowok glowing yang duduk di samping Jasen.
"Ngeliatinnya biasa aja kali. Jadi pengin nyolok mata kalian, deh," ucap cowok itu.
Revon beralih menatap Pradit. "Siapa tuh? Songong amat."
"Nggak tahu juga," jawab Pradit. "Siapa sih lo?"
"Abang mah gitu, suka lupa sama adek sendiri," ucap cowok itu sambil mengerucutkan bibirnya dan melipat lengannya di depan dada.
"Lo masih nganggep gue Abang, hah? Pulang dari London aja gue gak dikasih oleh-oleh," ucap Pradit.
"Adik lo?" tanya Sendra cengo.
"Sebenernya gue gak mau ngakuin, tapi mau gimana lagi," ucap Pradit pasrah.
Cowok itu berdiri, lalu menepuk dada kanannya. "Kenalin, gue Praspa Renovendra. Adik tersayangnya Pradit," ucap Praspa mengenalkan diri.
Pradit sontak memegangi perut dan membekap mulutnya sendiri. "Gue pengin muntah," ucapnya seraya berlari ke kamar mandi.
"Lebay," ucap Jasen.
"Lo beneran adiknya?" tanya Galang.
"Kok selama ini gak pernah keliatan? Atau jangan-jangan lo anak ... pungut?" tuduh Sendra.
"Heh, sekate-kate lo kalo ngomong. Praspa sekolah di luar negeri, dan dia baru pindah ke Indonesia," ucap Radin--Papa Pradit yang tiba-tiba muncul.
"Eh, om," ucap Sendra sambil tersenyum kikuk.
"Nggak usah sok sopan deh, gak pantes." Radin mendudukkan pantatnya di samping Revon. "Mau dong ikut main PS," ucap Radin sambil menatap Gibran dan Sendra yang belum juga usai.
"Papi gak usah ganggu deh, udah tua juga," celetuk Pradit yang muncul kembali dari kamar mandi.
"Eh, tuh mulut mau gue robek pake gunting, pisau, atau gergaji, hah?" tanya Radin berkacak pinggang menatap Pradit.
"Santuy, bos. Bercanda." Pradit nyengir, Radin serem kalo udah marah.
'Andai keluarga gue kayak gini,' batin Jasen.
__ADS_1
'****, gini amat ya bokapnya Pradit? Lebih somplak dari gue,' batin Galang.
***
Regita duduk di bangkunya, hari ini ia berangkat cukup pagi. Namun, lebih pagi Biana dan Leuren.
"Ada PR ya?" Regita mengedarkan pandangannya ke seisi kelas. Semuanya sibuk dengan buku masing-masing, kecuali Leuren.
"Ada, tuh punya gue lagi disalin sama Biana," jawab Leuren. "Lo mau nyontek juga?"
Regita mengangguk. "Mau, sini." Regita menarik buku tulis Leuren di meja Biana, namun tangannya langsung di tampol oleh gadis itu.
"Enak aja! Gue belum selesai, kutil!" ucap Biana.
"Santai aja, dong!" ucap Regita.
"Tapi nggak gratis ya Re, kalo lo mau nyontek." Leuren mengedipkan matanya ke arah Regita.
"Hih, perhitungan banget lo jadi temen." Regita mengeluarkan satu-satunya buku tulis di dalam tasnya dan sebuah bolpoin. "Minta bayaran berapa?" tanya Regita.
"Nggak mahal-mahal."
"Lima puluh ribu?"
"Bukan."
"Seratus ribu?"
"Bukan."
"Lima ratus ribu?"
"Bukan."
"Sepuluh ribu?"
"Deal!"
Regita menoyor kepala Leuren, pinter masalah pelajaran doang. Lalu ia mengeluarkan dua lembar uang sepuluh ribuan dari sakunya dan memberikannya pada Leuren.
__ADS_1
"Gue kasih dua puluh. Tapi, sekalian lo salinin ke buku gue," ucap Regita memberi perintah.
"Siap, Bu Bos!" sahut Leuren memberi hormat.