
"Papa? Kok kalian ada di sini?" tanya Jasen dengan keterkejutannya.
"Habis dari mana kamu malam-malam begini?" tanya Gian--Papa Jasen.
Gian menatap Jasen dengan tajam. Terlihat kilatan emosi di mata pria itu.
"Kenapa sih, anak cowok emang gini lah!" ketus Jasen. Ia sangat merasa tak suka dikekang oleh orang tuanya seperti ini. Seolah ia masih anak kecil yang harus diawasi.
"Habis tawuran lagi, hah?!" bentak Gian.
Aletta--Mama tiri Jasen menyentuh sudut bibir Gian yang lebam membiru. "Ini kenapa, sayang?" tanya Aletta lembut.
Jasen menepis tangan Aletta yang menyentuhnya dengan kasar. "Nggak usah sok perhatian, deh!" ucap Jasen.
"Jasen! Yang sopan sama Mama kamu!" bentak Gian lagi, ia semakin emosi karena sikap Jasen.
"Dia. bukan. Mama. aku!" ucap Jasen penuh penekanan di setiap kata.
"JASEN!"
"Mas, udah ..." lirih Aletta sambil mengusap bahu Gian.
"Sekali lagi Papa tahu kalau kamu ikut tawuran, kamu bakal Pap..."
"Apa? Bakal Papa apain, hah?" tanya Jasen memotong ucapan Gian dengan songongnya. "Urusin aja tuh istri sama anak baru Papa, gak usah ngurusin aku. Gak penting!"
Jasen melengos menuju ke kamar mandi untuk mengganti baju. Ia membanting pintu kamar mandi hingga mengeluarkan suara yang cukup keras.
"JASEN! Papa belum selesai ngomong sama kamu!" panggil Gian.
__ADS_1
"Udah, Mas. Kita tidur aja, yuk!" ajak Aletta menarik lengan Gian untuk keluar dari kamar anak tirinya itu.
***
Regita berlari di koridor lantai dua menuju ke kelasnya. Sekolah sudah sepi, pasalnya bel masuk kelas sudah berbunyi sedari tadi. Untung saja peraturan di sekolah ini tidak terlalu ketat. Satpam penjaga gerbang juga tidak keberatan jika ada siswa yang terlambat.
Tok tok tok.
"Permisi." Regita mengetuk pintu kelasnya yang terbuka, membuat guru di dalam sana menatap kehadirannya.
"Masuk." Guru itu tak acuh, ia tetap melanjutkan menulis materi di papan tulis.
Regita segera masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya. Ia duduk semeja dengan Biana.
"What time is it?! Lo kemana aja, anj*r? Jam segini baru nongol!" Biana berbisik pelan pada Regita. Biana adalah sahabat Regita.
"Gue bangun kesiangan, semalem tidur gue kurang," balas Regita juga berbisik.
"Siapa yang suruh kamu duduk?" tanya Bu Aning sambil menatap Regita dengan tajam.
"Loh tadi kan ..." ucapan Regita menggantung, dasar guru gak jelas.
"Kan saya cuma nyuruh kamu masuk, bukan duduk!"
Regita berdiri. "Terus mau Ibu apa?"
"Kamu nantangin saya?!" bentak Bu Aning.
'Dasar guru gendeng! Perasaan gue nanyanya biasa aja, kenapa malah dikatain nantangin?'
__ADS_1
"Saya bertanya, Bu."
"Keliling halaman upacara sepuluh kali atau perkenalan di seluruh kelas XII?" tanya Bu Aning memberi dua pilihan.
"Saya pil.."
"Selamat pagi, Bu." Ucapan Regita terpotong karena kedatangan seseorang yang kini berdiri di ambang pintu.
"pagi."
"Maaf Bu, saya telat." Ando yang merupakan ketua kelas itu masuk ke dalam kelas dan menyalami tangan Bu Aning.
"Duduk." Ando mengangguk dan duduk di bangkunya dengan rapi.
Regita mengerutkan keningnya. "Kok Ando di bolehin duduk?" bingungnya.
"Kan Ando ketua kelas," jawab Bu Aning enteng.
"Seharusnya dia dihukum juga, Bu. Ketua kelas kan harus memberi contoh yang baik, bukan malah telat."
"Ando ketua kelas, dia punya banyak jasa di kelas ini. Ando setiap hari ngurusin kalian, yang piket lah, panggil guru ke ruang guru lah, ini lah, itu lah. Jadi Ando layak dimaafkan." Bu Aning menatap ke arah Ando dan tersenyum.
Ini gak adil!
"Tapi kan..."
"Pilih mana?" tanya Bu Aning sebelum Regita membantah lagi.
Jangan lupa like, komen, rate 5, dan vote ya + klik tombol favorit😉
__ADS_1
Follow Ig Author : @Chell6104