
"Nggak, kita gak jadi ikut kalian ke kantin," ucap Biana.
"Bagus deh," ketus Jasen.
"Iya, bagus. Gak sudi juga gue ke kantin bareng lo, cowok gak punya hati!" ucap Biana penuh penusukan sambil menatap Jasen dengan tajam.
"Maksud lo apa, hah?!" bentak Jasen tepat di depan wajah Biana.
"Bukan cuma gak punya hati, ternyata lo gobl*k dan gak sadar diri juga, ya? Gue heran deh, kenapa Regita mau sama cowok kayak lo," balas Biana santai.
"Udah, Sen. Jangan ribut gini, dong!" ucap Pradit pada Jasen.
Leuren menepuk-nepuk pelan bahu Biana, menenangkan Biana yang selalu saja adu mulut ketika bertemu Jasen. Biana memang kentara sekali kalau ia membenci Jasen, tepatnya membenci karena perlakuan Jasen kepada Regita.
"Kita ke kelas aja, yuk!" ajak Leuren pada Biana dan Regita.
"Ayo, mata gue sakit kalau lama-lama ngeliat cowok gak punya hati ini!" ketus Biana.
"Udah, Bi!" ucap Regita.
Akhirnya, ketiga gadis itu kembali ke kelasnya.
***
"Aduh, ini kenapa anak-anak ribut begini?!" teriak Mbak Ike dengan panik.
Mbak Ike mengarahkan pandangannya pada gerombolan murid di depan kantinnya. Gerombolan itu didominasi oleh murid kelas XII. Namun, ada juga murid kelas X dan XI. Rupanya kabar menu baru dan gratisan itu sudah menyebar seantero sekolah.
"Mbak Ike, gue pesen sate melilit!"
"Keluarin menu barunya, Mbak!"
__ADS_1
"Mana nih pesenan gue!"
"Seblak sadis satu porsi, Mbak!"
"Jangan diem aja dong, Mbak Ike!
Mbak Ike bingung bukan main. Kenapa banyak yang menanyai tentang menu baru? Kemudian, wanita itu mengambil panci dan sebuah sendok.
Dung dung dung dung
Hening, semuanya diam ketika Mbak Ike memukul-mukul panci dengan sendok.
"Gak ada menu baru, apalagi gratisan! Kalian dikasih tahu siapa? Mbak Ike gak ngeluarin menu baru, apalagi sampai ngasih gratisan!" ucap Mbak Ike tegas bercampur kesal.
"Anjin*! Kita kena tipu!"
***
Regita, Biana, dan Leuren duduk di bangku mereka masing-masing. Lapar? pastinya. Tapi mereka tidak bisa ke kantin, bisa dikeroyok habis-habisan sama anak kelas XII karena Biana sudah menipu mereka.
"Banget. Gara-gara lo, Bi," timpal Regita menyalahkan. "Ke kantin aja yuk, lah!" ajak Regita kemudian.
"Gila lo! Gimana kalo kita malah dikeroyok sama anak kelas XII?!" balas Biana.
Leuren mengerucutkan bibirnya. "Laper banget, Bi."
"Ke warung Mang Wedi aja, yuk!" ajak Biana sekaligus memberi solusi.
"Kalo itu gue setuju pake banget! Gas kuy!" Regita berdiri dari duduknya dengan semangat yang membara.
"Ngapain lo semangat gitu? Jasen sama temen-temennya kan lagi di kantin," ucap Leuren.
__ADS_1
"Kali aja Jasen udah ke warung Mang Wedi," ucap Regita.
Ketiga gadis itu melangkahkan kakinya menuju ke warung Mang Wedi. Warung kopi itu terletak di belakang sekolah, melewati gerbang belakang. Tempat itu biasa dijadikan tempat tongkrongan anak Geng Zolvenior.
Dari jarak kurang lebih sepuluh meter, mereka bertiga menghentikan langkah. Mengamati keadaan warung Mang Wedi dari jauh.
"Rame banget, anji*!" celetuk Biana.
"Lah kepriwe maning? Gue udah laper banget, nih."
Regita mengaitkan kedua lengannya ke lengan-lengan sahabatnya. "Nggak papa, selow aja. Gue pacarnya ketua geng, gak ada yang berani macem-macem sama kita!" ucap Regita seraya menarik lengan kedua sahabatnya menuju ke warung tersebut.
"Leuren sayang, tumben nyamperin gue ke sini," sambut Galang di ambang pintu warung sambil merangkul Leuren.
Leuren otomatis menyingkirkan lengan Galang di bahunya. "Apaan, sih. Gue ke sini mau makan, bukan buat nyamperin lo!" ketus Leuren.
Gadis-gadis itu memilih tempat duduk semeja dengan anggota inti Zolvenior. Namun, tidak ada Jasen di sana. Kemudian mereka memesan makanan masing-masing.
"Jasen kemana?" tanya Regita.
"Masih di sekolah," jawab Revon.
"Bentar lagi juga ke sini," timpal Sendra.
Tak lama kemudian, Jasen melangkah masuk ke dalam warung. Ia tidak sendiri, melainkan bersama Zellyn. Cewek centil itu mengandeng lengan Jasen sambil sesekali menyenderkan kepalanya ke bahu Jasen.
Melihat pemandangan itu, Regita lantas berdiri dan melangkah mendekat. Regita mendorong bahu Zellyn hingga gadis itu tersentak mundur ke belakang. Regita menatap Zellyn dengan tajam, matanya penuh dengan api.
"Bakal seru nih," ucap Sendra sambil bersiap-siap melihat adegan yang akan terjadi.
"Tontonan gratis, lumayan," timpal Pradit.
__ADS_1
"MAKSUD LO APA, HAH?! Pake dorong-dorong segala!" bentak Zellyn.
Bersambung...