- J A S E N -

- J A S E N -
Bab 3


__ADS_3

Jasen, selaku ketua berjalan paling depan hendak masuk ke markas. Wajahnya penuh lebam dan luka. Di belakang Jasen ada Revon, Galang, Sendra, dan Gibran yang merupakan pasukan inti. Pradit--wakil ketua juga berjalan bersama pasukan inti di belakang Jasen. Mereka semua luka-luka, namun wajahnya memancarkan kebahagiaan. Sudah dipastikan mereka menang dalam pertarungan melawan Galaksi.


"Ngapain lo di sini?" tanya Jasen ketus sambil menatap Regita dengan tajam.


"Ya mau nemenin abang Jas.." ucapan Galang terhenti ketika Sendra membekap mulutnya.


"Jijik ih, ileran!" Sendra mengelapkan telapak tangannya yang digunakan untuk membekap Galang, ia usap-usap ke jaket milik Gibran.


"Salah siapa main bekap-bekap gitu aja!" balas Galang.


"Salah siapa mulut lo asal bac*t! Jasen nanya ke Regita, bukan ke elo!" Sendra dan Galang langsung bungkam ketika mata Jovan melotot ke arah mereka.


"Ngapain?" tanya Jovan lagi.


"Aku khawatir sama kamu." Regita memegang lengan Jasen dan langsung ditepis dengan kasar.


"Udahlah, Bro. Biarin aja pacar lo nemenin di sini," ucap Pradit.


Jasen tak bersuara lagi. Ia masuk ke dalam markas diikuti anggota lainnya.


"Luka-luka kalian obatin, yang parah langsung ke rumah sakit aja, tagihannya kasih ke gue." Suara Jasen terdengar tegas di ruangan itu.


Mereka semua mulai mengobati luka dengan alkohol dan obat merah. Yang merasa lukanya cukup parah segera menuju ke rumah sakit seperti yang Jasen perintahkan tadi. Begitu juga dengan Regita yang berniat mengobati luka Jasen.


"Gue bisa sendiri," ketus Jasen ketika Regita hendak menempelkan kapas beralkohol ke lukanya.

__ADS_1


"Obatin babang Galang aja sini. Abang ikhlas lahir batin jasmani rohani," celetuk Galang sambil mengedip-edipkan matanya ke arah Regita.


"Lo cacingan, Lang?" tanya Sendra.


"Enak aja! Ganteng-ganteng gini cacingan!" Galang menoyor kepala Sendra. "Dasar anak ibl*s lo!"


"Udah cacingan, katarak pula. Sejak kapan muka pas-pasan lo bisa disebut ganteng?" ledek Gibran.


"Bener-bener anak ibl*s lo ya. Gue emang gak seganteng lo-lo pada, tapi gini-gini gue banyak yang naksir." Galang menepuk dadanya bangga.


"Hih, paling yang naksir mba-mba tukang gorengan di perempatan," timpal Pradit.


Para pasukan inti terus berceloteh, Regita hanya diam mengamati Jasen yang mengobati lukanya sendiri.


"Aku ambilin minum ya?" tawar Regita.


"Regita nawarin minum ke Jasen, gobl*k!" ucap Revon.


"Gak pa-papa, kok. Gue ambilin minum buat kalian semua ya." Regita berdiri, hendak menuju ke salah satu kulkas di dekat situ. Namun, Jasen menahan tangannya.


"Gak usah, mereka punya kaki sendiri. Mending lo pulang aja sekarang," ucap Jasen dingin.


"Lo apaan sih, Sen. Mau diambilin minum juga, malah dihalangin. Kampr** emang!" Pradit bersidekap dada, persis seperti cewek lagi ngambek.


"Regita bukan babu lo!" Jasen menatap Pradit tajam, cowok yang ditatap langsung menyiut nyalinya. "Lo pulang," ucap Jasen pada Regita.

__ADS_1


"Anterin lah, masa lo mau ngebiarin pacar lo pulang sendiri malem-malem gini?" ucap Sendra.


"Regita bawa motor sendiri. Lagian gue gak jemput atau pun nyuruh dia buat ke sini. Gak punya otak banget nyusul ke Jalan Flamboyan, nyari mati!" ketus Jasen terlihat kesal.


"Ma-maaf," lirih Regita.


"Gue anterin, boleh?" tanya Revon.


Jasen mengangguk. "Anterin aja."


Revon berdiri dengan semangat empat lima dan berjalan bersama Regita menuju motor masing-masing. Revon bukannya suka sama Regita, ia hanya kasihan melihat Regita diperlakukan seperti itu oleh Jasen yang notabene-nya adalah pacar sendiri. Lagian, Revon mana tega membiarkan cewek pulang sendiri malem-malem begini.


"Lo duluan aja, gue jaga di belakang lo." ucap Revon, sambil memakai helm full face-nya.


***


Jasen mendorong motor ninjanya mendekati rumah. Tujuannya agar tidak menimbulkan deru motor. Gerbang rumah mewahnya dibuka lebar-lebar, lalu ia memasukkan motornya ke garasi. Beruntung sekali karena rumah mewahnya itu tidak dijaga oleh satpam.


Lelaki itu mengambil ancang-ancang. Ia melompat dan tangannya mencengkeram sebuah besi, membuat tubuhnya menggantung di atas tanah. Lalu, Jasen mengayunkan badannya hingga tangannya berpindah mencengkeram pagar besi di balkon kamarnya. Terakhir, lelaki itu merayap naik hingga akhirnya mendarat di balkon kamarnya.


Jasen sengaja memilih kamar di lantai dua. Bisa ribet urusannya kalau kamarnya berada di lantai tiga atau empat. Jasen membuka pintu yang menghubungkan balkon dengan kamar tidurnya. Gelap, karena sebelum pergi Jasen mematikan lampu kamarnya. Tujuannya agar kedua orang tuanya mengira ia sudah tidur.


Lampu menyala ketika Jasen menekan saklar lampu, ia membalikkan badan hendak memunggungi dinding.


"Papa? Kok kalian ada di sini?" tanya Jasen dengan keterkejutannya.

__ADS_1


**HAPPY READING**


__ADS_2