- J A S E N -

- J A S E N -
Bab 17


__ADS_3

"Kamu mau kemana, Re?" tanya Armita. Sudah tiga orang menanyai Regita seperti itu, tapi ia belum sempat menjawab satu pun.


"Mau kencan dong, malam mingguan," jawab Regita dengan senyum pepsodent.


"Sama Leuren dan Biana?" tanya Armita lagi.


"Ya nggak lah! Sama pacar, jangan kayak orang jomblo dong," jawab Regita membanggakan dirinya.


"Lo punya pacar, Kak? Siapa yang mau sama nenek lampir kayak lo?" ejek Elang.


Regita menoyor kepala Elang hingga oleng dan menubruk badan Armita. "Lo gak tau aja ya. Di sekolah, gue primadonanya. Semua cowok bakal terpana ngeliat kecantikan gue," ucap Regita sambil mengibas-ibaskan rambutnya.


"Ya iyalah, anak Mami gitu loh. Cantik!" puji Armita sambil mencubit pelan hidung Regita.


Elang memutar bola matanya malas. "Yang bilang lo cantik, matanya upilan."


"IRI BILANG BOS!" ucap Regita dan Armita dengan kompak.


Regita melirik arloji hitam yang melingkar manis di pergelangan tangannya, sudah pukul setengah delapan.


"Regita pergi dulu, ya," pamit Regita seraya menyalami Armita dan mencium pipinya.


"Pulangnya beliin gue pizza!" pinta Elang.


"Jangan pizza, gue beliin lo *** goreng di peternakan ayamnya Pak Hadi," ucap Regita sambil mengusap rambut Elang.


"Boleh tuh, Kak. *** goreng kayaknya enak, gue belum pernah coba."


Regita menjambak keras rambut Elang sebelum keluar dari kamarnya.


"KAK GITA SIALAN!" maki Elang sambil berteriak, Regita menutup kedua telinganya sambil menuruni tangga. Teriakan Elang menggelegar.

__ADS_1


Sampai di anak tangga paling bawah, Regita membuka tangannya yang menggenggam sejak menjambak rambut Elang.


"Rontok, haha!" Regita tertawa puas melihat rontokan rambut Elang di telapak tangannya.


***


Sendra menyimpan sebungkus rokok yang baru saja dibelinya ke dalam saku celana. Ia bersiap memakai helm full face-nya dan ingin menuju ke markas utama. Seperti biasa, ia akan ikut kumpul bersama teman-temannya malam ini.


Bugh!


Sendra tersungkur ke tanah. Helm di tangannya terpental jauh. Rahang bawahnya langsung nyut-nyutan, ada yang menjotosnya.


Sendra memandang ke arah si penjotos. "Anggara?"


Anggara menatap Sendra dengan tajam. Sendra bisa melihat ada kilatan amarah di mata cowok itu. Di belakang Anggara, ada banyak anak-anak Geng Alexus, geng yang diketuai oleh Anggara sendiri.


"COWOK BRENGS*K!" maki Anggara.


Sendra mematung tak paham. Selama ini, Geng Zolvenior dan Geng Alexus bersahabat. Kenapa malam ini Anggara menjotos dan memakinya?


Bukannya langsung menjawab, Anggara menendang kencang perut Sendra.


"Uhukk ... uhuk." Sendra terbatuk, namun ia belum melakukan perlawanan apa pun. "Salah gue apa, Ra?!" bentak Sendra.


Bugh!


Sendra kembali tersungkur ke tanah ketika Anggara menjotos pelipisnya hingga robek. Anggara menjambak rambut Sendra, membuatnya mendongak.


"Lo udah nyakitin adek gue," ucap Anggara penuh penekanan.


Sendra terdiam, berpikir. Adik Anggara siapa? Sendra sudah terlalu sering nyakitin cewek, mana bisa ia ingat satu per satu.

__ADS_1


"Si-siapa?" tanya Sendra gemetar.


"Lisa," jawab Anggara singkat.


Sendra paham, ia tadi siang memang sudah menyakiti Lisa. Namun, ia baru tahu kalau Lisa adiknya Anggara.


Anggara mencengkeram kerah jaket Sendra untuk membuat Sendra bangkit. Kemudian, Anggara kembali menjotosi Sendra. Kali ini Sendra tidak tinggal diam. Ia menjotos hidung Anggara sampai mimisan.


Perkelahian antar dua cowok itu berlangsung cukup lama. Mereka beradu jotos sampai keduanya babak belur. Namun, Sendra lah yang paling parah. Ia sengaja tidak terlalu melawan. Kalau Sendra terlalu melawan dan Anggara kalah, anak Geng Alexus pasti akan langsung mengeroyoknya.


***


Regita melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah cafe. Beruntung ia ke sini naik taksi, jadi rambutnya tidak berantakan. Kalau bawa motor, kan gak epic. Dan semoga nanti Jasen mau mengantarkannya pulang. Aamiin!


Semua pasang mata di cafe itu menatap kehadiran Regita. Aura kecantikan gadis itu begitu kuat, sangat kuat. Siapa sih yang tidak jatuh cinta dengan Regita? Putih, mulus, langsing, iris matanya berwarna cokelat seperti Maminya. Jasen sangat beruntung bisa menjadi pacar seorang Regita. Sayangnya, dia malah menyia-nyiakannya.


"Nunggu lama, ya?" Regita duduk, sedangkan Jasen sudah menunggu di seberang mejanya.


"Nggak," jawab Jasen dingin.


"Kamu belum pesan makanan?"


"Menurut lo?"


"Belum."


"Udah tahu pake nanya."


Regita menghembuskan napasnya pelan-pelan, sabar.


☘️☘️☘️

__ADS_1


Hari ini up 2 eps ya😊, Jangan lupa untuk like, komen, rate 5 dan vote + klik tombol favorit supaya kalian tidak ketinggalan up selanjutnya.


Salam manis dari Author Chelsea😚❤️


__ADS_2