- J A S E N -

- J A S E N -
Bab 15


__ADS_3

"Iya juga ya, Rev. Susulin, ah." Sendra berlari keluar dari kelas untuk menusul Lisa


Sendra berlari menuruni anak tangga. Lisa adalah adik kelasnya, tepatnya kelas XI IPA 4. Sampai di lantai dua, Sendra mendapati Lisa sedang menangis di balkon depan kelasnya.


Lisa terlonjak kaget. Ia membalikkan badannya menghadap Sendra. Lisa sengaja tidak masuk ke kelas, padahal ada guru pengajar. Dan untungnya kelas Sendra sedang kosong.


Sendra mengusap air mata di pipi Lisa dengan punggung tangannya. "Maafin aku ya," ucapnya lagi.


Lisa mengangguk, ia melihat ada perasaan bersalah dari manik mata Sendra.


"Aku cuma ngejalanin tantangannya Gibran. Mana mau aku sama Meli, jelek, dekil, item, mana gigi-giginya keropos item lagi. Meli gak ada apa-apanya dibanding kamu, honey."


Lisabmenghapus seluruh sisa-sisa air matanya. Ia sudah bisa tersenyum sekarang.


"Iya, Kak. Maaf juga karena aku udah nampar Kakak."


"Nggak papa, aku udah biasa ditampar kayak gitu. Mau nampar lagi juga boleh, asal kamu bahagia."


Pipi Lisa seketika berubah warna menjadi merah merona, blushing. Ia memalingkan wajah dari Sendra agar pacarnya tak melihat wajahnya itu.


"Pipinya kok ijo?" tanya Sendra sambil terkekeh.

__ADS_1


"Kak Sendra buta warna ya?!" bentak Lisa kesal mendadak.


Sendra menangkup kedua pipi Lisa dengan kedua telapak tangannya. Ia menatap Lisa dalam-dalam.


"Jangan nangis lagi, ya. Jadi makin jelek."


Lisa sontak mencubit pinggang Sendra karena perkataannya barusan. Enak saja, Lisa cantik. Gak kalah cantik dari artis-artis korea yang body goals.


Sendra menarik Lisa ke dalam pelukannya. Liza tersenyum senang sambil menikmati aroma parfum khas playboy yang dipakai oleh Sendra.


"Aku sayang kamu, Sa," bisik Sendra di telinga Lisa hingga membuat Lisa merinding.


"Aku juga sayang Kak Sendra," balas Lisa malu-malu.


Lisa menatap Sendra tidak percaya. "Pu ... putus?" tanyanya dengan suara gemetar.


"Iya, putus. Pe upu te utu es, PUTUS!" ucap Sendra memperjelas ucapannya.


Sendra mengecup kening Lisa dengan singkat, gadis itu hanya mematung. "Dah, sayang." Lalu, Sendra segera melenggang pergi.


Bruk...

__ADS_1


Belum jauh meninggalkan Lisa, Sendra menabrak seorang gadis yang baru saja keluar kelas hingga tersungkur ke lantai.


"Eh, sorry cantik. Gue gak sengaja," ucap Sendra sambil membantu gadis itu berdiri.


"Nggak pa-pa, Kak Sendra," balas gadis itu.


Sendra melirik name tag gadis itu, Retta Aurora. Sendra memandangi gadis itu dari bawah sampai atas. Cantik, manis, mungil, imut-imut gimana gitu.


'Rejeki anak soleh, lebih cantik nih daripada Lisa. Heran gue, ciwi-ciwi SMA Pancasila cantik semua.'


"Retta Aurora, mau gak jadi pacar Kak Sendra?" tanya Sendra. Ia yakin 100% akan diterima. Meski playboy dan suka main cewek, aura kegantengan Sendra selalu membuat kaum hawa klepek-klepek.


"Hah? Serius kak?" tanya Retta dengan mata berbinar.


"Kamu pasti gak akan nolak kan?"


"Aku mau, Kak."


Sendra menyentuh dagu Retta, lalu tersenyum manis. "Nanti pulang bareng gue."


Lisa menatap adegan itu dengan perasaan tak karuan dari jauh. Ini pertama kalinya Lisa jatuh cinta dan berpacaran. Ia tak pernah main-main perihal cinta. Tapi apa? Sendra malah memainkannya. Lisa mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di samping roknya.

__ADS_1


Jangan lupa like,komen,rate 5 dan vote ya + klik tombol favorit😉❤️


__ADS_2