
"Nggak papa nyeker, yang penting bisa lari," ucapnya sembari melepas high heels sialan yang melekat di kakinya.
"Jangan lari lagi, woy!" teriak dua preman itu yang ternyata sudah lumayan dekat dengan Regita.
"Huaaa ... Mami, Papi, tolongin Gitaaaa!" pekik Regita kembali berlari sambil membawa high heels-nya.
Regita berlari sekuat tenaga, entah mengarah kemana. Yang penting lari, yang penting selamat dari kejaran dua preman itu. Tidak peduli kalau ia nyeker dan rambutnya acak-acakan bak orang gila.
Regita memperhatikan sekeliling, sepi dan entah dimana. "Malam Minggu kok sepi, sih? Nggak pada apel apa gimana? Nggak asik, nggak ada yang bisa dimintain tolong," gumam Regita.
Dengan kecepatan larinya yang mulai mengendor, tiba-tiba ada yang menarik tangannya.
"Aaa ... hmpttt," pekikan Regita terhenti ketika orang itu membekap mulutnya.
Seorang cowok. Ia menarik Regita masuk ke sebuah gang gelap, preman itu tak mungkin bisa melihat. Namun, dalam kegelapan itu, Regita bisa melihat manik mata si cowok. Mereka berdua beradu tatap sambil merasakan napas yang beradu. Regita bersandar di dinding dan cowok itu tepat di depannya. Tangannya membekap mulut Regita. Napasnya sampai terasa di dahi Regita, hangat.
Regita mendorong tubuh cowok itu agar menjauh darinya.
"Hust, diem!" bisik cowok itu. Ia keluar gang dan memeriksa keadaan di jalan yang tadi dilewati Regita.
"Aman?" tanya Regita dengan napas ngos-ngosan.
Cowok itu memberikan dua ibu jarinya. "Aman!"
Kemudian suasana menjadi canggung, mereka berdua sama-sama diam. Regita dan cowok itu keluar dari gang, berjalan santai menyusuri jalan, berdua saja.
"Lo ... Regita Queenelyn Agrakari, kan?" tanya cowok itu sambil mengamati wajah Regita.
Regita menghentikan langkahnya. "SMA Pancasila, ya?" Regita menanya balik.
Cowok itu mengangguk.
__ADS_1
"Pantesan ngenalin gue, gue kan cewek yang cukup famous di sekolah," ucap Regita dengan pedenya. "Tapi gue gak kenal lo," lanjutnya.
Cowok itu mengulurkan tangan kanannya. "Gue Landan Abieza, kelas XII IPS 1," Landan memperkenalkan diri.
Regita menepis uluran tangan Landan. "Gue nggak ngajak lo kenalan, ya."
"Orang paling ****** sedunia sekali pun juga tahu ... kalo tadi lo ngajak gue kenalan, secara gak langsung."
"Hm ya-ya. Tapi lo beneran anak SMA Pancasila? Gue kok gak kenal lo ya," Regita ragu dengan ucapan Landan.
"Ya iyalah lo gak kenal gue, kerjaan lo cuma nakal, bolos, bikin onar!" ucap Landan.
Regita menendang tulang kering Landan hingga cowok itu refleks jongkok mengusap bekas tendangan itu.
"Bar-bar banget sih, lo!"
***
Jasen turun dari motornya, ia berlari cepat masuk ke dalam markas utama. Markas tersebut sudah ramai. Kebanyakan dari mereka mengerubungi Sendra yang babak belur tak karuan.
Meski pun Jasen tipikal orang yang dingin dan cuek, ia bisa berubah menjadi khawatir ketika ada anggotanya yang terluka. Karena ia merasa semua anggota adalah tanggung jawabnya sebagai ketua.
Jasen memandang Sendra lekat-lekat. Bibir bawah dan pelipisnya sobek, rahang dan tulang pipinya membiru, ditambah luka-luka di badannya.
"Gue gak pa-pa, Sen." Sendra menggulung lengan kaos panjangnya, menampakkan biru-biru di lengan atas.
"Gak usah hiperbola, Sen. Sendra punya sembilan nyawa kayak kucing," celetuk Galang.
Revon menoyor kepala Galang. "Diem lo, Lang! Temen lagi babak belur begitu, malah bercanda."
Galang mengangkat tangannya, menunjukkan jari telunjuk dan tengah. "Peace."
__ADS_1
"Siapa yang ngelakuin ini, Ndra?" tanya Jasen seraya duduk di samping Sendra.
"Anggara," jawab Sendra tanpa berbohong.
Jasen membulatkan matanya, kaget. Begitu pun dengan yang lainnya. Ternyata Sendra belum sempat menceritakan apa pun.
"Wow! Terkejoed abang!" pekik Galang dengan lebaynya.
"Anggara ketua Alexus?" tanya Pradit.
"Kok bisa nyerang lo?" tanya Gibran.
Sendra menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan-pelan. Ia mulai bercerita secara rinci dari awal sampai akhirnya babak belur.
"Anggara abangnya Luisa?" tanya Revon.
"Iya, gue juga baru tahu," jawab Sendra.
"Gue juga baru tahu," ucap Galang, Revon, Pradit, dan Gibran kompak.
Brmmm ... brmm ... brmmmm
Prang!
Prang!
Terdengar keributan di luar markas. Kaca-kaca jendela dilempari batu sampai pecah menjadi kepingan kaca tajam.
"Bos, ada apa tuh di luar?" tanya Evan, salah seorang anggota dengan panik.
"Markas diserang!" ucap Pradit.
__ADS_1
"Jangan-jangan geng ale-ale?" ucap Galang menerka.
"Alexus!" Revon mengoreksi.