- J A S E N -

- J A S E N -
Bab 18


__ADS_3

Regita menghembuskan napasnya pelan-pelan, sabar. Kemudian, gadis itu memesan makanan dan juga minuman. Dinner pertama, harus berkesan. Tapi kesannya apa? Jasen dingin dan cuek begitu.


"Sayang, malam ini aku cantik gak?" tanya Regita. Percayalah, ia sedang berusaha mencairkan suasana.


Jasen melirik Regita sekilas. "Hm."


"Kamu nggak asik," ucap Regita.


Jasen tak menjawab, ia malah menyambar ponsel dan memainkan game online.


"Jasen, kamu inget gak pas kamu nembak aku?" tanya Regita. Namun, Jasen tidak menjawabnya. "Kamu nembak aku di atas wahana bianglala, pas ada pasar malam waktu itu. Kamu bilang, kamu bakal jadi orang yang paling beruntung di dunia kalau kamu jadi pacar aku. Kamu inget?" ucap Regita sambil mengingat kepingan kenangan itu.


"Hm," balas Jasen.


"Kamu mau nyanyi lagunya Sabyan Gambus, ya?" tanya Regita.


Pesanan datang. Jasen langsung meletakkan ponselnya di atas meja. Spagetti, steak, jus mangga, jus apel, pudding cokelat, es krim, dan cheese cake sudah tersusun rapi di atas meja. Regita menelan ludahnya, lalu segera memakan spagetti kesukaannya itu.


Keheningan menyelimuti mereka berdua. Jasen fokus menikmati makanannya sambil sesekali menyesap jus mangga.


"Kamo suka bangot yo sama jus mangga?" tanya Regita dengan mulut penuh spagetti.


"Iya," jawab Jasen.


"Pantesan setiap kali aku liat kamu di kantin atau di warung Mang Wedi, kamu pasti lagi minum jus mangga."


📱Saat kau pergi, berlinanglah air mataku ... betapa singkat kurasakan kebahagiaan itu kini lenyaplah sudah, oh ...


Jasen menyeruput jus mangganya dengan tergesa-gesa sebelum mengecek ponselnya yang berbunyi. Nada dering ponsel itu lagunya Vagetoz - Saat Kau Pergi. Ia juga sempat mengelap bibirnya dengan tisu.

__ADS_1


📱Tak pernah kuinginkan, perpisahan ini terjadi ...


Jasen menekan tombol hijau ketika ia melihat nama Pradit tertera di layar ponselnya.


"Ada apa, Dit?"


"..."


Nada di sana terdengar panik. Tanpa sadar, Jasen sudah berdiri, refleks saja.


"Where are you?"


Regita menghentikan makannya. Ia sedikit penasaran dengan topik pembicaraan Jasen dan si penelepon. Dit? Pradit? Sepertinya penting dan genting sekali yang mereka bicarakan.


"..."


"Gue ke sana sekarang!"


Jasen memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Ia mengeluarkan dompet dan meletakkan beberapa lembar uang berwarna merah di depan Regita persis.


"Gue harus pergi," ucap Jasen dengan nada panik yang ketara sekali.


"Kamu mau kemana?" tanya Regita bingung.


Namun, Jasen keburu meninggalkan cafe sebelum menjawab pertanyaan Regita. Hancur sudah dinner pertama Regita dan Jasen.


Gadis itu berniat pulang saja. Setelah membayar makanan dengan uang yang ditinggalkan oleh Jasen, ia berjalan seorang diri keluar dari cafe.


Regita sudah memesan taksi online, ia menunggu di pinggir jalan depan cafe. Ini malam Minggu, tapi sepi. Mungkin hujan rintik-rintik menjadi penyebab manusia-manusia lebih suka bermesraan dengan bantal guling di kasur mereka.

__ADS_1


"Malam, cantik" Regita refleks mundur ketika seseorang mencolek bahunya.


Dua orang berbadan besar tengah berusaha menggoda Regita. Yang satu berkulit gelap dengan rambut kribo, dan yang satunya lagi berkulit agak putih tapi rambutnya acak-acakan. Dua-duanya gendut dan berbadan besar. Baju mereka juga meyakinkan Regita bahwa dua orang itu bukan orang baik-baik. Celananya sobek-sobek, kalung-kalung mengalung di leher mereka, ditambah tato yang hampir penuh sebadan.


"Mau apa kalian?!" bentak Regita.


Lelaki berambut kribo mendekat ke arah Regita. "Mau kamu, sayang," ucapnya membuat Regita jijik.


"Jangan macam-macam, ya. Kalian nggak tahu kalau gue pacarnya ketua geng paling terkenal seantero Jakarta? Pacar gue tau, habis lo berdua," ucap Regita berusaha tetap santai.


"Malah bangga-banggain pacar. Sama gue aja sini, dijamin bahagia," ucap si lelaki yang memiliki kulit agak putih. Masih muda sih kayaknya.


"Amit-amit, ya. Jangan halu! Sekali pun lo adalah lelaki satu-satunya di dunia ini, gue lebih milih jomblo seumur hidup!" tegas Regita.


"Galak banget tuh bibir," ucap si kribo. "Jadi pengen *****."


Dua lelaki itu saling melirik, semacam kode-kodean. Sebagai cewek, Regita gampang peka. Gadis itu langsung berlari sekuat tenaga menjauhi dua preman itu.


"Gak usah ngejar-ngejar gue! Gue bukan maling!" teriak Regita sambil terus berlari.


"Lo maling, udah curi hati gue!" Preman itu balas berteriak.


'Preman kok bucin? Gak wajar, preman gila!' batin Regita.


Regita merasa kesulitan dalam larinya, pasalnya ia memakai high heels cukup tinggi. Tak ada pilihan lain, akhirnya Regita melepas kedua alas kakinya.


"Nggak papa nyeker, yang penting bisa lari," ucapnya sembari melepas high heels sialan yang melekat di kakinya.


Jangan lupa like, komen, rate 5 dan vote + klik tombol favorit😉

__ADS_1


TBC...


__ADS_2