- J A S E N -

- J A S E N -
Bab 12


__ADS_3

"Siap, Bu Bos!" sahut Leuren memberi hormat.


"Gobl*k diformalin, mau aja dimanfaatin," lirih Biana.


"Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, Bi." Leuren segera menyambar buku tulis Regita dan mengerjakan perintah.


Regita merogoh laci mejanya dan mengambil sebuah kotak bekal. Lalu gadis itu berdiri dan hendak keluar kelas.


"Mau kemana, Re?" tanya Biana meneriaki Regita yang sudah berada di luar kelas.


Regita melihat ke arah Biana lewat jendela kelas. "Mau apel pagi, dong! Kayak orang jomblo aja," jawab Regita sambil berteriak agar Biana dengar.


Regita menaiki satu per satu anak tangga menuju kelas XII IPS 7, kelas Jasen. Banyak sekali pasang mata yang memperhatikannya. Ada yang menatap kagum karena kecantikan Regita, ada juga yang memasang tatap iri. Siapa sih yang tidak iri dengan Regita? Anak pengusaha kaya, cantik, putih, seksi, bening, tinggi, ah ... sempurna deh pokoknya. Cuma orangnya rada-rada bar-bar.


"Jasen di dalem?" tanya Regita pada salah satu gadis yang merupakan kakak kelasnya.


Gadis itu tersenyum, di sekolah Regita anti bully-bully adik kelas. Semua akur asalkan tidak nyari masalah. "Ada tuh di dalem, masuk aja," jawab gadis bername tag Nika.


Regita melangkah masuk ke dalam kelas Jasen dengan senyum mengembang. Kotak bekal berisi sandwich ia bekap erat dengan tangannya.


"Jasen!" panggil Regita.


Jasen menoleh ke arah Regita, begitu juga lima teman Jasen yang tengah duduk sambil memainkan ponsel.


"Ekhem." Sendra berdehem. "Pagi-pagi udah diapelin," ucapnya.


"Leuren mana, Re?" tanya Galang.


"Leuren di kelas," jawab Regita.

__ADS_1


"Keluar yuk, ah! Masa mau jadi obat manyuknya mereka," ajak Revon yang langsung disetujui oleh teman-temannya.


"Obat nyamuk, dodol!" ucap Sendra mengoreksi.


Revon, Galang, Pradit, Sendra, dan Gibran keluar dari kelas. Hanya menyisakan Regita, Jasen, dan satu dua anak di kelas itu.


Regita duduk di bangku kosong samping Jasen. Kemudian ia membuka kotak bekalnya yang berwarna biru muda.


"Aku bawain kamu bekal," ucap Regita.


"Gue udah sarapan," ketus Jasen berbohong. Sebenarnya Jasen sama sekali tidak pernah sarapan atau makan di rumah, malas jika harus berkumpul dengan keluarganya.


"Yah, ayo dong, sarapan lagi gak ada salahnya kan?" Regita mengarahkan sandwich mendekat ke mulut Jasen. "Aaaaa ..."


Jasen menyingkirkan tangan Regita dari depan wajahnya. "Gue gak mau," tolak Jasen dengan dingin.


"Kamu kok gitu, sih? Aku ngambek nih," ucap Regita dengan wajah berubah masam.


Regita menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman.


"Makan ya sandwich-nya. Ini aku loh yang buat, aaaa ..."


Regita kembali mengarahkan sandwich ke mulut Jasen, hendak menyuapinya. Ia berharap pacarnya itu mau membuka mulut dan menelan makanan buatannya walau sedikit.


Jasen menampik tangan Regita hingga sandwich di tangannya terjatuh ke lantai. "GUE BILANG NGGAK, YA NGGAK!" bentak Jasen.


"Kamu kenapa sih selalu kayak gini sama aku?" tanya Regita masih berusaha untuk tenang.


'Jangan nangis, Re. Nggak usah nangis,' batin Regita menguatkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Lo siapa sih, hah?!" tanya Jasen dengan nada tinggi, lalu membuang muka.


"Aku pacar kamu," jawab Regita. "Seseorang yang kamu tembak di atas wahana bianglala," ucap Regita dengan suara tercekat.


Jasen menaikkan satu alisnya dan menatap Regita. "Oh ya?" tanyanya dengan muka songong.


"Iya. Dan aku ke sini mau ajak kamu jalan nanti malam."


"Jangan ngarep!"


"Salah ya kalo aku ngarep sama kamu?" tanya Regita dengan nada datar. Tak biasanya ia bicara dengan Jasen menggunakan nada seperti itu. Biasanya ia menggunakan nada manja agar Jasen mau memperhatikannya.


"Salah besar!" balas Jasen.


"Apa gunanya sih kamu jadiin aku sebagai pacar kamu?" tanya Regita lagi. Ia tak mau menangis saat ini.


Jasen bungkam, ia tak menjawabnya. Sedangkan Regita menatap Jasen dengan santai dan penuh dengan cinta.


"Kamu belum pernah ajak aku jalan sekali pun semenjak kita pacaran," ucap Regita. Ia berusaha untuk tetap kuat, tidak boleh nangis, tidak boleh terlihat lemah di depan Jasen.


"Ntar malem kita jalan, jam delapan."


Regita mengerjapkan matanya berkali-kali. Masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Jasen.


'Gue gak mimpi kan?' batin Regita sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.


"Apa? Coba ulangin," ucap Regita memastikan.


"Gak ada pengulangan!" tegas Jasen.

__ADS_1


Regita melompat-lompat girang dan langsung memeluk Jasen. Yang dipeluk hanya menunjukkan ekspresi datar dan tidak membalas pelukan Regita. "Aaaa makasih, sayang," teriak Regita.


Setelah Regita melepas pelukan, Jasen melirik Regita sekilas dan keluar dari kelasnya.


__ADS_2