- J A S E N -

- J A S E N -
Bab 6


__ADS_3

"Boleh, sebentar saja. Jangan lama-lama," jawab Pak Erdi.


Biana menarik napas, bersiap untuk bicara. "Sebelumnya, kenalin nama gue Biana Arrenzea. Di samping gue ada Regita Queenelyn Agrakari dan Leuren Tukiy..."


"Leuren Thalita Putri," potong Leuren tidak mau nama aslinya disebut. Nama itu doa dari kedua orang tua, kok malah malu nyebutinnya?


"Leuren Thalita Putri pala lo! Nama lo tuh Leuren Tukiyem Pustri, gue ingetin tuh kalo lo lupa!" bisik Regita tepat di telinga Leuren.


"Diem aja napa si, sekarep gue lah mau ngomong apa," sewot Leuren juga berbisik.


Biana menyikut lengan Regita dan Leuren agar diam. Lalu ia melanjutkan bicara, "Kami bertiga di sini ingin mempromosikan menu baru yang disediakan di kantin Mbak Ike."


Kelas itu mendadak ricuh, banyak yang mengomentari secara gamblang.


"Wih, menu baru cuy!"


"Ada gratisan gak tuh!"


"Pasti ada promo lah, kan menu baru!"


Biana mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan agar mereka semua diam. "Menu barunya ada sate melilit, bakso kembang api, soto hening cipta, seblak sadis, dan masih banyak lagi. Kalian bisa cek sendiri untuk lebih lengkapnya di kantin Mbak Ike."


Leuren berbisik ke telinga Biana, "Emang bener ada menu baru di kantin Mbak Ike?"


"Lo diem aja deh," bisik Biana membalas bisikan Leuren.


Biana mengembangkan senyumnya, lalu kembali berucap, "Berhubung ada buanyak banget menu baru, hari ini kalian gratis mau makan apa aja di warung Mbak Ike. Gratis tis tis!"


"Uhuyyyy, gratis anji*!"


"Kantong gue aman nih!"

__ADS_1


"Busyet! Baik amat Mbak Ike, lopyu ih!"


"Mbak Ike, aa datangggg!"


"Sudah selesai?" tanya Pak Erdi ketika menyadari Biana berhenti bicara.


Biana mengangguk. "Sudah, pak. Terima kasih."


Mereka bertiga keluar dari kelas tersebut, melanjutkan ke kelas-kelas XII yang lain. Sudah satu jam lebih mereka keliling kelas XII. Kali ini, mereka akan masuk ke kelas XII IPS 7. Kelas tersebut milik Jasen dan teman-temannya.


"Kalian aja yang masuk, gue tunggu di sini," ucap Regita.


"Loh, kenapa?" tanya Leuren.


Regita mengintip ke dalam kelas Jasen melalui jendela. "Malu."


"Kan kita cuma promosi menu kantin. Lo juga jangan lupa kalo ini hukuman lo dari Bu Aning," ucap Biana, lantas menarik lengan Regita dan Leuren.


"Pacar lo, Sen!" seru Gibran seraya menyenggol lengan Jasen.


Jasen melirik sekilas ke arah Regita dan dua temannya, lalu membuang muka. "Apaan sih, bodo amat!" ketus Jasen.


"Regita ... Dicariin abang Jasen nih! Miss katanya," teriak Sendra dari bangkunya yang terletak di pojok kiri paling belakang.


"Bac*t!" lirih Jasen penuh penekanan, ia mengutuk Sendra dalam hati.


'Apaan sih tuh orang pakek ke kelas gue? Bikin bad mood aja, bangk*!' batin Jasen.


"Neng Leuren cantik amat ih, jadi pengen ngehalalin," ucap Galang disusul dengan kedipan mata untuk Leuren. Salah satu anggota inti Geng Zolvenior tersebut terkenal sedang mendekati Leuren.


"Pengen ngehalalin ndasmu!" balas Leuren.

__ADS_1


"Asik, di panggil 'kamu'," ucap Galang sambil memukul-mukul lengan Pradit yang duduk di sebelahnya.


"Sakit gobl*k!" bentak Pradit seraya menarik lengannya agar menjauh dari Galang.


Brak!


Kelas yang ricuh tersebut mendadak hening ketika Bu Rena menggebrak meja guru.


"Mau apa kalian bertiga ke sini, hah?!" bentak Bu Rena pada ketiga gadis yang berdiri di depan papan tulis.


Biana mulai berorasi, mengucapkan kalimat-kalimat yang sama dengan yang ia ucapkan di kelas-kelas sebelumnya. Reaksi mereka juga sama, heboh dan senang karena ada menu baru di kantin Mbak Ike. Ditambah lagi karena hari ini ada gratisan. Mereka tidak sadar kalau Biana sudah berbohong.


Tett tett tett tett ...


Bel berbunyi empat kali, is-ti-ra-hat. Seluruh murid kelas XII segera berlarian menuju kantin, tepatnya ke kantin Mbak Ike. Mereka benar-benar percaya dengan ucapan Biana.


"Jasen, kamu mau ke kantin?" tanya Regita menahan lengan Jasen yang hendak keluar kelas bersama teman-temannya.


"Iya, Jasen sama kita-kita mau ke kantin. Ikut yuk!" Pradit menjawab pertanyaan Regita, karena Jasen tak mau menjawabnya.


Mata hitam leci milik Regita berbinar senang. "Ayo!" ucap Regita berniat ikut mereka ke kantin.


Namun, Biana menggagalkan niat Regita. "Lo cari mati? Bisa abis digebukin kalo kita ke kantin," bisik Biana.


"Leuren ikut juga, yuk! Ntar lo duduk di samping gue, itung-itung pemanasan sebelum kita duduk di pelaminan," ucap Galang mencolek dagu Leuren.


Leuren mengelap dagunya yang barusan dicolek oleh Galang. "Najong!"


"Nggak, kita gak jadi ikut kalian ke kantin," ucap Biana.


Bersambung❤️...

__ADS_1


__ADS_2