
Pradit merebut kotak bekal yang sedang diperebutkan itu. "Andria ngasih ini buat gue!" ucapnya.
Mereka menatap Pradit dengan heran.
"Katanya lo gak mau?"
"M*nafik banget, a*jir!"
"Tadi gak mau, sekarang mau," ucap Pradit enteng.
Galang mendekati Pradit dan mengendus-endus layaknya anjing pelacak. "Saya mencium bau-bau ... jatuh cinta."
Pletak!
"Sakit be-go!" pekik Galang ketika Pradit menjitak kepalanya.
Dukk
"Awww pala gue!" Pekik Galang lagi. Kepalanya membentur meja karena Revon menendang bokongnya dengan kencang.
"Kasian, Galang yang terdzalimi," ucap Jasen.
Pradit mengelus-elus kepala Galang. "Kacian, dedekku. Jangan nangis, sayooong ...."
"Kalian jahat deh, ayke benci sama kalian semuah!" ucap Galang dengan logat khas banci.
Gibran merangkul Galang. "Ke kantin aja yok!" ajaknya.
Akhirnya mereka menuju ke kantin, tapi tidak semuanya. Jasen dan Sendra tetap tinggal di kelas. Pradit juga tetap di kelas sambil asik makan nasi goreng pemberian Andria.
"Lo beneran gak suka sama Andria, Dit?" tanya Sendra.
"Nggak," jawab Pradit singkat. Lalu, ia menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Padahal Andria cantik, bohay, putih mulus, unyu-unyu," ucap Sendra.
"Di mata lo, semua cewek dibilang cantik. Meli juga di mata lo cantik, ya kan?" ejek Pradit.
"Istrinya Mang Wedi juga dibilang cantik," timpal Jasen.
"Kampret lo berdua!" ucap Sendra. "Playboy juga milih-milih kali," lanjutnya.
Pradit selesai dengan makannya, lalu ia menyimpan kotak bekal itu di laci meja.
"Sen, gue pinjem duit lo dong," ucap Sendra.
"Berapa?" tanya Jasen.
__ADS_1
"10 juta," jawab Sendra.
"Pasti buat nyenengin pacar-pacar lo," tebak Pradit.
"Ya jelas dong," ucap Sendra bangga.
"Mau aja diporotin!" ucap Pradit.
"Ntar gur transfer," ucap Jasen.
Sendra reflek memeluk Jasen. "Thanks, babe. Temen tuh gini, gak pelit!"
Jasen mendorong tubuh Sendra menjauh. "Gak usah peluk-peluk!"
Sendra nyengir.
"Tapi ... ada syaratnya," ucap Jasen.
"Apa?" tanya Sendra.
"Nyungsep di selokan," jawab Pradit.
"Kurang ekstrim," ucap Jasen.
"Terus apa?" tanya Sendra lagi.
Jasen menunjuk Lexa, teman sekelasnya. "Cium bibirnya."
Sendra mulai berjalan mendekati Lexa. Ia sedikit celingukan, takutnya Retta memergokinya.
"Gue yakin Sendra gagal. Lexa kan cewek yang anti cowok banget," ucap Pradit.
Namun, detik selanjutnya Pradit dibuat melongo. Sendra berhasil mencium bibir Lexa. Bukannya menolak, Lexa malah menyambutnya.
Segampang itu???
Sendra kembali menghampiri Jasen dan Pradit sambil mengusap bibirnya.
"Udah kan?"
Jasen mengetuk-ngetuk pelan dagunya, ia tengah berpikir.
"Satu bibir lagi. Gue kasih 10 juta dan itu gak usah lo kembaliin," ucap Jasen.
Mata Sendra berbinar-binar. Sedangkan Jasen tersenyum smirk.
"Bibir siapa, Sen?" tanya Pradit ikut kepo.
__ADS_1
"Meli."
Sendra bergidik ngeri. "Ogah ogah, yang ada gigi-gigi keropos itemnya nyangkut di bibir gue. Hih, bayangin aja udah jijik!" ucapnya.
Pradit dan Jasen terbahak.
"Gue mau susulin yang lain ke kantin," ucap Jasen dibalas anggukan oleh Pradit dan Sendra.
***
"Gimana dinner lo semalem?" tanya Biana.
Regita melepas ranselnya, kemudian menaruhnya di atas kursi. Ia tidak ada niatan untuk membalas pertanyaan Biana.
"Lo budek ya, Re?"
"Nggak. Cuma pura-pura gak denger aja."
"Cah edan," ucap Leuren.
Regita melipat kedua lengannya di atas meja, lalu menaruh kepalanya.
"Dinner lo sama Jasen semalem gimana?" tanya Biana lagi sambil menatap Regita.
Regita menatap Biana balik. Lalu ia memejamkan matanya, air matanya menetes.
"Ditanya malah mewek," ucap Leuren.
"Semalem gue ditinggal sama Jasen," lirih Regita.
"****!"
"Jaran!"
"Kok bisa?!!" tanya Biana dan Leuren bersamaan.
"Dapet telepon dari orang, naruh duit di meja, terus pergi. Mana pulangnya gue dikejar-kejar sama preman gila. Untung ada yang nolongin," jawab Regita panjang lebar.
"Mikir apa sih tuh anak? Dinner pertama kok gak ada romantis-romantisnya. Harusnya kasih bunga kek, atau cokelat gitu. Biar kayak orang pacaran," cerocos Biana.
Leuren memicingkan matanya menatap Biana. "Emang lo pernah pacaran?" tanyanya.
Biana tertawa, mulutnya terbuka lebar sampai-sampai kucing bisa masuk ke mulutnya. "Pacaran?" tanya Biana, ia menjeda. "Males! Pacaran ujungnya juga gitu-gitu aja. Ujungnya sakit hati, ujungnya putus ditinggalin."
"Ada juga tuh yang pacaran ujungnya nikah," ucap Regita. Ia merasa tersinggung.
"Kita tuh masih kelas XI. Lulus SMA, kuliah dulu. Kurang lebihnya 5 tahun menuju pernikahan. Coba pikir, mana ada sih orang yang kuat pacaran sampe lima tahunan kayak gitu. Yang ada malah bosen."
__ADS_1
Regita terdiam, ada benarnya juga.
"Ke kantin aja yuk!" ajak Leuren dan diangguki oleh kedua sahabatnya.