- J A S E N -

- J A S E N -
Bab 2


__ADS_3

"Regita? Lo ngapain ke sini?!" tanya seorang lelaki dengan kedua lengan tengah mengunci pergerakan lawannya.


"Gu-gue ..." Saking terkejutnya dengan kejadian tadi, Regita sampai tak mampu berkata-kata.


Setelah lawannya terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, lelaki itu menarik tangan Regita.


"LEPAS!" Regita memberontak. Ia berusaha melepaskan cengkeraman tangan kekar yang menyeret tubuhnya.


Cengkeraman di tangan Regita lepas ketika mereka berdua sudah jauh dari lokasi tadi. Lelaki itu memberikan helm pada Regita sebelum menaiki motor ninjanya.


"Gue gak mau pulang, Rev!" tolak Regita, tapi tangannya mau menerima helm itu.


Revon, lelaki itu menyalakan mesin motornya. "Gue anterin lo pulang, Re! Lo bisa mati kalo terus-terusan di sana. Bahaya!" tegas Revon menekankan kata bahaya.


"Lo pikir gue bakal pulang gitu aja dan ninggalin pacar gue luka-luka kayak gitu?!" tanya Regita dengan kilatan amarah di matanya.


"Jasen aman! Dia bakal baik-baik aja."


"NGGAK! Gue gak akan pulang!" Regita meletakkan helm hitam itu di depan dada Revon. Kemudian ia berbalik badan dan berniat kembali ke tempat tadi.

__ADS_1


Belum genap dua langkah, Revon menarik tangan Regita. "PULANG! GUE ANTERIN!" bentak Revon persis seperti perintah.


Badan Regita gemetar setelah dibentak oleh Revon. Suara lelaki itu benar jelas di tempat yang bisa dibilang sepi ini. Regita menatap tanah, membiarkan air matanya turun begitu saja. Mengalir ke pipinya dan bermuara di dagunya.


"Hei," lirih Revon mengangkat dagu Regita agar wajah cantik itu terlihat. "Jangan nangis." Revon mengusap pipi Regita dengan halus.


"Gu-gue gak ma-mau pulang," ucap Regita sesenggukan.


"Lo jangan egois dong, Re. Kalo lo di sini, terus lo kenapa-kenapa, itu bisa jadi masalah baru buat kita," ucap Revon memberi pengertian. "Gini aja, lo tunggu di markas utama Zolvenior. Setelah ini selesai, kita semua termasuk Jasen pasti bakal nyusul ke sana. Oke?" tawar Revon dengan suara yang lebih pelan dan halus daripada tadi. Ia menyesal sudah membentak seorang wanita.


Regita diam dan berpikir sejenak. Jika dia tetap di sini, memang bahaya juga. Sangat bahaya malah. Bisa-bisa ia disandera bahkan dibunuh oleh anak Geng Galaksi.


"Motor lo biar nanti dibawa sama anak Zolvenior ke markas." Regita hanya mengangguk.


Regita naik ke atas motor Revon. Mereka berdua akan menuju ke markas Zolvenior yang letaknya tidak jauh dari situ. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka. Revon fokus mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, sedangkan Regita melamun sambil menatap jaket Revon yang bertuliskan 'Zolvenior' di punggungnya.


Akhirnya mereka berdua sampai di tempat yang dituju. Sebuah bangunan klasik berlantai tiga. Lantai satu digunakan untuk berkumpul para anggota, lantai dua untuk rapat yang biasanya membahas mengenai penyerangan, dan lantai tiga merupakan ruang santai.


"Lo masuk aja, ini kuncinya." Revon memberikan sebuah kunci pada Regita.

__ADS_1


"Gue sendirian di sini?" tanya Regita.


"Lo gak takut kan?" Regita menggeleng. "Lo bisa nonton tv di lantai tiga. Isi kulkas juga penuh semua, kok."


Regita menatap punggung Revon yang mulai menghilang dimakan jarak. Gadis itu membuka gerbang markas utama yang tidak dikunci. Halaman markas sangat luas, biasa dijadikan tempat parkir motor. Selama hampir satu tahun menjadi pacar ketua Geng Zolvenior, Regita sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di markas utama ini.


Pintu markas terbuka. Gelap. Regita meraba-raba dinding mencari saklar lampu. Tak kunjung menemukannya, Regita menggunakan senter hp untuk memberikan penerangan.


Klik


Seketika markas itu langsung terang. Ternyata markas menggunakan rangkaian lampu seri, dimana hanya ada satu saklar di sana yang bisa mematikan dan menghidupkan lampu secara keseluruhan.


Tempat ini benar-benar luas. Di lantai bawah terdapat banyak sekali kursi-kursi dan meja-meja yang di susun rapi. Tanpa sampah sedikit pun. Di sudut ruangan terdapat banyak kulkas berisi makanan dan minuman. Wajar saja, anggota Zolvenior kan banyak. Hampir seluruh siswa lelaki SMA Pancasila ikut serta dalam geng itu.


Regita mendudukkan bokongnya di salah satu kursi, rasa khawatir kembali menyelimutinya.


Brmmmm ... brmmm ... brmmm ...


Suara deruman motor memenuhi indra pendengaran Regita. Pasti mereka sudah selesai bertarung melawan Geng Galaksi. Regita segera berdiri dan membuka pintu utama lebar-lebar.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate 5 dan vote ya + klik tombol favorit😊


__ADS_2