- J A S E N -

- J A S E N -
Bab 9


__ADS_3

Regita berlari masuk ke dalam kelasnya. Ia berlari sambil menunduk dan sesekali mengusap air matanya. tiba-tiba,


Bruk


Regita menabrak Dito, teman sekelasnya. "Jalan pake mata, dong!" bentak Dito.


"Nggak usah bentak-bentak juga, dong! Lo gak liat Regita lagi nangis?!" ucap Biana balas membentak.


"Dasar cowok, bisanya cuma nyakitin! BRENGS*K!!" timpal Leuren sambil mendorong badan Dito agar menyingkir dari hadapannya.


Regita duduk dengan kasar di bangkunya. Ia melipat kedua lengannya di atas meja dan membenamkan wajahnya. Biana dan Leuren juga ikut duduk di dekat Regita.


"Udah, Re. Jangan nangis," lirih Leuren sambil mengusap rambut Regita.


Regita mengangkat kepalanya. "Jasen kok gitu, sih. Kenapa dia, hiks ... gak belain gue? Terus apa maksudnya, hiks ... hiks ... dia ke warung Mang Wedi bareng Zellyn?" ucap Regita dengan suara parau sambil terisak.


"Mungkin kebetulan aja Zellyn juga mau ke warung Mang Wedi, lagian mereka kan sekelas," ucap Leuren.


"Tapi kok, hiks ... pake gandengan tangan se-segala, sih?" tanya Regita.


"Kan lo tahu sendiri Zellyn kayak apa, centil, gatel," jawab Leuren.


"Nggak usah belain Jasen terus deh, Ren. Lo juga, Re. Nggak usah ditangisin. Cowok kayak dia gak pantes buat ditangisin. Mending lo putus aja deh sama Jasen!" tegas Biana.

__ADS_1


"Lo apa-apaan sih, Bi? Selalu aja lo nyuruh gue buat mutusin Jasen," bantah Regita seraya berdiri dari duduknya. Biana dan Leuren juga ikut berdiri.


Leuren menatap Biana dan Regita bergantian. 'Gue harus belain yang mana nih?' tanya Leuren dalam hati.


"Lo harus buka mata lo, Re! Ngapain lo bertahan sama pacar baji**an kayak Jasen? Dia tuh nggak pernah nganggap lo ada," ucap Biana.


"Tapi gue sayang, Bi. Gue sayang sama Jasen!" bentak Regita.


Biana mendekat dan memegang bahu Regita, menatap manik mata sahabatnya itu. "Gue tahu, gue tahu kalau lo itu sayang sama Jasen. Sayang banget malah. Tapi, apa lo gak pernah mikir? Lo sayang sama Jasen, tapi Jasen selalu curang sama lo. Rasa sayang, perhatian, khawatir, dan semua yang lo kasih ke dia, gak sebanding sama apa yang lo dapetin. Lo dicurangi sama Jasen, Re!" Nada suara Biana mulai melembut.


Regita menyingkirkan tangan Biana dari kedua bahunya. "Dalam cinta, gak ada istilah curang. Gue sayang sama Jasen, gue ikhlas sayang sama Jasen. Tentang perasaan Jasen ke gue, gue gak peduli. Intinya gue sayang sama Jasen!"


"Halah, bucin akut!" teriak Dito dari ambang pintu kelas. Ternyata cowok itu sedari tadi memperhatikan mereka bertiga.


"Sini-sini, gimana sih rasanya disumpel mulutnya pake softex? Gue belum pernah, nih. Itung-itung buat pengalaman baru," ucap Dito.


"Bocah somplak!" ucap Leuren.


Dito mengangkat lima jari di tangan kanannya. Kemudian, ia menekuk jemari itu dan hanya menyisakan jari tengah. "Fu*k!" umpatnya sebelum melenggang pergi.


Regita kembali duduk. Tanpa disadari, air matanya sudah mengering.


"Terserah lo mau gimana, Re. Gue yakin, suatu saat lo bakal menyerah. Kesabaran lo pasti ada batasnya," ucap Biana.

__ADS_1


"Gue nggak akan nyerah. Selagi gue bisa, hubungan gue sama Jasen bakal terus gue perjuangin!" tegas Regita.


***


"Mau kemana, Kak?" Jasen mengarahkan pandangannya pada Felin yang tengah membaca buku di ruang tamu.


"Pergi," jawab Jasen datar. "Nggak usah ngadu yang macem-macem ke Papa!" tegas Jasen.


"Papa bisa marah kalau tahu Kak Jasen keluar rumah malam-malam," ucap Felin.


"Gue gak peduli!" bentak Jasen membuat gadis kecil berumur dua belas tahun itu bungkam.


"JASEN!" bentak Gian seraya menuruni anak tangga bersama Aletta di sampingnya. "Apa-apaan kamu bentak-bentak Felin?!"


"Belain aja terus!" ucap Jasen.


Jasen membuka pintu utama rumahnya, lalu segera beranjak dari hadapan ketiga orang itu. Ia membanting pintu tersebut dengan keras. Daripada ribut, buang-buang waktu. Mending langsung cabut aja.


Gian memijit pelipisnya melihat kelakuan Jasen. "Sampai kapan kamu seperti itu, Sen."


"Udah deh, Mas. Biarin aja Jasen mau seperti apa. Namanya anak muda, wajar kalau nakal," ucap Aletta memberi pengertian.


Jasen melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju ke rumah Pradit. Semua teman-temannya sudah berkumpul di sana. Dinginnya angin malam sudah biasa baginya, hampir setiap malam ia menerjang dingin itu.

__ADS_1


__ADS_2