
Jasen memarkirkan motornya di samping motor Revon. Ia melepas helm sebelum akhirnya memasuki rumah mewah milik Pradit. Rumahnya besar, tapi masih jauh lebih besar rumahnya. Dan ini kali pertama Jasen dan teman-temannya main ke rumah Pradit.
"Malam Jasen, sayang," sapa Sendra ketika melihat Jasen.
"Jijik!" balas Jasen datar namun penuh penekanan.
"Lo mau dijambak sama Regita sampe rambut lo rontok, Ndra?" tanya Revon.
"No, no, no. Gue gak berani," ucap Sendra.
"Regita kalo marah kayak tadi siang, serem juga ya," ucap Pradit.
"Iya, gak nyangka kalo Regita bisa marah juga," timpal Galang.
"Cewek bar-bar kayak dia pasti sering ngamuk lah, kita aja yang gak pernah liat," ucap Revon.
Jasen duduk di samping Gibran. "Nggak usah bahas Regita," tegasnya.
Jasen mengambil botol minuman keras di atas meja. Ia menuangkannya ke dalam gelas dan segera meneguknya.
"Bokap sama nyokap lo gak di rumah, Dit?" tanya Jasen.
"Di rumah," jawab Pradit.
Jasen mengerutkan keningnya. Di rumah? Kok bisa orang tuanya ngizinin anaknya minum-minum? Bahkan di salah satu kulkas rumah Pradit, isinya minuman keras semua.
"Santuy, bokap nyokap gue mah gak doyan marah-marah," ucap Pradit seolah menjawab kebingungan Jasen.
Drttt ... drtt ...
Ponsel Pradit bergetar di atas meja. Ia melirik layar sebentar, kemudian melengos.
"Angkat napa, Dit! Berisik!" perintah Revon.
"Tau tuh, dari tadi geter-geter mulu hpnya," timpal Galang.
__ADS_1
"Males, lo aja sonoh yang angkat!" balas Pradit tak acuh.
Revon meraih ponsel milik Pradit yang masih saja bergetar. "Andria?" tanya Revon sambil mengerutkan kening hingga kedua alisnya menyatu.
"Iya, makannya gue males," jawab Pradit.
"Hah? Siapa-siapa? Andria?" tanya Galang memastikan.
"Budek lo ya," ejek Sendra.
"Masih aja ngejar-ngejar lo, murahan banget sih!" ucap Jasen penuh ejekan.
"Itu namanya perjuangan, Sen" ucap Revon.
"Halah ta*" ketus Jasen.
Galang melemparkan bantal tepat ke wajah Jasen. "Dasar cowok gak punya cinta lo, ya."
Sendra berdiri dan menepuk-nepuk dadanya dengan bangga. "Contoh nih Sendra Alvinando, hidup penuh cinta."
"Setidaknya gue gak jomblo kayak lo, ya!" balas Sendra.
"Cinta ta*, cinta ta*, bangsa*!" Jasen meletakkan kedua kakinya di atas meja.
Galang, Pradit, Gibran, dan Revon geleng-geleng kepala bersamaan.
"Kenapa sih kalian? Gue bener, kok. Buktinya cowok bisa tunduk, patuh, lemah, atau malah berkhianat cuma gara-gara cinta sama cewek," ucap Jasen. Tumben amat ngomongnya panjang?
"Bukan gitu pengertian cinta, Sen. Suatu saat lo bakal nyadar betapa berharga yang namanya cinta," ucap Revon.
Drtt ... drtt ...
Ponsel Pradit yang ada di tangan Revon kembali bergetar, Andria menelepon lagi. Kali ini, Revon segera menekan tombol hijau.
"Hallo Andria, sayang. Apa kabar?" teriak Gibran seraya mendekatkan mulutnya ke ponsel Pradit.
__ADS_1
"Ini siapa ya?"
Gibran mengambil alih ponsel Pradit dari tangan Revon. Galang juga ikut mendekat ke Gibran. Dasar dua cowok edan.
"Gue Gibran, cowok terganteng se-jagad raya dan se-alam semesta."
"Lo jangan lupa, Bran. Masih ada gue di Bumi ini yang paling ganteng, lo cuma sebatas nomor dua di bawah gue!" ucap Sendra.
"Lebih gantengan gue kali," ucap Galang sambil tersenyum dan mengedip-ngedipkan matanya dengan sok imut.
"Pengen muntah kalo liat muka Galang," lirih Jasen.
"Sen, ngomong apa lo? Gue masih bisa denger," ucap Galang.
"Nggak. Nggak ngomong apa-apa," elak Jasen.
"Jasen tadi ngomong kalo muka lo mirip lutung kasarung di iklan marjan," ucap Pradit.
"Kok Gibran sih? Pradit mana? Hallo, hallo, Pradit mana woy!"
"Nggak usah ngegas dong, yang. Gue samperin ke rumah terus gue **** bibir lo baru tau rasa lo!" ucap Gibran.
"Jangan mau dicium Gibran, mulutnya bau pete," ucap Galang.
"Sembarangan kalo ngomong! Gue robek mulut lo, mau?" ancam Gibran.
"Gak jelas banget sih, Pradit mana?"
Pradit merebut ponselnya dari tangan Gibran. Lalu berucap, "Gue Pradit Renovendra, biasa dipanggil Pradit atau Dit. Umur 16, nomor sepatu 51, nomor rumah 14, nomor absen 28. Gue paling suka makan bakso, soto, sate, tapi gak suka makan temen. Dan gue gak suka sama lo. Jadi, jangan deketin gue lagi!"
Tut.
"Jahat lo, Dit. Kasian tuh si Andria, kalo ternyata dia sekarang lagi nangis gimana?" ucap Galang.
"Sadis amat kata-kata lo, Dit," timpal Revon.
__ADS_1