'Intuisi Waktu'

'Intuisi Waktu'
Chapter 11 - Penellope Maeve


__ADS_3


...Chapter 11 - Penellope Maeve...


Pennelope P.O.V


'Apa kau pernah merasakan hal yang terindah dalam hidupmu?'


'Bagiku, hal yang terindah adalah saat aku bertemu dengan sahabatku'


*Pennelope FlashBack*


"Hai kamu Reina kan? salken aku Pennelope~" ucap Pennelope sambil tersenyum lebar. "eh? iya aku Reina, kamu Pennelope yaa? Salken" Awalnya ku mengira kau sama seperti yang lainnya, datang saat perlunya saja. Berlagak sok baik di depanku, taunya belakangnya busuk. Tapi Reina, sepertinya dia tidak begitu.... Setelah dia berkenalan denganku, dia tidak pernah mengajakku bicara lagi. Aneh, mengapa dia nga mendekatiku sampe sekarang ya?


Selama 1 minggu, ku terus penasaran... Kita saling mencuri-curi pandang, saling bertegur sapa, tapi tentu saja salah satu dari kami tidak berani untuk mengajak istirahat bareng. Tapi mengapa aku merasa iri pada dia ya?


Apa karena aku insecure dengan diriku sendiri?


*'Tenang Nel\, pikirkan dengan jernih apa yang harus kau lakukan'*


Aku rasa, aku harus sekali sekali berbicara dengannya. "... hey, apa kau ada waktu?" jujur saat aku berkata-kata seperti ini, aku merasakan gemetar di seluruh tubuhku. Ya... untungnya aku bisa mengontrol tubuhku dengan baik. "ada kok ~ ! emangnya ada apa Pennelope?" ucap Reina dengan senyum cerahnya.


***


Hubungan kami menjadi makin dekat setelah kami saling bercerita, aku benar-benar menemukan seorang yang dari dulu aku cari. Yakni seorang 'sahabat', karena itu aku tak segan meninggalkan 1000 orang fake yang selalu mendekatiku. Dan bukan hanya itu saja yang membuatku memilihnya....


.


..


...


....


Karena aku menjauh dari teman-temanku yang sebelumnya, mereka justru malah semakin mengincar Reina.

__ADS_1


Aku tahu mengapa mereka mengincar Reina, karena mereka ini 'fake'. Mereka pasti ingin menggunakan Reina untuk menghancurkan aku. Hah... menyedihkan sekali, mengapa mereka berpikir menggunakan cara kotor ini sih.


Tak lama kemudian datanglah The Girl's Genk yang dulunya adalah Genk ku juga.


"Rei, kamu mau ikut aku nga?" ucap salah satu anak perempuan, tingkah anak itu begitu mencurigakan. Tampaknya ia dan teman-temannya sudah merencanakan sesuatu. Postur tubuh yang percaya diri sambil memasang muka yang pura pura merendah. Anak perempuan itu bernama darlene, juara ke-2 di kelas. Ya, dia adalah sainganku di kelas...


Namun aku tak begitu menginginkan posisi sebagai juara-1, meskipun aku yang juara-1 di provokasi dengan orang seperti 'Darlene' aku tidak akan pernah mau bersaing dengannya. Aku menjadi juara-1 karena keinginan orang tuaku. "Eh? ok sebentar yaa" Reina mulai sangat mencurigakan, ia mengambil ponselnya dan memberikan ponselnya kepadaku. "Aku deluan ya Nel, ntar ku kesini lagi~" ucap Pennelope sambil memasang muka yang pura-pura tersenyum. Aku mulai bingung, lalu mulai membuka ponsel Reina. Ternyata ia menyuruhku mengikutinya, aku mengetahuinya karena ia sudah menyiapkan perekam suara.


3 R.d Person P.O.V


*Di Kamar mandi/ Toilet perempuan*


Darlene dan teman-temannya itu mulai memasuki kamar mandi, tentu saja Reina ikut di belakangnya. Dengan secepat kilat, Darlene menarik tangan Reina dan mendorongnya ke pojok kamar mandi. "Aw, sakit tau nga!" Reina memasang muka kesalnya. " AHAHAHAHAH" Darlene tertawa dengan keras, dan hal ini membuat teman-temannya ikut tertawa dan mengolok-ngolok reina. Hal ini juga membuatku kesal, tetapi aku ingat apa yang Reina tinggalkan di ponselnya. Tentu saja aku sudah mulai merekam dari saat Reina di dorong ke pojokan kamar mandi.


"Aw~ sakit tau~ nga~ AHAHAHAH OMONGAN MACAM APA ITU" ucap Darlene sambil mengolok-ngolok Reina. Reina tersenyum sinis dan memasang muka flatnya, hal ini membuat Darlene kesal. "Heh apa-apaan lu~ sok keren aja bisanya~" ucap Darlene sambil mencibir bibirnya.


"ahahah, trus mau ngapain lagi? lagian lu ngapain manggil gw kesini cuma buat ngedorong gw hah? dasar udah gede perilakunya masih kayak bocah aja" ucap Reina sambil memasang senyum meremehkan. "Kau-" Darlene mengepal tangannya dan menundukan kepalanya. "yaudah2 sok mau ngomong apa~" ucap Reina memasang kembali sikap tenangnya.


"Hah\~ ternyata kau sama iyanya kek si caper itu" kata Darlene dengan percaya diri. "Hah? apa-apaan" ucap Reina kebingungan. "maksudmu Darlene?" sambung Reina dengan senyum kecilnya. "Kau- anak baru\, ITU NAMAKU DODOL! YANG CAPER ITU SI PENNELOPE LAH ***" ucap Darlene dengan suaranya yang sedikit meninggi.


Pennelope P.O.V


"Hah\~ ternyata kau sama iyanya kek si caper itu" kata Darlene dengan percaya diri. "Hah? apa-apaan" ucap Reina kebingungan. "maksudmu Darlene?" sambung Reina dengan senyum kecilnya. "Kau- anak baru\, ITU NAMAKU DODOL! YANG CAPER ITU SI PENNELOPE LAH ***" ucap Darlene dengan suaranya yang sedikit meninggi.


Reina tersenyum kecil melihat tingkah gila darlene, tak lama dari itu terdengar suara langkah seseorang perempuan cantik yang berjalan dari belakang barisan.


'Eh dia kan?'


"Sudah Cukup Darlene, kau malah menakutinya... kalau kayak gitu kan~ pesona mu berkurang deh~" gaya bicara yang sempurna dengan proporsi badan seperti model ini adalah ciri khas dari Clarissa.


'Clarissa Irma' tak seorang pun di sekolah kami yang tak kenal namanya. Ia adalah anak kelas Elite, dimana kelas Elite adalah kelas khusus anak orang kaya dan anak berprestasi. Tapi aku tak tahu mengapa ia ikut genk ini, setahuku dia bergabung setelah aku keluar dari genk. Clarissa Irma melihat Reina dari atas kepala sampai kaki secara sekilas, dengan mata sinisnya ia menilai reina. Terlihat santai namun ada sedikit rasa iri yang terkandung di dalamnya.


Clarissa P.O.V


'kalau dilihat-lihat anak ini cantik, hanya dia kurang pamer cih. tapi dengan muka cantik apa adanya itu bisa-bisanya dia tidak berniat masuk genk ini hm... menarik' batin Clarissa.

__ADS_1


"well, aku ingin memberikan kamu sebuah kesempatan.. dan jangan berharap kesempatan ini datang untuk kedua kalinya" ucap Clarissa sambil membanggakan dirinya. "apa-apaan?" ucap Reina sambil mengangkan kedua alisnya.


Clarissa mendekati telinga Reina dan mengucapkan sesuatu.


"B-e-r-g-a-b-u-n-g-l-a-h D-e-n-g-a-n-k-u" ucap Clarissa sambil tersenyum tipis. "apa gunanya aku bergabung denganmu?" ucap reina dengan poker facenya. "hahaha lucu kamu ga tau ya keuntungannya?" ucap clarissa sambil sedikit tertawa jahat. Reina menatap tajam clarissa lalu menggelengkan kepalanya.


Clarissa mendekati Reina dengan pelan lalu mendekati telinganya


'jika kau bergabung dengan kami, kami akan memberikanmu status keluarga... ya kau tahu kan? apalagi keluarga waltz belum terlalu terkenal tuh~ aku akan membantumu untuk menjadi sukses loh~ s-u-k-s-e-s, bahkan kau bisa dapat beasiswa di sekolah termahal~ apa lagi yang kau tunggu? kekuasaan-kekayaan-kualitas diri-kepintaran ya kan?' Reina tampak diam, Clarissa merasa tawarannya ini berhasil untuknya lalu mengembalikan posisi tubuhnya ke semula.


Pennelope P.O.V


Setelah Clarissa membisikkan sesuatu ke telinga Reina, lalu...


Reina tampak berbeda, gawat-! jangan-jangan dia tergiur olehnya?! dasar wanita iblis.! "lalu apa yang kalian mau ? apa yang kalian rencanakan?" ucap reina dengan muka flatnya.


"gampang~ kau cukup mengikuti arahanku saat ujian penentuan ranking nanti~ pastikan dia terlihat seperti orang bodoh" ucap clarissa dengan mata kritisnya. "Apakah kau mau membantu kami? sepertinya kau akan cocok jika kau menggantikan posisinya di genk" kata Clarissa dengan muka liciknya. "Apa maksudmu? kau ingin aku menjadi salah satu bagian dari rencana?" ucap Reina dengan senyum sinisnya. "iya, apa kau mau? karna penawaranku ini kan ga datang 2 kali loh ~" sambung Clarissa dengan nada sedikit meninggi.


"hah... kalian ini sungguh bodoh, kalian tidak menyadari ya kalau kalian berbicara di tempat yang salah?" ucap Reina sambil tertawa kecil.


"apa maksudmu?" ucap clarissa mengangkat alisnya dengan mukanya yang geram.


"kamu kira aku bodoh? PENNELOPE UDAH BELUM?" Teriak reina dengan keras. Aku kaget sampai-sampai tubuhku gemetaran menahan tawa bahagia. aku segera menyimpannya di flashdisk. lalu, aku langsung keluar dari persembunyian.


"Reina, semuanya sudah ku rekam!" ucapku.


"Hah? dasar j*l*ng ! kau bisa-bisanya mempermainkan aku *grt*" ucap Darlene memasang kuda-kuda untuk memukul Reina. Mata Reina terbelalak melihat Darlene seperti itu.


-### T. B.C (To Be Contunied) To the next chapter


Hi~ Jangan lupa pencet like dan add favorite yaa~


Karena sekecil apapun dukungan kalian sangat membantu author loh >v


Makasih dah baca sampe akhir :D <3

__ADS_1


__ADS_2