
...Chapter 09 - Another Day still The Same...
Reina P.O.V
'hah... semakin dipikirkan, semakin membuatku gila'
Dan akhirnya, aku hanya bisa menerima kenyataan bahwa hari ini adalah hari selasa.
'apakah kemarin itu hanya mimpi?'
'mengapa terasa seperti nyata?'
'entah mengapa aku merasa sesuatu yang aneh dan tak seperti biasanya'
....
...
..
.
.
'seperti sihir yang sebenarnya aku tak mempercayainya'
"apakah sihir itu nyata?" gumamku. "kenapa nak?" tanya Papahku sambil melihat kaca spion yang ada di atas dekat ia menyetir. "nga~ pah, aku tadi hanya bergumam~" kataku sambil mengelus rambut.
"Kalau ada yang salah bilang yaa" kata Papahku Lucas kembali fokus dalam menyetir.
"oghey" ucapku dengan senyum yang tipis seperti biasanya.
Lucas P.O.V
"apakah sihir itu nyata?"
Aku tak tahu apa yang sedang dipikirkannya, dia memang anak kandungku tapi- aku sebagai ayahnya benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkannya.
Tapi- sihir? tidak sepertinya aku salah dengar-
"kenapa nak?" tanyaku sambil melihat kaca spion yang ada di atas dekat ia menyetir. "nga~ pah, aku tadi hanya bergumam~" kata Reina sambil mengelus rambut. "Kalau ada yang salah bilang yaa" kataku kembali fokus dalam menyetir. Semoga dia baik-baik saja, karena beberapa hari ini dia tampak sedikit aneh.
Reina P.O.V
Seperti kemarin, aku diantar oleh papahku ke sekolah.
Seperti kemarin, Pennelope telat datang dengan alasan yang sama. "BEBBB, maaf telat hehe~" ucap Pennelope dengan senyum lebarnya. "ohhh~ iyaa gpp" ucapku dengan nada rendah."Lah, kamu gpp? tadi pagi kenapa kamu ngigau dah hari rabu? awokwokwok" kata Pennelope sambil tertawa.
Aku mengernyitkan kening, dan merasa bingung.
Mengapa bisa seperti ini? entah mengapa mereka seperti orang yang tersetting. "Kau yang aneh, kenapa semua orang bilang hari ini hari selasa?!" gertakku dengan nada yang sedikit meninggi.
'semua orang juga bisa meledak kan?' 'aku mengatakan ini pun juga nga tega sih sebenarnya'
Pennelope kaget melihatku sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Sekarang udah rabu, heh~ kemaren juga kan kita udah ngeles bareng~ ha, gimana si~" ucapku dengan nada yang sedikit merendah.
"hiks, Re-reina? lu gpp kan?" suara Pennelope tiba-tiba bergetar seperti ingin menangis.
'oh Tuhan, apa yang sudah aku lakukan?'
"eh? aku gpp, sorry2 nell, aku tadi kebetulan hanya cape" ucapku langsung merangkul Pennelope.
__ADS_1
'mengapa aku mengeluarkan semuanya seperti tadi?'
"kamu kayak gini, gara-gara kemaren kamu pingsan kan? ma- maaf Rei, aku ga bermaksud buat kamu kek gitu!" ucap Pennelope dengaan air matanya yang sedikit menetes. Aku pun panik, bagaimana cara mengatasinya? "Hey kau." ucap salah satu anak laki-laki yang suaranya tak asing bagiku. "Jangan seenaknya membuat temanmu menangis, kau sudah gila ya?" sambung anak itu dengan dingin dan seenaknya.
eh? dia kan?
'dia kan anak yang waktu itu membantuku sampai ke UKS'
"a-aku?" ucapku dengan gagap dengan posisi yang sama yakni merangkul Pennelope. "Yaiyalah siapalagi? dan sepertinya kau ini sudah gila" ucapnya dengan nada dingin. Anak itu James, dia yang kemarin lusa membantuku dan membawa ku ke UKS.
'hah... dasar sombong, mentang-mentang hanya dia saja yang bisa?'
Aku melepaskan rangkulanku sambil tersenyum manis di depan Pennelope. Pennelope pun melihat itu dan berhenti menangis. Dia mengerti maksudku, bahwa aku tak bermaksud melukainya. "Hey, kau mr.arrogant" ucapku dengan nada dingin. Aku melipat kedua tanganku dan menempatkannya di depan tubuhku. "Aku tak tahu apa yang kau maksud, seperti yang kau lihat... kau hanya salah paham" ucapku dengan nada flat.
'Jujur aku takut dengan anak ini, auranya saja sudah kelihatan berbeda'
"Bukankah sudah jelas bahwa temanmu tak bersalah? jelas-jelas hari ini hari selasa, malah dipertanyakan. Dasar. Bo. Doh." ucapnya dengan nada flat.
Dengan keadaan ini seisi lorong langsung diam dan memperhatikan kami, Yakni aku-Pennelope-James si anak sombong.
"Haii~ kamu James kan? kau tahu? ehm, i-itu temanku lagi sakit seperti kemarin ahahahah... j-ja-jadi? dia agak linglung" Pennelope terlihat panik dengan kata-katanya yang seperti itu. Jujur, aku terharu melihat Pennelope yang manis membelaku seperti itu. Semua ini membuat aku merasa bersalah,
"Kalian ini sungguh A-n-e-h" ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. James sekali lagi melihat ku dengan tajam dan berkata, "Dan, kau cewe penyakitan" kata james dengan nada dinginnya.
'ugh, entah mengapa aku merasa sedikit kesal'
"Jangan Gila ya, ini hari selasa... Bukan hari Rabu" setelah mengatakan itu, dia langsung pergi.
James P.O.V
'Bertambah satu hari yang sangat membosankan'
"Kau yang aneh, kenapa semua orang bilang hari ini hari selasa?!" gertak cewe itu dengan nada yang sedikit meninggi.
Menyusahkan saja-. jelas-jelas hari ini hari selasa, biarkan saja lah. Urusan mereka bukan urusanku,
Temannya kaget melihatnya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Sekarang udah rabu, heh~ kemaren juga kan kita udah ngeles bareng~ ha, gimana si~" ucap cewe penyakitan itu dengan nada yang sedikit merendah.
"hiks, Re-reina? lu gpp kan?" suara cewe itu tiba-tiba bergetar seperti ingin menangis.
"eh? aku gpp, sorry2 nell, aku tadi kebetulan hanya cape" ucap cewe penyakitan itu langsung merangkul temannya.
"kamu kayak gini, gara-gara kemaren kamu pingsan kan? maaf Rei, aku ga bermaksud buat kamu kek gitu!" ucap Pennelope dengan air matanya yang sedikit menetes.
Ah, sial sepertinya ini sudah keterlaluan. aku akan memberitahukannya sedikit. Tapi, sepertiny si cewe penyakitan itu tidak bermaksud menyakiti sahabatnya, dia hanya bingung karna penyakitnya kemarin. Ya, mungkin dia sedang berhalusinasi? kira-kira penyakit apa yang dimilikinya? Aku tak peduli.
"Hey kau." ucapku dengan nada yang biasa saja "Jangan seenaknya membuat temanmu menangis, kau sudah gila ya?" sambungku dengan dingin.
"a-aku?" ucap cewe penyakitan itu dengan posisi merangkul temannya. "Yaiyalah siapalagi? dan sepertinya kau ini sudah gila" ucapku dengan tenang.
Dia melepaskan rangkulannya, dan berkata "Hey, kau mr.arrogant" ucap cewe penyakitan itu dengan nada dingin. Dia melipat kedua tangannya dan menempatkannya di depan tubuhnya.
"Aku tak tahu apa yang kau maksud, seperti yang kau lihat... kau hanya salah paham" ucapnya dengan nada flat.
'anak ini berani juga, sudah tau dia salah.... hah~ dasar anak cewe' batin James.
"Bukankah sudah jelas bahwa temanmu tak bersalah? jelas-jelas hari ini hari selasa, malah dipertanyakan. Dasar. Bo. Doh." ucapku dengan nada flat.
"Haii~ kamu James kan? kau tahu? ehm, i-itu temanku lagi sakit seperti kemarin ahahahah... j-ja-jadi? dia agak linglung" Pennelope terlihat panik dengan kata-katanya yang seperti itu.
'sepertinya mereka berdua sudah akrab sejak lama, hah... kalau begitu aku tadi ga ikut campur'
"Kalian ini sungguh A-n-e-h" ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala.Lalu, aku sekali lagi melihat cewe penyakitan itu dengan tajam dan berkata,
__ADS_1
"Dan, kau cewe penyakitan" kata james dengan nada dinginnya.
"Jangan Gila ya, ini hari selasa... Bukan hari Rabu"
Setelah mengatakan itu, aku membiarkannya membereskan permasalahannya.
Dasar cewe, semua permasalahan dibuat jadi rumit.
Reina P.O.V
"Jangan Gila ya, ini hari selasa... Bukan hari Rabu" setelah mengatakan itu, dia langsung pergi.
Karena kesal, tanpa sadar aku mengeluarkan jari sakralku. "Rei~ lu gila ya? masih ada orangnya heh awokwokwok" ucapnya sambil tertawa. "ekhem /// " Aku langsung menyembunyikan tanganku di belakang rok.
*P.s: /// -> adalah tanda untuk menandakan bahwa tokoh sedang mengalami muka merona/ blushing.
"pft, Rei~ Rei~" kata Pennelope sambil tertawa. "hem, Nel... maaf heeh aku ga bermaksud ngomong ke kamu kayak gitu tadi" ucapku sambil salah tingkah. Pennelope langsung memelukku, aku membalas pelukannya.
Pelukan ini menandakan bahwa Pennelope memaafkanku. "Kau memaafkan ku nel?" ucapku sambil tersenyum. Pennelope mengganguk, dan melepaskan pelukanku."Sebenarnya ada masalah apa membuat mu sampai seperti ini rei?" tanya Pennelope dengan muka bingungnya.
"Rumit sih nel, aku ga tau kamu bakal ngerti atau nga" ucapku sambil menggaruk mukaku dengan jari telunjukku dengan pelan.
3 R.d Person P.O.V
*1 April 3030 (08:00 Am)
Seperti biasanya, lab selalu sibuk dengan OctralCircuit Project. Seorang wanita cantik, berproporsi badan sempurna itu tampak kurang bersemangat tak seperti biasanya. Wanita itu Pennelope, sahabat Reina.
"oh, Pennelope. kau sudah datang?" ucap James dengan nada sedikit merendah. "Iya, gimana perkembangannya?" kata Pennelope dangan nada flat. James menggelengkan kepalanya menandakan bahwa tidak terjadi apa-apa, Pennelope menghela nafas tanda lega. James mengernyitkan keningnya, dan berkata "apakah buku itu membebanimu?"
"tidak sama sekali, malah buku itu membuatku mengenangnya dan menerima apa yang terjadi" ucap Pennelope sambil tersenyum tipis. James menepuk bahu Pennelope dengan pelan, hal itu membuat Pennelope menangis lagi.
"Kau mau ke ruanganku dulu? kita lebih tenang disana" James menatap Pennelope dengan pelan, berharap agar dia tidak menangis lagi.
Memang James bukanlah tipe menenangkan orang, karena itu dia berpikir bahwa lebih baik Pennelope menceritakan semuanya di ruangannya. Pennelope mengganguk dengan matanya yang berkaca-kaca. Lalu, mereka pergi ke ruangan kerja James. Dan benar saja perkiraan James, tangisan Pennelope pun meledak sesampainya disana.
James tampaknya diam saja, namun sebenarnya di hatinya ia merasakan juga apa yang dirasakan Pennelope.
"Dia... mengapa tidak memberi tahuku sedari awal, kalau dia sebenarnya sempat mengalami keadaan yang berat 10 tahun yang lalu" ucap Pennelope sambil terisak-isak.
"Apakah tak ada cara untuk mengembalikan ingatan nya secara cepat?" sambung Pennelope dengan muka sedihnya.
"Aku pun tidak tahu, karena ini semua butuh proses... Tetapi ada satu cara" ucap James dengan nada merendah.
Mata Pennelope terbelalak kaget, ia terlihat sedikit penasaran. ia mengelap air matanya, dan bertanya "Apa cara itu?"
James melihat itu langsung menunduk, Pennelope langsung bingung.
"Mengapa? kau langsung begitu, heh?" uap Pennelope dangan suaranya yang masih terisak-isak sehabis menangis.
"pft- nih tisu lap dulu air matamu, make up mu ntar luntur" kata James sambil tertawa dan menyodorkan kotak tisu ke Pennelope.Pennelope mengambil kotak tisu dari James dan mengambil beberapa lembar tisu. "Lu bisa aja ya buat orang ketawa wkwk" kata Pennelope sambil tertawa kecil. "ya, kadang bisa aja" ucap James dengan senyum meremehkannya.
"Wah, ternyata lu ga bisa senyum ya? parah2 wkwkwk" ucap Pennelope sambil tertawa.
"heh ngomongin orang aja bisanya, lu sama reina sama aja ya suka nilai2 orang" ucap James sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Btw gimana cara ngembaliin Reina secara cepat?" ucap Pennelope kembali serius.
-T. B.C (To Be Contunied) To the next chapter
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hi~ Jangan lupa pencet like dan add favorite yaa~
Karena sekecil apapun dukungan kalian sangat membantu author loh >v
__ADS_1
Makasih dah baca sampe akhir :D <3