
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
...Chapter 15 - Dream...
Reina P.O.V.
Hari yang penuh drama ini membuatku pusing sekali. Tetapi- aku percaya masih ada yang berdiri untukku. Karena itu, aku tak perlu panik lagi. Aku mengistirahatkan tubuhku di ranjang kamarku, semoga besok hari Rabu bisa kulewati dengan tenang.
*alam bawah sadar Reina*
Loh? ini di tempat itu lagi? tetapi mengapa, setiap aku di alam mimpi aku mendapatkan ingatan-ingatan yang aneh. "hai kamu~" tampak lagi seorang wanita cantik yang tampak familiar denganku. "eh- hai?" aku menjawab sapaannya dengan ramah dan sedikit bingung. "kau sudah bisa menanggapiku?" tanyanya dengan wajah yang cerah.
"uhm- sedikit, tapi mulutku masih berat untuk diajak bicara." ucapku dengan wajah yang cerah. "uhm- sedikit, tapi mulutku masih berat untuk diajak bicara" ucapku dengan berat. "ugh- iya , suaramu jadi sedikit aneh... ya sudah~ yang penting kau sudah bisa menanggapiku" jawabnya dengan tenang. Aku mengganguk meskipun masih bingung.
Masih banyak pertanyaan di kepalaku, seperti...
'siapa wanita ini?' 'mengapa aku bisa berbicara sesuka hatiku meskipun ini mimpi?'
'Bukankah biasanya, kalau aku berbicara didalam mimpi, aku langsung keluar dari alam mimpiku?'
"mengapa kau selalu ada di dalam mimpiku beberapa hari ini?" tanyaku bingung. Perempuan itu tersenyum manis, senyuman itu- sepertinya aku pernah melihatnya-
"sepertinya kau harus menemukan jawabannya sendiri, jika kau bisa bertahan untuk kurang lebih 1 bulan?" ucapnya tidak yakin. "ha? satu bulan?" karena suaraku masih berat untuk diajak berbicara, seketika suaraku menjadi seperti bapak-bapak saat aku bertanya hal itu.
Perempuan itu terkekeh geli, karena suaraku yang aneh itu. Lalu aku menunjukkan ekspresi 'diem ah' untuk membungkam lawan bicaraku mentertawaiku lagi.
"ah~ maaf-maaf, maksudku ekhem (memberhentikan tawanya) kau akan mengetahuinya sendiri, maka dari itu bertahanlah~ Reina!" Serunya sambil tertawa manis. "baiklah..!"
Tiba tiba\, mataku mulai tertutup... tidak ada alam yang tenang seperti tadi\, *hosh hosh* suara nafasku mulai terengah-engah.
__ADS_1
Aku terbangun dari mimpi anehku, jantungku masih berdetak dengan kencang. Kepalaku mulai pusing 7 keliling, mungkin itu karena aku terlalu membawa banyak hal yang memusingkan kepalaku.
Contohnya kejadian kemarin di dalam mimpi kembali menemuiku, ingatan-ingatan yang tidak aku kenali masuk kedalam diriku.
Ergh-! kenapa rasa sakit ini bertambah 50 kali lipat? dari yang kemarin?!
Apakah ini yang dimaksud oleh perempuan tadi? Coba sebentar-
Tetapi aku tak mau kehilangan ingatan tentang apa yang kudapatkan di dalam mimpi, coba pikirkan apa yang aku lakukan kemarin saat mendapatkan rasa sakit ini? Haduh- apa ya ?
Eh iya aku ingat, iya benar itu jalannya- aku menumbalkan semua ingatanku tentang apa yang kudapatkan di mimpi tentunya ingatan yang berkaitan dengan Pennelope kw di masa depan? Sebaliknya, jika aku tidak menumbalkannya. Aku tak akan selamat-
Tidak- pasti ada jalan lain, ah- itu dia!
Tiba-tiba aku teringat sebuah memori aneh yang tak aku kenali, "jika kau mengendalikan jiwamu dengan tubuhmu kau akan bisa menghilangkan sebagian beban"
Aku mendapatkan itu di ingatan aneh yang aku dapatkan di dalam mimpi. Aku mulai mereflekskan tubuh, Ugh- ini agak sakit karena tulangku agak kaku untuk digerakkan. Sedikit demi sedikit aku menggerakkan tubuhku, aw! benar- benar susah untuk menggerakkannya. di saat tubuhku sudah menempati posisi yang hampir sempurna. aku mulai mereflkskan tubuh, membayangkan alam mimpiku yang bergambarkan pemandangan yang tenang.
Selasa, 2 maret 3020 (02.00 A.M.)
Aku mulai membuka mataku, membangunkan tubuhku secara perlahan-lahan. Namun aku tidak melupakan ingatan-ingatan ini, artinya aku benar-benar berhasil melakukan ini. Namun, apakah aku benar-benar merasakan hari Rabu?
Aku mulai melihat ponselku, jam di ponselku menunjukan pukul 02.00. apakah aku benar-benar berhasil? Mataku mulai melihat ke arah bawah waktu di ponselku, disana bertuliskan hari yang sama yakni...
Selasa, 2 maret 3020
Aku benar-benar bingung sekarang... mengapa aku kembali di hari yang sama tetapi waktu yang berbeda?
Aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi denganku, berhubung masih jam 2 pagi aku langsung membereskan pakaianku dan mengambil sedikit uang jajanku di laci dimana tempat aku menyimpan uang. aku berlari ke klinik 24 jam yang tak jauh dari rumahku, apakah aku benar-benar sakit? apakah aku sakit jiwa?
__ADS_1
Setelah berlari ke sana, aku langsung melapor kepada perawat penjaga didepan (yang ada di resepsionis). Aku mulai menelan ludah dan mulai berbicara.
"Permisi sus- apakah disini ada dokter umum? saya ingin mengecek keadaan saya" Tanyaku dengan ramah dan diikuti oleh nafas terengah-engah.
"eh iya ada, coba mba nanti lurus ke sana nanti belok ke kanan langsung aja konfirmasi ke suster yang namanya melinda..." jelas perawat tersebut. "Baik Trimakasih, suster..." Jawabku sambil tersenyum yang menandakan 'Terima kasih'. "ya sama-sama mba" perawat itu membalas senyumku.
Aku berlari menuju ruangan itu,
Apakah benar aku ini? sakit? mengapa hari-hari ini aku selalu mengalami halusinasi?
Lalu setelah aku belok tangan, benar seperti apa yang dikatakan perawat itu. Aku menemukan perempuan muda memakai baju perawat. "permisi apakah kamu melinda?" tanyaku dengan ramah.
"iya benar, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya dengan ramah "begini saya ingin check up ke dokter umum, apakah sekarang saya bisa masuk ke dalam?" tanyaku sambil menggaruk-garuk pipiku yang tidak gatal dengan telunjukku.
"boleh, sebelah sini ya..." ucapnya menunjukkan jalan. aku mengganguk, "kebetulan dokter tadi baru masuk, jadi kau datang tepat waktu" sabungnya sambil membuka pintu dokter umum tersebut. Tampak seorang pria memakai jubah dokter. "Trimakasih suster melinda" ucapku sambil tersenyum ramah.
"sama sama mba, sihlakan langsung masuk yaa" jawabnya sambil menutup pintu. "Sihlakan, sebelah sini.." ucap dokter itu sambil duduk di kursinya.
"ah iya, dokter" ucapku sambil mendekati mejanya, dan duduk di kursi yang disiapkan. "ada yang bisa dibantu, ehm nona?" tanyanya bingung karena ia tidak tahu namaku. "Reina, kau bisa memanggilku Reina" jawabku. "baik nona Reina, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sekali lagi. "begini, dokter saya ingin dokter meng-check up saya... karena saya memiliki keluhan yang lumayan aneh" jawabku dengan terus terang.
"Baik, saya akan meng-checknya sekarang" jawabnya dengan serius. "namun saya minta maaf, karena saya belum bisa memakai alat-alat khusus untuk check up. karena klinik hanya memperbolehkan memakainya setelah jam 9 pagi" sambungnya dengan nada merendah. "tidak apa-apa dok" ucapku dengan tenang.
-T. B.C (To Be Contunied) To the next chapter
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hi~ Jangan lupa pencet like dan add favorite yaa~
Karena sekecil apapun dukungan kalian sangat membantu author loh !
__ADS_1
Makasih dah baca sampe akhir :D <3