'Intuisi Waktu'

'Intuisi Waktu'
Chapter 12 - Pennelope Maeve (2)


__ADS_3


...Chapter 12 - Penellope Maeve (2)...


Pennelope P.O.V


"Hah? dasar j*l*ng ! kau bisa-bisanya mempermainkan aku *grt*" ucap Darlene memasang kuda-kuda untuk memukul Reina. Mata Reina terbelalak melihat Darlene seperti itu.


Darlene langsung menyerang Reina dengan kemampuan beladirinya.


'tch, anak pinter kok langsung nyerang tanpa persiapan' batinku. Karena aku percaya Reina bukanlah anak lemah sama sekali. Bahkan Reina, dia adalah anak yang lebih berintuisi tajam. Karena itu, serangannya mungkin saja bisa dihindari oleh Reina.


'keren sih, tapi kurasa darlene tak akan menyerah begitu saja'


Serangan pertama Darlene yang meleset itu, mengenai tembok yang ada di belakang Reina. " wah-wah pennelope lihat teman barumu ini~ dia menarik sekali bukan?" ucap Clarissa.


Aku hanya bisa menelan ludah dengan kasar.


Reina P.O.V


"hm, bukankah kau salah satu anak yang cemerlang? tapi- sorry ya... ahaha. kenapa intuisi ku lebih tajam darimu ya? apa karena kau le~mah~?" goda Reina dengan wajah menyebalkannya.


'tentu saja dengan cara ini aku bisa mempertahankan posisi di peluang 2:3, bahkan orang pintar pun tidak bisa berpikir kalau dia sedang marah'


'tpi- orang ini sangatlah hebat, membuatku merinding... apakah dia belajar bela diri? lihat itu keramik kamar mandinya sampai menampilkan sedikit retakan. kalau begini sih peluangku dengannya bisa 1:5... Tenang saja, Reina... kau pasti bisa memikirkannya... yang pasti kalau retak, dia pasti sudah menguasai 1 teknik bela diri... tidak bukan satu teknik... sepertinya dia menguasai karate...'


"Berisik ! aku tak suka orang yang berlagak sepertimu.!" ucap Darlene dengan nada tinggi. Karena tadi aku terlalu banyak berpikir aku terkena sedikit pukulan olehnya.


'meskipun aku tak terkena 100% tinjunya, namun kukunya tetap saja menggores kulitku'


'fokus, Reina... sekarang kau harus memperhatikan arah serangannya'


Darlene yang kesal mulai menargetkan perutku yang terlihat lemah. Sudah kuduga, setelah melihatku menghindari serangannya. Dia langsung mencari titik lemah, hah~ tidak akan ku biarkan.


Karena itu, aku harus geser sedikit ke kanan.


Sekali lagi aku bertrimakasih kepada game startegi, yakni catur. Yang aku suka mainkan bersama papahku di hari sabtu.


Darlene P.O.V


'sial meleset lagi' 'mengapa anak ini menghindariku terus sih?'


'jangan-jangan, dia tak bisa bela diri dn hanya bisa menggunakan intuisinya? hah~ benar-benar lemah'


'hm~ sayangnya kau juga membutuhkan kekuatan untuk mengalahkanku... tapi- aku tak bisa begini terus, aku harus merusak hp yang dipegang oleh Pennelope'


"Kau menarik, tapi maaf aku tak punya wktu untuk berurusan dan bermain-main dengan mu~!"


Pennelope P.O.V


Gawat- sepertinya mereka akan mengincarku, karena aku memiliki rekamannya.


Sial- aku terlalu gugup, untuk berpikir dengan otakku.

__ADS_1


Coba sebentar, aakah aku sudah mengirimnya ke grup kelas? seingatku tadi aku langsung memencet share dan memberikannya ke beberapa kontak-


"WEY PENNELOPE FOKUS!" Teriak Reina kepadaku.


Gerakan yang fleksibel, dan kecepatan Darlene berhasil mencapai tempatku.


Darlene yang sudah ada di dekatku ini berusaha merebut Hp Reina dari padaku.


Sial- eh tapi, iya aku punya kartu as cadangan!


"Hey! jangan ambil hp temanku! ini bukan milikmu tahu!" Teriakku dengan nada Tinggi.


"siapa yang peduli~" ucap Darlene dengan nada licik.


"HEY KALIAN SEMUA BERHENTI!"


Aku menengok asal suara yang berasal dari sebelah kanan.


"tch- Berisik! ganggu aja~" ucap Darlene sambil menggeram.


'nah kena kau ke dalam jebakanku'


Tapi karena aku menyia-nyiakan kesempatan itu, lalu...


Karena aku kehilangan konsentrasi, aku...


Prang!


Hp Reina pun retak karna direbut dan dilempar oleh Darlene. Bahkan setelah itu dia menginjaknya dengan sekuat tenaga.


*Aku sekarang mengerti kenapa orang tuaku kecewa kepadaku, Aku ini ceroboh.


percuma aku pintar, tapi tidak teliti*.


Karena kurang kekuatan, Darlene berhasil menendang tanganku. Tetapi, aku melupakan kartu As kemenanganku.


"KALIAN SEMUA! MASUK KANTOR SAYA !"


Kartu As ku adalah, dengan memanggil bantuan kepada satpam terdekat. Karena satpam di sekolah ini selalu lewat kantin, aku mengambil kesempatan itu sebagai keberuntunganku.


Dan hasilnya- sangat memuaskan, ia bergegas memanggil bu wakil kepala sekolah yang kebetulan baru pulang dari urusannya, benar- mereka semua ini bodoh. Karena terlalu meremehkan aku, ini juga pelajaran untukku untuk tidak meremehkan keadaan.


Sekarang aku benar benar bernafas lega, melihat mereka yang mengoceh dijalan dengan kesal karenaku.


Namun, aku ingat akan sesuatu. Melihat ke arah tangan, menemukan keadaan hp Reina yang rusak parah.


Tanpa sadar aku menitikkan air mata, ya benar rasa bersalah mulai menghantuiku.


Ponsel Reina yang tampak menarik, sekarang sudah rusak parah karena ku seseorang.


'apa yang- telah aku lakukan?'


'aku ini teman yang sangat bodoh-'

__ADS_1


Tak lama air mataku mulai mengucur dengan deras, karena rasa yang sangat bersalah.


Reina P.O.V


Setelah Ibu wakil kepala sekolah menangkap mereka semua. Aku pun menghempaskan nafas dengan lega, Pennelope kau... melakukn semuanya dengn baik.


Saat aku ingin bertatapan dengan Pennelope, aku melihatnya menunduk sambul memegang ponselku dengan erat.


Eh itu? Kulihat sekilas Hp ku sudah tak berbentuk lagi, kerusakan itu pasti memerlukan biaya yang mahal.


'yasudahlah, kan gw masih punya laptop'


'untung aku dah setting semuanya ke sd card'


Namun dibandingkan Hpku, sepertinya dia leboh terluka.


'bodoh kenapa kau selamatkan Hpku, bukan nyawamu'


'kenapa kau begitu gegabah untuk melakukan itu'


Aku berjalan mendekati Pennelope, tangan kanannya tampak kebiruan-


Kakinya tergores, ini membuatku marah karena dia tak menyelamatkan dirinya.


"KENAPA KAU BODOH SEKALI!" Teriakku dengan nada tinggi. "a-aku" ucap Pennelope yang melihatku sambil menangis.


'dasar anak ini dia terlalu baik'


"HEH bukan itu yng ku sampein dodol" ucapku sambil tertawa kecil. Pennelope yang bingung itu menatapku sekali lagi dengan wajah kebingungannya yang disertai oleh tangisan.


"Lukamu itu loh- heh!" sambungku dengan tegas.


Pennelope P.O.V


'Gawat- dia benar benar akan marah padaku'


"te- ten- tena- tenang a- ja Re.. Rei-na a- a- aku bakal gantiin k- kok!!" sial tangisan ini tak mau berhenti, tapi aku benar-benar serius mengatakannya. Karena ini semua terjadi karena aku yang lengah, namun mengapa dia tak peduli dengan hpnya?


"KENAPA KAU BODOH SEKALI!" Teriak Reina dengan nada tinggi. Yap, aku kembali menitikkan air mata.


"a-aku" ucapku dengan nada merendah.


"HEH bukan itu yng ku sampein dodol" ucapnya sambil tertawa kecil. 'lah terus? kenapa lu marahin gw geblek'


"Lukamu itu loh- heh!" sambung Reina dengan tegas.


'eh? dikirain apaan dah'


-### T. B.C (To Be Contunied) To the next chapter


Hi~ Jangan lupa pencet like dan add favorite yaa~


Karena sekecil apapun dukungan kalian sangat membantu author loh >v

__ADS_1


Makasih dah baca sampe akhir :D <3


__ADS_2