
...---------------------------------------------------------------------------...
...Chapter 13 - Friendship Matters...
Pennelope P.O.V
"Lukamu itu loh wey?!" Sambung Reina dengan tegas.
'eh?'
"Dasar- kenapa lu malah mikirin hp gw" katanya sambil tertawa. "Bodo- Nyawa dulu yang dipentingin!" Sambungnya.
'Walaupun kata-katanya agak kasar, tapi dia bermaksud baik'
"Luka gw mah masih diobatin, tpi hp mu ini loh-" ucapanku di potong olehnya.
"cuma Hp doang lah~ Gw masih punya laptop weh, Lagian memorinya juga ada di SD Card!" Celetuk Reina sambil tertawa kecil.
"iya juga.." ucapku sambil menggaruk-garuk pipiku dengan telunjukku.
'Tak terlihat dari penampilannya, namun dia adalah orang yang memiliki banyak persiapan'
"yaudah lu pegang hp gw, gw titipin bentar di lu" ucap Reina dengan senyum tipisnya. "daripada hp ya, sekarang ayo kita ke uks"
Reina sedikit membungkuk ke bawah mendekatiku yang duduk di bawah.
"gila lukamu keknya serius banget-" katanya sambil menatap lekat lekat tanganku yang terluka. Reina membalikkan posisi tubuhnya, lalu membantuku berdiri.
sial ini benar-benar sakit, aku sedikit menggigit bibir bawahku. Dasar darlene dia memang orang gila, dia merretakkan tangan kananku.
3 R.d Person P.O.V
"Hey Pennelope, cepat naik" Reina langsung memperlihatkan posisi yang menandakan ingin menggendong Pennelope di punggungnya. "eh woi lu gila ya" ucap Pennelope sambil tertawa kecil.
"serius wey, cepet naek" ucap Reina dengan nada sedikit meninggi.
"Enak aja ga mau ah!" ucap Pennelope mengeluarkan gengsinya.
"tch, cepet ahh! kalau nga gw tinggalin lu disini ya" ucap Reina dengan senyum kecilnya.
Reina P.O.V
"gila lukamu keknya serius banget-" ucapku sambil melihat luka-lukanya.
Maaf Pennelope aku terlalu mengambil resiko, seharusnya di awal aku memberikan aba-aba supaya dia tidak mengkhawatirkan hpku.
ha- sekarang sebaikny kita memeriksa keadaan nya dengan membantunya berdiri.
Aku pun mengulurkan tangan kananku untuk membantu Pennelope berdiri, dan benar saja tebakanku. Pennelope langsung menahan kesakitannya dengan menggigit bibir bawahnya.
Aku berlutut dengan satu kaki, seperti seorang laki-laki mau melamar calon istrinya dengan membawa cincin.
Membelakangi Pennelope dengan posisi siap menggendongnya,
"Hey Pennelope, cepat naik!"
"eh woi lu gila ya?" ucap Pennelope sambil terkekeh.
"Serius wey, cepet naek" ucapku dengan nada tegas. "Enak aja, ga mau ah!" kata Pennelope yang bergengsi itu membuatku ingin tertawa.
__ADS_1
"tch, cepet ah! kalau nga gw tinggalin lu disini ya" ucapku.
Pennelope P.O.V
"tch, cepet ah, kalau nga gw tinggalin lu disini ya" ucap Reina dengan senyum kecilnya.
'apa sih dia, terkadang dia membuatku kesal'
"lagian lu ga bakal bisa jalan kalau kaki kamu ama tangan kamu kayak gitu~" ucapnya dengan nada meremehkan.
"Berisik! kalau gitu gw jalan sendiri aja ah!" ucapku dengan sebal.
'kesel ah, gw kayak gini aja gara-gara elo!'
Tapi- sepertinta perkataannya agak benar sedikit lagian kalau aku jalan sendiri malah resiko.
Masalahnya mukanya itu loh ama nada bicaranya kadang buat aku kesel, padahal asliny baik dia tuhh.
"wey, gimana??" ucap Reina dengan nada sedikit meninggi. "gw juga punya harga diri weh, klo gw gini terus bnyak orng yng ngeliatin" sambungnya.
'iya juga sih, kasian dia nunggu terus tapi akunya ga naek'
'yaudah aku terima saja niat baiknya'
Aku tersenyum, karena perbuatannya. Yap- tanpa tersengaja aku tersenyum manis di depan anak ini.
'dia bukannya marah karna aku merusak hpnya, tapi-'
'emang ya, dia orang baik'
"yaa~ gw mau naek, tpi lu jngan ngeluh yaa~ terus jangan jatuhi gw di tengah-tengah jalan!" ucapku sambil terkekeh. "gpp da, aku kan bukan orng lemah kayak lu" ucapnya sambil tertawa.
"lu buat gw kesel ya!~" ucapku dengannada sedikit meninggi. "gpp lah~ yang penting lu ga nangis lagi gara-gara gabisa jaga hp gw" ucap Reina dengan senyum kecilnya.
Random Person P.O.V
Saat aku berjalan mendekati Toilet, aku melihat bahwa seorang anak perempuan yang lumayan terkenal di angkatanku di tendang oleh temannya sendiri?
ya, maksudku Pennelope dan Darlene...
Gila sih, ini lebih ke pembulian. Menurutku, Darlene memang pantas dilaporkan. Namun saat aku ingin beranjak ke ruang guru, wakil kepala sekolah berseru dan mendekati mereka.
Sepertinya ini bukan keberuntungan, ini sudah direncanakan oleh Pennelope sendiri.
Ya, tapi untung lah~ masuk akal kenapa Pennelope di targetkan oleh Darlene. Karena Darlene menurutku dia adalah anak caper yang menginginkan posisi tertinggi.
Tapi sebentar- ternyata dia rombongan tuh?
Ini sih pasti karena Pennelope temenan ama Reina, tpi ga tau ah. aku yang suudzon ini, ikut campur aja.
Eh- itu Pennelope menangis? karna apa?
Eh hp siapa itu- bodo amat ah-
Random Person P.O.V. (2)
Aku baru saja datang dan ikut mengecek keadaan toilet. katanya sih, pennelope dan darlene bertengkar.
Namun saat aku datang semuanya sudah bubar, aku hnya menemukan Pennelope dan Reina sedang bercanda di lantai.
__ADS_1
Namun aku tidak pernah, sekali pun tidak pernah melihat Pennelope tersenyum tulus seperti itu.
Yasudahlah- mungkin memang mereka cocok.
Pennelope P.O.V.
"anu, Reina... Hp mu-" ucapanku terpotong olehnya. "weh udahhh! Hp- Hp- Hp- weh mulu~ dah lah yang penting masalah lu beres kan?"
Mataku terbelalak kaget.
'Oh Tuhan, mengapa kau memberikan orang ini padaku?'
'dia terlalu baik, tidak sepertiku...' mataku kembali meneteskan air mata terharu.
Sepertinya aku sudah menemukan seseorang yang berharga bagiku.
"lu ngapain nangis? udah hp mah-" kata-katanya terpotong olehku.
"makasih Reina, ga pernah ada- iya bener ga pernah ada yang ngehibur ku sampai seperti ini" ucapku sambil mengusap air mata.
"cemen lu~" katanya sambil tertawa. "he? dibilang makasih, malah ngejek lagi~" ucapku mendengus kesal.
"kalau begitu kutarik kebali makasihny yaa" ucapku sambil tertawa.
"ahahah~ nga maksudku lu cemen karna lu ga pernah cerita soal masalah lu~"
lagi-lagi, kata-katanya membuatku ingin menangis. "lu kalau ada apa-apa cerita ajaa~ ngapain lu pendem sendiri?!" ucapnya sedikit merendah. "lagian gw, ngebuat lu sedikit lega kan?" ucap Reina dengan senyum kecilnya.
'iya sih- meskipun tindakannya sedikit nyebelin. tetap saja dia orang pertama yang membuatku seperti ini'
"iya, tak ada yang tulus kepadaku seperti ini... jadi," aku menghentikan kata-kataku.
"hm?" tanya Reina dengan nada bingung.
"Trimakasih ya, Reina!" ucapku sambil tersenyum lebar. "yap, sama-sama" Reina membalas senyumku dengan senyuman manis miliknya.
"lu cantik kalau senyum" ucapnya dengan tulus.
"makasih hehe~" jawabku dangan senyum tipis. "tapi- kalau nga senyum, kayak biasa aja- pft!" dia menghentikan bicaranya lalu mulai terkekeh.
"apaan wey? apany yng lucu?" ucapku sambil mengangkat satu alis. "kalau nga senyum?~" sambungku.
Reina mulai tertawa lepas,
'apa ni pasti iseng-'
lalu beberapa saat kemudian melanjutkan kata-katanya.
"kalau nga- pft! KEK NENEK-NENEK KEHILANGAN GIGI PALSUNYA AWOKWOKWOKWOK" Reina mulai mengganti wajahnya dan mentertawaiku dengan sedikit volume yang agak keras.
"WEY LU YA ***-! klo GW DAH SEMBUH YA gw tendang lu!" ucapku sambil tertawameskipun agak sedikit kesal.
karena kita berdua tertawa, Reina mulai kehilangan keseimbangan.
"Wey lu jan ketawa-ketawa *** wkwkwk" ucap Reina sedikit ngegas.
-### T. B.C (To Be Contunied) To the next chapter
Hi~ Jangan lupa pencet like dan add favorite yaa~
__ADS_1
Karena sekecil apapun dukungan kalian sangat membantu author loh >v
Makasih dah baca sampe akhir :D <3