
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
...Chapter 21 - Love is Tragic...
James P.O.V.
Kami baru saja sampai di resto pilihan Pennelope, yakni venezuelae. Tapi hal yang membuatku tidak tenang adalah ‘apakah semua rencanaku bisa berjalan lancar?’
Ya walaupun gagal aku punya kartu as pembalik keadaan, yasudahlah- dan juga aku ga bisa meremehkan keluarga Adams. Karena mereka juga lumayan pinter, tapi tak sepintar aku dan Pennelope tentunya.
Hah- jika bukan karena Reina, aku pun tidak mau. Tapi karena ini demi dia, aku rela melakukan apapun.
Setelah Pennelope, berbicara dengan resepsionis untuk memesan meja tempat kami duduk. Lalu pelayan itu, memberitahu jalan menuju ruangan VVIP. Jika dugaanku benar, pelayan ini akan membantu kami nantinya. Karena, ia terlihat ramah dan sudah mengenal Pennelope dari lama.
Itu hal yang wajar, karena katanya ini adalah Resto langganan Pennelope. Lalu kami duduk di tempat yang sudah diberikan, “Hey, kau benar-benar kepikiran ya?” tanya Pennelope yang memulai percakapan. “ya, kau benar” jawabku dengan tegas. “Btw, Laptopmu? Mana? Aku udah bawa nih~ ” ucapnya sambal terkekeh.
Aku melihat sekitar, iya benar… Aku melupakannya, astaga akibat aku terlalu fokus dengan pikiranku dari tadi. Coba sebentar- apakah aku sudah mengunci mobilku? Aku benar-benar tidak tenang “gw ambil dulu bentar” ucapku dengan terburu-buru dan langsung cabut untuk pergi ke parkiran.
Pennelope P.O.V.
Setelah sampai, aku langsung mengecek barang-barangku. Aku yang benar-benar excited ini, setelah melihat barang-barangku termasuk laptop dan buku. Langsung keluar dari mobil, malah lebih dulu dari James.
Eh, James?
Dia terlihat jelas kalau dia banyak pikiran, hadeuh~ Rei, lu kok punya cowo gini amat si. Tapi, mereka emang cocok si... Ha~ kapan ya aku dapet cowo. Jomblo ngenes a.k.a Pennelope nyari cowo nih, dicari lowongan pacar Pennelope. Tapi- ga mungkin kan gw kayak gitu di depan umum, gila kamu nel.
Tapi aku ga mau kayak James- anak gila dia mah. Ekhm, maksudku mukanya itu loh... Kalau Reina kan, emang dia suka ama James. Emang tipenya itu- tipikal cowo dingin, hm...
Dah lah- fokus nel! pikirin keadaan sekarang aja. Tanpa sadar, aku dan James sudah sampai di meja Resepsionis. "halo, ada yang bisa- eh?! NONA PENNELOPE?!" ucap Anna salah satu karyawan dari resto 'Venezuellae'.
"hehe~ halo-halo Anna~!" ucapku ceria. "Wah ternyata nona masih mengingat namaku, kyaaa~!" ucapnya dengan bersemangat. "iya dong~ btw ku pesen ruang VVIP khusus 2 orang" ucapku sambil melirik James sesaat.
"Wah-wah~ itu pacarmu nona?" Goda Anna. "nga heh!" ucapku sambil merona.
"He? yaudah-yaudah ku antar ke ruangan ya~" ucap Anna. Setelah kami diantar aku mengucapkan Trimakasih kepada Annna, karena sudah mengantar kami. Namun- Kenapa James bisa berpikir sambil berjalan gitu ya- dah lah, biasa orang pinter~.
Setelah kami menduduki tempat kami, ruangan serasa sunyi. Hah... daripada diem-dieman, ayo kita cari topik~
"hey, kau benar-benar kepikiran ya?" tanyaku. "ya- kau benar" jawabnya singkat. keliatan banget, btw laptop dia kemana? yaelah, kayaknya dia lupa deh... "Btw laptopmu? mana? aku dah bawa nih~" ucapku sambil tertawa kecil. Dia terlihat ling lung, dia mulai melihat sekitar. tetapi tidak menemukan apapun. "gw ambil dulu bentar" ucapnya terburu-buru. "ya~ makanya! jangan terlalu tegang wkwkwk" seruku sambil tertawa.
James melangkah menjauh untuk pergi ke parkiran.
James P.O.V.
*Flashback*
Kau pasti tahu kan, bagaimana keadaan seorang yatim piatu? Ya- mungkin sebagian dari kalian ada yang tahu, ah tidak- aku yakin tidak ada yang pernah mengalami ini. Ada sih, namun kemungkinannya sangat kecil.
James adalah nama yang diberikan oleh seseorang yang berharga bagiku. Aku ini tentunya terlahir dengan nasib yang tidak terlalu baik, bahkan saat aku dilahirkan aku tak tahu siapa yang melahirkanku. Aku benar-benar tak pernah melihat wajahnya ataupun pernah merasakan sentuhnnya.
Tepat sekali, menurut dugaan saat aku dilahirkan Ayah dan Ibuku dibunuh secara mengenaskan. Atau mereka meninggal karena kecelakaan, atau bisa saja aku diculik dari ayah dan ibuku. Benar-benar seperti drama saja... Tak mungkin seperti itu, ibu panti pun menemukanku di sebelah rumahnya. Benar-benar tak beruntung, begitulah manusia.
Penceritaanya juga membuatku merasa rendah, karena beliau berkata seperti ini "kau tergeletak di samping rumah ini, berkulit putih pucat karena terkena salju, berbadan mungil dan menangis seperti mencari orang tuamu. seketika itu aku menangis melihatmu dan berlari menujumu dan langsung menggendongmu ke dalam"
__ADS_1
Ya, aku dirawat dengan baik oleh beliau. beliau baik, rendah hati dan beliau adalah seorang ibu yang hebat. Beliau adalah sosok ibu yang aku rindukan dan aku idamkan. Namun kebahagiaanku hilang begitu saja setelah adanya kejadian yang merenggut nyawanya.
Saat malam tiba, rumahku yakni panti asuhan dilalap oleh si jago merah. Hal ini membuatku takut hingga melarikan diri, saat aku ingin melewati tangga tepatknya saat langkah terakhir. tiba-tiba ada blok kayu dengan kecepatan yang tak bisa kutandingi jatuh ke arahku. "AWAS JAMES!"
Hampir saja- benar hamp- eh? "Bu PAN-TI?" ucapku sambil bergetar. "BUUU! SEBENTAR AKAN SAYA ANGKAT KAYUNYA!" seruku dengan keras sambil terisak-isak. "Sudahlah James, pergi! hiduplah dengan baik! JANGAN MATI DISINI!" ucapnya dengan nada sedikit meninggi. "TIDAK AKAN KU BIARKAN, BUUU! BERTAHANLAH!" Seruku sekali lagi dengan mengeluarkan sikap keras kepala. "Kau ini- lari!" Seru ibu panti itu sekali lagi. "TIDAK-! KARENA KAU IBUKU!" Teriakku sekras-kerasnya. "ah- James kau disaat begini membuatku terha-" ucapannya terpotong olehku. "KAU TIDAK BOLEH MATIII! AKU SAJA YANG MATI" aku mengangkat blok kayu yang sangat berat, ya benar aku masih kecil saat itu. Saat itu umurku adalah 3 tahun, karena itu wajar aku tidak bisa mengangkatnya. Tanganku mulai bercucuran darah.
"JAMES, PERCUMA TIDAK AKAN BISA..! LEBIH BAIK KAU CARI BANTUAN! TETAPI- sepertinya aku tak bisa menahan lagi" ucap ibu panti itu sambil menangis. "James, jadilah anak yang baik yaa... lakukan semua seperti yang kau bisa... aku akan menemuimu suatu hari nanti" Aku menangis melihatnya masih saja membantunya untuk keluar dari runtuhan blok kayu itu.
Tidak- Bu, aku masih ingin mengucapkan sesuatu. aku benar-benar tidak mau pergi dulu, aku masih ingin menghabiskan waktu denganmu. Namun takdir berkata lain, aku keluar mencari bantuan. setelah itu karena aku terlalu mengisap banyak asap sulfur dioksida.
Just for your information
Sulfur dioksida atau (SO2) biasa ditemukan di dalam asap hasil pembakaran. Ini merupakan gas yang sangat reaktif, tidak berwarna dan berbau seperti korek api.Jika menghirup Sulfur Dioksida berbagai masalah kesehatan bisa timbul, seperti penyempitan dan pengetatan saluran udara di paru-paru, sesak napas dan batuk. Selain itu, sulfur dioksida bisa menyebabkan iritasi pada sistem pernapasan dan mata. Resiko akan semakin parah pada penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronik.
Aku membuka mataku dan mendapati diriku dengan gas oksigen, lebih tepatnya diinfus. Aku bangun dan langsung berteriak "IBU PANTI!" aku tidak menemukan ibu panti sama sekali. Karena itu aku ingin mencabut kabel ini satu persatu- namun, bagaimana mencabutnya? Lalu tampak seorang perawat membawa dokter untuk men-checkku.
Lalu paraorang dewasa mulai berbincang-bincang tentangku. seperti 'Anak ini' 'kasian ya dia' 'untuk sulfur dioksida itu tidak memengaruhinya'
Setelah seminggu aku dirawat, biaya rumah sakitnya di gratiskan dan dibayar oleh uang pemerintah. Setelah seminggu aku dan anak-anak yang lain ditempatkan lagi di panti asuhan yang sama. Namun saat aku ingin mendekati mereka untuk bermain.
"Monster! pembunuh ibu panti!" teriak Rachel kepadaku. Rachel adalah salah satu temanku saat di panti asuhan. Setelah hari itu, aku terus menerus dipanggil 'monster' aku-
Apakah benar aku monster? sebenarnya untuk apa aku dilahirkan?
"wah itu dia ya~ si monster?" ucap salah satu anak. "iya tuh, cupu banget" jawab salah satu dari mereka.
BRAK! PLAK! (suara pukulan yang keras selalu mengenaiku)
Beberapa kali aku dirundung, dibully dan juga diejek. Karena itu aku sering kabur dari Panti Asuhan, namun karena aku masih kecil. mereka selalu saja menemukanku, wajar- itu adalah hal yang wajar.
Sekitar 1-2 tahun kemudian, aku diadopsi oleh 2 orang yakni Frederick dan Tiara dari keluarga Blackwood. Awalnya aku tak mau bersama mereka karena trauma di masa lalu, aku belum bisa move on dari kematian ibu panti- itu lah salah satu alasanku.
Ya, aku ini anak yang nekat. Aku selalu kabur dari rumah mereka berdua, aku takut membebani mereka. Karena aku anak kecil yang bodoh, aku selalu saja tertangkap oleh penjaga.
Akhirnya, aku pun luluh karena sikap mereka berdua.
Tetapi itu pun, tidak bertahan lama. Yea, Love is very Tragic for me.
“a flower knows, when its butterfly will return, and if the moon walks out, the sky will understand;
but now it hurts, to watch you leave so soon, when I don't know, if you will ever come back.”
― Sanober Khan
Saat aku berumur 6 tahun, Tiara mulai mengandung dan melahirkan anak setelah 9 bulan kemudian. Aku melihat monster kecil yang imut dilahirkan ke dunia. ya, namanya Phillip. Phillip Blackwood, bisa dibilang kami bukan kakak dan adik kandung. Tetapi kami bisa akur tanpa melihat hubungan darah. Namun, saat ia berumur 5 tahun. Dia mulai menjaga jarak denganku, sampai akhirnya kami kehilangan kontak.
Untuk tidak membebani mereka, aku mulai belajar dengan giat. Namun Phillip, dia- tidak suka dengan ku. Karena aku-
"Kau dan aku tidak punya hubungan darah! kenapa kau harus jadi yang terbaik?! bukankah aku anak mereka? kau ini anak dari monyet kau tahu!" serunya yang membuat hatiku tertusuk hingga hancur.
Karena kejadian itu, aku membatasi bicaraku. Aku mulai belajar, melampiaskan semuanya ke dalam buku.
'Seandainya aku bisa merubah takdir'
__ADS_1
Takdir bisa diubah, jika kita bertahan... maka dari itu aku mulai bertahan, tidak menerima cinta dari siapapun lagi itulah yang terbaik.
*back to 3020
Reina P.O.V.
Selasa, 2 maret 3020 (12.00 A.M.)
Berbaring di rumah sakit benar-benar membosankan. ha- aku harap aku bisa cepat pulang. Apa sih skizofrenia skizofrenia, tapi apakah benar aku hanya berhalusinasi ? Kenapa semuanya itu terasa sangat sangat nyata? hah- benar benar membuatku tak bisa berpikir lagi.
Namun di hari yang tenang ini pasti saja ada rusuh-rusuhnya. "REINA BEBEBKU TERCINTAHH" teriak Pennelope dengan keras. "HEH GW KAGET, GW BISA KENA SERANGAN JANTUNG GARA-GARA LU NGAGETIN GW!" Teriakku dengan mata terbelalak kaget.
"Hehe~ peace!" ucapnya sambil bergaya peace (2 jari termasuk jari telunjuk dan jari tengah ditunjukkan membentuk V). "jangan ngambek dong~ nih gw bawa cake!" Aku yang mendengar kata cake itu pun langsung luluh, karena cake itu benar-benar kesukaanku. "weh yaudah aku maafin kamu!" ucapku.
"btw lu kenapa bisa masuk rumah sakit beb?" tanyanya dengan mata berbinar-binar miliknya. Dia memakai mata berbinar-binarnya hanya untuk membujukku memberi tahu apa yang terjadi. "Dia kena Skizofrenia" Jawab mamahku yang baru masuk ruanganku.
"ih! mamah jangan kasih tau dong!" seruku kepada mamahku yang baru masuk. "skizofrenia- eh iya itu ! penyakit otak??" ucap Pennelope yang tak percaya dengan apa yang ada di otaknya.
Biasa anak ambis, tak heran mengapa dia tau penyakitku."Skizofrenia adalah gangguan mental yang terjadi dalam jangka panjang. Gangguan ini menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku. Gejala tersebut merupakan gejala dari psikosis, yaitu kondisi di mana penderitanya kesulitan membedakan kenyataan dengan pikirannya sendiri.
Skizofrenia sering disamakan dengan psikosis, padahal keduanya berbeda. Psikosis hanya salah satu gejala dari beberapa gangguan mental, di antaranya skizofrenia. Berdasarkan WHO, diperkirakan lebih dari 21 juta orang di seluruh dunia menderita skizofrenia. Penderita skizofrenia juga berisiko 2-3 kali lebih tinggi mengalami kematian di usia muda" jelas Pennelope dengan panjang lebar.
Sebentar gangguan mental? sejak kapan? bukankah aku hanya berhalusinasi?
Dan apa lagi menyebabkan kematian, "anu- Pennelope apakah skizofrenia itu bisa disembuhkan?" tanyaku dengan ragu. Dia melihatku dengan iba, melihatnya aku pun tidak bisa menahan air mataku.
Dia memelukku dengan erat, "bisa, karena itu kau jangan depresi... aku ada bersamamu" ucap Pennelope dengan nada yang menghibur. Aku membalas pelukannya, "Pennelope trimakasih kau sudah menerima anakku apa adanya" ucap mamahku dengan senyum ramahnya. Pennelope melepas pelukannya, "Sama-sama Tante! Reina kan sahabat terbaikku!" serunya kepadaku. Pennelope tersenyum lembut kepadaku, lalu "jika dia tidak menerimaku dengan baik, aku pun tak akan seperti ini padanya" ucap Pennelope dengan nada sedikit merendah.
Mamahku tersenyum melihat aku dan Pennelope yang akur seperti saudara kandung. "Mungkin jika, aku laki-laki aku sudah lemarnya dari dulu!" ucap Pennelope sambil terkekeh. "Apaan si- jiji woi!" ucapku sambil tertawa.
Ugh- kepalaku sakit lagi. "mah, Pennelope aku istirahat dulu ya kepalaku pusing lagi" ucapku perlahan. Mamah ku dan Pennelope langsung menutup mulutnya. dan mengganguk tanda setuju, "Pennelope, gw berterimakasih karena lu udah jenguk gw" ucapku sambil tersenyum.
"weh, ini bukan kata-kata terakhir lu kan?" ucapnya panik. Lalu mamahku juga sepertinya setuju dengan kata-katanya. "NGA WEY LAH" Seruku sambil tertawa. "gw mau tidur bentar aja, ntar klo kritis lagi panggil weh dokter" ucapku lagi. "iya ntar mamah bisa langsung panggil dokter" ucap mamahku dengan muka seriusnya.
Aku mengganguk, lalu tidur.
**Pennelope P.O.V. **
Selang beberapa menit, aku mendekati Reina dan melihat kondisinya "wah ternyata benar, dia benar-benar terlelap" ucapku sambil melihat posisi tidurnya. "Iya, memang dia anak yang gampang tidur" jawab Ibu Reina.
"Iya ya, oh iya tante ini Pennelope mau ngasih buah tangan. tadi aku tidak sempat mengasihnya kepada tante karena sibuk ngobrol ama Reina... hehe" ucapku sambil menyodorkan keranjang buah-buahan. "eh~ padahal gausah repot-repot ah, jadi ngerepotin~" Jawab Ibu Reina dia terlihat takut merepotkan aku. "ahahah nga papah kok tante~ Reina juga udah baik ama aku, jadi ini nga seberapa~" ucapku langsung memberikan keranjang buahku. "Baiklah, trimakasih yaa~" jawab Ibu Reina dengan ramah.
"eh iya bu, sama-sama~ tapi itu cake yang saya bawa cuma buat Reina tante... saya minta maaf..." ucapku merendah dan merasa tidak enak. "iya gppp Pennelope, segini aja tante dah bersyukur~" jawab Ibu Reina dengan Ramah.
"Ngomong-ngomong Pennelope apakah kau bisa menceritakan tentang Reina kepadaku?" tanya Ibu Pennelope dengan senyum ramahnya.
-T. B.C (To Be Contunied) To the next chapter
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hi~ Jangan lupa pencet like dan add favorite yaa~
Karena sekecil apapun dukungan kalian sangat membantu author loh !
__ADS_1
Makasih dah baca sampe akhir :D <3