'Intuisi Waktu'

'Intuisi Waktu'
Chapter 16 - Invisible Injury


__ADS_3

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


...Chapter 16 - Invisible Injury...


Dokter mulai mengambil stetoskop, menaruhnya di dada. "detak jantung, normal" gummnya sambil menulis dataku di sebuah kertas. Lalu ia mengambil tensi darah untuk mengecheck keadaan darah, kolestrol, gula darah. hampir semua di check, karena aku memintanya untuk mengecheck keadaan fisikku.


Semua check up kecuali check up laboratorium dan lain lain yang melibatkan alat canggih/ yang berukuran besar.


Setelah semua check up dilakukan, "semua check up sudah dilakukan, semuanya normal" ucapnya dengan serius.


Aku mengganguk mengerti, "Dokter sesungguhnya saya ingin bertanya, apakah ada seseorang seperti ku yang saat di check up normal. namun dia merasakan keadaan yang aneh di otaknya?" Dokter itu menghela nafas.


Aku menelan ludah dengan kasar, "sebenarnya, hasil yang kudapatkan darimu ini sangat mengesankan. semua yang kucek ini normal, namun saya menemukan hal janggal di cek fisikmu ini..." jawabnya dengan serius. Aku menggengam ibu jariku sedikit lebih keras daripada sebelumnya, "lalu..?" jujur ini membuatku tegang. "sepertinya kamu sudah mengalami hal hal aneh yang terjadi di tubuhmu kan?" tanyanya dengan serius. "iya dokter, tepat sekali" jawabku dengan tegas. "seperti apa contohnya?" tanyanya lagi, "seperti terkadang aku merasakan nyeri sendi, mual, pusing, dan terkadang aku merasakan halusinasi salah satunya seperti bisa berbicara dengan mimpi sendiri" jelasku dengan serinci-rincinya.


"ya, sama seperti dugaanku. kau memang pernah mengalami keadaan sakit, namun tubuhmu ini ada yang janggal ia bisa mengembalikan keadaan tubuhmu ke normal. apakah kau pernah mengalami kecelakaan yang berhubungan dengan teknologi?" tanya dokter itu setelah menjelaskan panjang lebar. Aku menggeleng, aku tidak pernah mengalami kecelakaan berhubung dengan teknologi kan? apa maksudnya? Kepalaku mulai pusing, karena itu aku mulai kehilangan keseimbanganku. Dokter itu panik, lalu segera mengecekku.


Setelah itu mataku berkunang-kunang, mataku tertutup lalu aku kembali memasuki alam mimpiku.


*Di bawah alam sadar Reina*


Namun kali ini aku hanya menemukan alam mimpiku yang berkebalikan daripada sebelumnya.


Kerusakan Alam dimana-mana, dan kedatangan penjajah? apa-apaan ini?


"Tolong!" ada suara teriakan yang berasal dari reruntuhan. "Yeri! apa yang kau lakukan? jangan berdiam-diam disitu!" ucap seseorang yang menyambar tanganku.


Sialan- aku ini bukan yeri yang kau maksud. "Kau salah orang!" Seruku dengan keras. "Yeri? ada apa denganmu?" aku melihat orang itu sekali lagi, dan melihat diriku menggunakan baju aneh yang ketinggalan zaman. Apa-apaan ini? "Yeri! ini bukan waktu untuk bermain-main!" ucap seseorang itu, eh dia laki-laki? hah- yang benar saja karena rambutnya yang panjang dan diikat itu aku jadi mengira dia perempuan.


Ya- sepertinya di mimpi ini aku menjadi yeri. tapi siapa yeri?

__ADS_1


"Ah~ maaf aku tadi sedang melamun" ucapku sambil menggaruk-garuk pipiku yang tidak gatal dengan telunjukku. "hah?" ucapnya bingung.


"Tolong!"


"sudahlah lupakan, ayo cepat bantu orang itu" ucap laki-laki itu padaku. Aku mengikuti langkah kakinya menuju reruntuhan itu, ternyata ada anak kecil yang terperangkap di sana. Astaga reruntuhan ini mah tinggal diakalin aja.


Aku menarik dahan pohon yang ada disana, loh ini tidak terlalu berat? kenapa badanku jadi ringan gini ya?


"Hey apa yang kau lakukan yeri?" ucap laki laki itu lagi. "ah~ kau bisa diam sedikit? aku sedang melakukan sesuatu, kau tidak melihatnya?" ucapku dengan kesal.


"Bodoh, itu tak ada hubungan-nya?" dia memberhentikan kata-katanya setelah melihatku mengangkan reruntuhan dan menahannya dengan dahan pohon itu. Matanya terbelalak, "hey! cepat tarik anak itu! apa-apaan kamu cepet!" Teriakku kesal.


Dia mengganguk-nganggukkan kepalanya, lalu menarik anak itu keluar. "Pergilah"


ugh-! tiba-tiba kepalaku pusing, terdengar lagi suara gelombang komputer yang terngiang-ngiang di kepalaku."YERI!"


*hosh hosh* mimpi macam apa itu? eh ini dimana? kenapa dadaku di tekan-tekan oleh alat pengejut? ugh ini kabel?


"HE? kok gitu? kenapa mamah ga bangunin aku?" ucapku panik. "gimana mau bangunin- kamu tadi kehilangan detak jantungmu!" Teriak mamah. "eh? pantas aja tadi nangis" jawabku dengan tenang.


Lalu papahku memberi kode kepada semua perawat, untuk meinggalkan ruangan ini sebentar.


"Reina, ada yang papah ingin bicarakan" ucapnya dengan serius. Eh? aku jarang melihatnya seperti ini, kira-kira karena apa ya? "iya pah sok aja..." ucapku dengan senyum kecilku. Ia menggengam ibu jarinya lebih erat dengan keempat jarinya, "sejak kapan kau memiliki semua penyakit ini?" aku mengerutkan kening tanda bingung. "apaan ?" aku menanya balik karena bingung.


"mah, bacain" ucap papah dengan serius. "eh, iya sebentar..." mamahku mengambil sebuah kertas. Sebentar itu kertas check up ku kan? mamah membacakannya, semua keadaanku normal. tapi keadaan otakku sangat mengharukan, aku mengidap penyakit skizofrenia. gangguan jiwa akibat otak terganggu, he? kenapa?


Aku mulai menangis, karena keadaan itu. Apakah ini artinya aku dikhianati oleh takdir? Bahkan- ini bisa mengakibatkan kematian? Bulu kudukku mulai berdiri, aku mulai meneteskan air mata.


"skizofrenia? apakah itu segawat ini?" tanyaku dengan keras.

__ADS_1


Orang tuaku, keduanya mengganguk setuju dengan muka yang sedih. "a-aku apakah selama ini aku mendapatkan penyakit itu?" hiks- benar aku tak bisa menahan diriku lagi.


"apakah aku pernah MENGALAMI KECELAKAAN MAH?" seruku dengan sekeras-kerasnya. "apakah aku- di- hi.d-du-dupka-n kembali atau semacamnya?" ucapku menangis.


Aku tak mengerti- kalau begitu semua ini hanya khayalanku sesaat?


Apa selama ini aku- dipermainkan?


Tiba-tiba ada sentuhan hangat yang menyentuh tubuhku.


"mah?" tanyaku sambil menangis.


"Nak, kenapa kau tidak memberitahu kepada kami kalau kau depresi?" tanya mamahku sambil memelukku dan mulai meneteskan air mata.


a-aku masih diingat oleh mereka? aku kira... mereka tidak peduli terhadapku. Aku- bertrimakasih, astaga Ya Tuhan Trimakasih... namun sedihnya- aku belum bisa memberitahukan pada mereka apa yang sebenarnya terjadi.


"A-aku kira mamah tidak memedulikanku" ucapku sambil terisak-isak. "Bodoh! mamah dan papah akan selalu ada untukmu!" Mamah mulai menangis, aku membalas pelukan nya. Lalu papahku yang tadinya cuek ikut memelukku setelah mamahku selesai memelukku.


'ternyata mereka tidak membuangku...'


'Tuhan, aku benar-benar berterimakasih'


Skizofrenia, terimakasih... karena kehadiranmu, aku bisa menyadari bahwa orang tuaku masih ada untukku.


-T. B.C (To Be Contunied) To the next chapter


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Hi~ Jangan lupa pencet like dan add favorite yaa~

__ADS_1


Karena sekecil apapun dukungan kalian sangat membantu author loh !


Makasih dah baca sampe akhir :D <3


__ADS_2