
... Chapter 03 - New Rules...
3 R.d Person P.O.V
"Pak, tekanan jantungnya sudah kembali!" ucap salah satu staff. "Bagus, lanjutkan..." kata James sambil tersenyum. "Ya, ini semua permulaan Reina. karena kau akan kembali padaku" gumamnya.
Pria itu menatap dekat-dekat proses yang terjadi dengan tubuh Reina kekasihnya itu di depan tabung reaktor.
"KAU?! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Pennelope yang tak tega melihat proses itu. "ah.. pennelope? bukan kah kau senang bahwa temanmu akan kembali?" tanya james sambil tersenyum kecil.
"BUKAN KAH KAU TERLALU MENYIKSANYA? LALU KENAPA KAU TIDAK BILANG KALAU KAMU YANG MEMILIKI MAYAT REINA YANG ASLI?!" teriak Pennelope lagi. "Lalu yang ada di rumah duka ...? *hiks*" sambung Pennelope.
"oh soal itu, aku terpaksa memalsukan abu dari Reina. dan aku menggambil kembali mayatnya." kata James
"Lalu ?! orang tuanya?!" Tanya Pennelope dengan nada shock. "aku sudah meminta izin, dan mereka setuju." jawab James dengan tenang. "Pantas saja kau menyuruhku merahasiakan kematian ini kepada orang sekitar" ucap Pennelope dengan nada tinggi.
PLAK! Pennelope menampar James."AKU TAK TAHU CARA PIKIRMU JAMES! YA MUNGKIN KAU JENIUS, TAPI KAU?! MEMBUAT REINA SEBAGAI KELINCI PERCOBAAN?!" teriak Pennelope dengan mukanya yang terlihat pasrah, marah, kesal, sekaligus sedih.
"ya, terimakasih atas tamparannya" ucap James sambil tersenyum. "Reina bukanlah kelinci percobaan, karena itu aku akan bertanggung jawab jika semua ini berjalan ke arah yang salah" sambung James lagi. "Apa kau tak percaya sihir?" Tanya James dengan muka dinginnya. "Kau..?! masih saja bercanda? hah?" kata Pennelope dengan nada tinggi. "apa kau tidak tahu bahwa Reina mempunyai kekuatan majis?" Tanya James.
"Hah? apa?" kata Pennelope dengan nada kaget. "Kau masih saja bercanda ya James? aku tak percaya kau masih percaya tentang hal takhayul seperti ini..?!" Pennelope terlihat sangat kesal dan marah, bahkan sampai seluruh staff melihat mereka sambil berbisik-bisik.
"Kau tidak percaya? terus mengapa Reina masih bisa bertahan di tabung itu selama lebih dari 5 menit setelah percobaan?" ucap James sambil tersenyum kecil. "Hah? apa yang kau maksud james?" Kata Pennelope dengan nada tinggi.
"Bukannya kau lulusan Kimia dan biologi? apakah kau tau berapa lama orang bisa bertahan di tabung reactor?" tanya James dengan nada tinggi. "eh, 5 menit..." ucap pennelope sambil mengelap air matanya.
"karena itu kau tenang saja" ucap James sambil tersenyum. "maaf aku tak bisa memelukmu, karena aku hanya mau melakukannya bersama reina.." Sambung James. "Ecie nak bucin satu ini sampe rela idupin balik reina ahahah" kata Pennelope. "Sut ah, lap ingus mu sana. kyk bocil aj" kata James dengan mukanya yang salting.
"dasar pengalih pembicaraan" ucap Pennelope.
'apakah aku bisa mempercayai kekasihmu ini reina? dia terlihat ingin sekali mengembalikanmu... sedangkan aku, rasanya seperti orang bodoh yang tak bisa melakukan apapun' batin Pennelope.
"oh iya Pennelope, aku ingin kau dan aku berganti jam mengawasi tabung reaktor..." ucap James.
__ADS_1
"Eh aku?" tanya Pennelope dengan nada sedikit kaget. "Ya, karena tak ada orang lain yang bisa kupercaya" kata James dengan senyum meremehkan. "ugh, kau meremehkan ku ya?!" kata Pennelope dengan nada sedikit kesal.
"ga juga, kamu juga tahu kan kenapa aku mempercayaimu?" tanya James. "... pasti karna Reina?" jawab Pennelope sambil memonyongkan mulutnya. "kalau udah tahu ngapain nanya, heh" kata James.
"Ya kan siapa tau bukan karna itu" ucap Pennelope dengan senyum kecilnya.
***
back to 3020
Reina P.O.V
"eh, dimana aku?"
*hiks*
"REI?! lu dah sadar akhirnya makasih ya Tuhan" ucap Pennelope sambil terisak-isak. Pennelope langsung memelukku dengan erat. "dasar, aku gak apa-apa kok" ucap ku sambil tersenyum.
"ih sumpah rei, lu tadi nga nafas!" kata Penellope kembali menangis. "hah? seriusan lu?" kataku dengan nada kaget.
"IYA ASTAGA AKU LANGSUNG TERIAK MINTA TOLONG DI KANTIN" kata Pennelope dengan nada tinggi.
ugh-! kepalaku sakit lagi.
"aku dimana btw?" tanyaku dengan nada bingung. "di uks?" ucap Pennelope "sumpah rei lu ngagetin aja sumpah, aku tadi sampe bilang ke bu monna buat panggilin ambulans" sambung Pennelope. "eh? tadi?" kataku dengan nada tinggi karna kaget. "iya, kenapa?" tanya Pennelope.
"Eh si dodol, KAN SEKARANG AKU DAH BANGUN OI CEPET BATALIN!" "EH IYA JUGA, BU...!" kata Pennelope yang panik dan langsung keluar mencari ibu monna.
"pft-" aku pun langsung tertawa karena tingkah sahabatku itu. "Hei kau, bisa lebih tenang?" terdengar suara pria parau di sebelah hordeng. "hah? siapa?" tanya ku.
*krik krik*
"mungkin hanya halusinasi ku saja" gumamku. "itu bukan halusinasi, karena aku yang menyuruhmu diam"
Pria itu membuka hordeng, dan melihatku dari atas sampe bawah dengan cepat.
__ADS_1
Pria ini memiliki proporsi tinggi, tentunya badan yang ideal, mukanya ya... lumayan ganteng sih, tpi aku ga suka ama cara bicaranya. "Lu siapa?" tanyaku. "bukan urusan lu, cewe penyakitan" katanya dengan memasang wajah yang dingin.
'***- dah cari masalah aja dia'
'tahan rei-'
"heh lu ya" kataku dengan nada sedikit kesal. "kamu punya teman yang peduli juga ya" ucapnya lagi dengan wajah yang dingin. "iya thanks" ucapku sambil tertawa kecil. "kau pintar membalas kata-kata orang ya" katanya dengan wajah yang sedikit menyebalkan "yaiyalah~" kataku sambil menyombongkan diri. "ya tetap saja bodoh" katanya dengan wajah yang flat.
'orang ini nyebelin banget dah'
"hm~ masa? lebih baik kau pergi sana~ lagian~ ini kan bukan urusanmu~ kamu punya banyak waktu ya? kenapa kamu kesini, ini sangat membuang-buang waktumu loh~" ucapku dengan muka yang menyebalkan.
"kau tidak bertrimakasih?" katanya dengan nada sombong. "ha ? apaa sih?!" jawabku dengan nada kesal.
"REII~"
'ini pasti Pennelope' kataku dalam hati. *Pennelope membuka hordeng dan mendekati kasur yang aku duduki.
"eh? kamu masih ada disini?" tanya Pennelope. "..." pria itu diam, tanpa mengatakan apapun. "lu kenal dia nel? ini dia kenapa sih?" tanyaku kepada Pennelope. Pennelope langsung menjitak kepalaku.
"Ih~ sakitt" kataku dengan nada sedang. "dasar aneh, dia itu yang membantu aku menggendongmu ke uks!" bisik Pennelope. "eh?"
"ah maaf~ temanku sedikit shock sih~" kata Pennelope kepada pria itu. "..." pria itu masih diam, tak berkata-kata.
"eh maaf mr.menyebalkan, aku tak tahu kau sudah membantuku" ucapku sambil mengelurkan nada rendah.
Pennelope menggeleng-gelengkan kepala karena melihat aksiku yang tadi. "namaku James, bukan mr.menyebalkan" kata pria yang tadi mengucapkan namanya. "iya thanks James..? udah ngebantu aku:)" ucapku dengan nada terpaksa. "kalau kau tak sudi ga usah bertrimakasih" kata James, lalu beranjak pergi.
"ih belagu banget" ucapku. "heh rei orangnya masih belum pergi malah keceplosan" kata Pennelope dengan panik.
"eh? ih gimana dong" kataku dengan nada panik. "aduh capek deh..." ucap Pennelope.
-### T. B.C (To Be Contunied) To the next chapter
Hi~ Jangan lupa pencet like dan add favorite yaa~
__ADS_1
Karena sekecil apapun dukungan kalian sangat membantu author loh >v
Makasih dah baca sampe akhir :D <3