'Intuisi Waktu'

'Intuisi Waktu'
Chapter 05 - Next step


__ADS_3


...Chapter 05 - Next step...


Reina P.O.V


Setelah menjawab pesan Pennelope, aku langsung turun ke bawah untuk mengecek.


"Rei...? tumben banget bangun jam segini" ucap everly yang tak lain adalah ibuku. "iyaa dong mah~ kan reina tadi bangunnya kepagian" kataku sambil menyentuh rambutku dengan pelan, dan tersenyum kecil. "yaudah kebetulan, bantuin mamah dadar telor" kata mamahku kembali fokus kepada makanan yang ia siapkan.


"oghey mah" kataku sambil mengangkat jempol. Aku berjalan menuju wastafel dan mencuci tanganku dengan bersih, setelah mencuci tangan juga mengeringkannya aku langsung membantu mamah memasak.


Setelah kami memasak sambil ngobrol dan menyiapkan makanan, tentunya aku dan keluargaku makan bersama di meja makan. Ya, obrolan kami sangat banyak dari yang santai sampai yang mendalam. Seberes makan, aku bersiap bersama papahku untuk pergi.


***


Saat di jalan, aku kembali memikirkan mimpi semalam. Tetapi sayangnya aku tak mengingat mimpiku dengan jelas, karena aku merasa ada yang penting disana. Yasudahlah aku tak peduli, jika mimpiku penting pasti aku mengingatnya dengan jelas.


Sesampai di sekolah, aku langsung menemui Pennelope.


"Mana nih si Pennelope, keknya belum datang..." gumamku. "huh?" aku melihat sekilas seorang pria yang jalan menuju kelasnya. Kalau nga salah, dia cowo yang juga membantuku kemarin. 'ya tapi sombong gitu aku juga males nyapa, hm' gumamku.


"BEB, MAAP TELAT" Pennelope berlari dari ujung koridor, sambil tergesa-gesa. "yaelah, lu yang ngajak dateng deluan... lu yang telat" ucapku sambil memonyongkan bibir. "ih tadi ada cogan kak" kata Pennelope dengan mukanya yang sok imut.


"jijay heh wkwkwkwk" kataku sambil tertawa kecil.


"ih kamu mah, eh biasanya ya di drakor-drakor gitu... orang yang kayak lu jodohnya tuh kek CEO2 gitu" ucap Pennelope sambil nyengir. "dasar gila, drakor aja kerjaannya" ucapku sambil tertawa. "au ahh ga seru" katanya sambil memonyongkan bibir. 'eh dia lagi?'


"Nel, lu tau cowo kemaren yang tinggi-tinggi?" kataku sambil berpikir. "yang mana?" katanya sambil bertanya-tanya. Karena Pennelope orangnya peka dia langsung melihat sekeliling. "Ohhhhh, James? ecieee" ucapnya sambil menggunakan teknik comblangnya. "diem lu ***, klo ga gw tinggal ya bye" ucapku sambil memasang muka flat.


"ih g lucu,, ato hm... salting ya? eaaaa" kata Pennelope sambil nyengir. "lu temen ato apa si wkwkwk" ucapku sambil tertawa kecil. "Ya kan siapa tau, ada keajaiban UwU. Cewe cantik Vs Cowo Dingin" Katanya sambil tertawa. "Lu aja lah jadi pemerannya, sekalian tuh ajak pa satpam" aku kembali mengejeknya sambil tertawa.


"udah ah kamu merusak halu ku hiks" katanya sambil memasang muka sok imut. "ok babai, temen siapa gw ga tau byeee"


Kami melanjutkan pembicaraan kami, mulai dari candaan, gosip, dll. Entah kenapa, aku merasa ada yang janggal dengan cowok tadi yang namanya James. Seperti tak asing, bahkan aku merasa dia dan aku sudah dekat sejak lama. mungkin itu hanya halusinasiku saja...

__ADS_1


***


3 R.d Person P.O.V


Year 3030-


"Pak, kami sudah punya notice dari percobaan ini" ucap salah satu staff.


"Notice apa?" kata James sambil memasang muka yang bertanya-tanya.


"sepertinya Ny. Reina berhasil melewati Metode 3"


"hah? sudah metode 3?" ucap James dengan ekspresi sedikit kaget. Staff disana saling berpandang dan mulai menggosip, namun James melihat mereka dengan tajam. Karena itu mereka berhenti menggosip.


"Lanjutkan saja, karena aku rasa sebentar lagi dia akan datang ke masa ini " ucap James sedikit puas.


"Baik Pak..." Ucap staff itu dan langsung pergi menjalankan tugas. "James?" Suara ini tak lain dari Pennelope yang baru datang ke Lab itu. "oh, sudah datang?" ucap James dengan muka tak berekspresinya. "Lu poker face banget dah" ucap Pennelope sambil tertawa. "ya mau gimana lagi, muka emang gini" katanya dengan muka flat seperti biasa. "yaudah sana, istirahat. gw yang lanjutin jaga percobaan" ucap Pennelope. "iya thank u, ya" katanya sambil tersenyum kecil dengan muka flatnya.


"lu klo senyum gosah paksain" seru Pennelope. Seketika muka James berubah, dia pergi meninggalkan yang lainnya.


"lu klo senyum gosah paksain" seru Pennelope.


'ada benarnya juga sih...'


*sepintas percakapan yang diingat*


'James, gw tau lu kayak gini gara-gara ortu lu kan?'  'udah yok semangat lagi, kan aku ada disini'


*end*


'Reina, aku harap kamu cepat kembali... aku sudah tak bisa menahan ini lebih lama lagi'


Tanpa disadari air mata ku menetes, saat aku mulai menekan tombol menutup pintu lift.


***

__ADS_1


Reina P.O.V


-Year 3020-


'Reina, jangan lupa aktifkan ingatan mu ya'  *entah mengapa panggilan ini selalu menggema di kepalaku*


Aku tak mengerti mengapa hari-hari ini aku terus merasakan firasat buruk. dan lagi-lagi kepalaku pusing, semakin siang kepalaku rasanya seperti mau pecah, "Tahan Rei, jangan kek kemarin ngerepotin orang" Aku mencoba menahannya, sedikit demi sedikit pusing kepalaku mulai mengurang. Aku melanjutkan hariku seperti biasa, setelah sekolah aku pergi ke tempat les untuk mengulang lagi pelajaran sekolah.


Kebetulan Aku dan Pennelope berada di les yang sama.


"Rei, lu udah ngerti trigonometri yang tadi?" tanya Pennelope sambil meminum colanya. "ngerti sebagian, sisanya nga haha" ucapku sambil tertawa kecil. "btw lu dari tadi kayak ada pikiran, kenapa rei?" tanya Pennelope dengan muka penasarannya. "ah itu, aku tadi kepikiran soal ingatan" ucapku.


"heh~ yang bener aja, pasti gara-gara kemaren kan?" tanya Pennelope lagi dengan memonyongkan mulutnya.


"iya hahah, sial banget kan?" kataku sambil mengangkat bahu serta kedua tangan, sekaligus menggelengkan kepala. "ya mungkin kebetulan aja si.." katanya lanjut meminum cola. Pennelope berhenti minum, dan dia menatapku lekat-lekat.


"hey, klo ada masalah bilang aku ya... kamu bisanya selalu nutupin masalahmu sendirian" Pennelope sekali lagi melihatku, terlihat dari mukanya ia seperti khawatir. "ih~ so sweet uhuy" ucapku sambil menggodanya. "Ga lucu ah" Pennelope memang anak yang sedikit manis, makanya tak sedikit cowo yang naksir dengannya.


"ahahah canda kok~ makasih ya btw" kataku sambil tersenyum lebar.


"iya dong ahahah, chill~" katanya dengan gaya yang salah tingkah. Hari itu, aku menyadari bahwa Pennelope benar benar menyayangiku. Ya mungkin, karena aku dan dia sudah berteman lama. Bagiku, Pennelope jika mau menjadi sahabatku saja sudah cukup. Tak terasa, waktu bergulir begitu cepat. Sekarang aku sedang berjalan menuju rumah, bersama Pennelope. Ya kebetulan rumah-ku dan rumah Pennelope berada di satu perumahan, setelah melewati taman bunga kami berpisah. Karena rumah-ku berada di sebelah kanan, sedangkan aku disebelah kiri.


Oh iya, jika kalian menanyakan mengapa kami tidak berangkat bersama setiap pergi ke sekolah?


Karena, Pennelope selalu melarangku untuk datang ke rumahnya. Ya aku tau, kalau setiap orang mempunyai privasi. Jadi lebih baik aku tidak menanyakannya.


Tetapi entah mengapa, kakiku tiba tiba terasa berat. mataku serasa ingin tertutup, kepalaku pusing seperti mau pecah rasanya. Apakah penyakit kemarin kambuh... lagi?


-T. B.C (To Be Contunied) To the next chapter


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Hi~ Jangan lupa pencet like dan add favorite yaa~


Karena sekecil apapun dukungan kalian sangat membantu author loh >v

__ADS_1


Makasih dah baca sampe akhir :D <3


__ADS_2