'Intuisi Waktu'

'Intuisi Waktu'
Chapter 14 - Pennelope Maeve (3)


__ADS_3

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


...Chapter 14 - Pennelope Maeve (3)...


Pennelope P.O.V.


"Wey lu jan ketawa-ketawa *** wkwkwk" ucap Reina sedikit ngegas. dia mulai memberhentikan tawanya. "KAN LU YANG MULAI *** AWOKWOKWOKWOK" ucapku sambil menghentikan tawa. Sumpah wey\, gw berusaha lupain malah terngiang-ngiang mukanya dia di pikiran gw. "yaudah wey! wkwkwk" ucapnya sambil memberhentikan langkahnya.


"lah kok berenti?" ucapku dengan nada bingung. "Pennelope, lu ternyata orang yang baik~ sepertinya kau sedikit mirip denganku" ucapnya dengan wajah manisnya. "eh iya kah?" tanyaku. "m-hm" katanya sambil mengganguk. "dan tadi kau bertanya mengapa kita berhenti kan?"


Aku mengganguk, Reina mulai tertawa kecil. Justru tindakannya membuatku berpikir,


'apa-apaan dia'


"Bodoh, kita udah nyampe di depan uks!" katanya sambil menyentil kepalaku dengan ujung jarinya. "aw! eh iya ya-" kataku baru sadar. "gw nyentilnya pelan btw wkwk" ucapnya dengan nada flat. "heeh lah gimana lu wkwkwk" jawabku.


Semuanya berawal dari hari itu, dimana Reina menemaniku melewati suka dan duka.


*end of flashback.


'sial aku menangis lagi' Reina, dia adalah anak baik namun sifatnya agak sedikit menyebalkan. Tapi hal itu justru malah membuatku semakin merindukannya, tentu saja dia termasuk salah satu orang yang kusayangi. Malahan PALING kusayangi, aku tahu kalian akan mengerti maksudku.


Dia juga menadi sebuah perubahan bagi hidupku, mungkin tanpa dia aku sudah membunuh diri sendiri karena depresi.


Haha, lucu sekali... mengapa dulu aku tak menikmati waktu bersamanya?!


Tanpa kusadari air mataku mulai mengalir deras daripada sebelumnya, mulai teringat memori-memori lama. Dimana Reina mengataiku cengeng, dimana kita bertengkar akan masalah sepele, dan masa-masa dimana kita bolos sekolah karena malas. Semuanya itu... benar-benar membuatku sesak. Kenapa semuanyaberlalu begitu cepat, ha?


Benar saat ini aku merasa hampa, benar-benar hampa.


*flashback*


Aku, Pennelope Maeve terlahir di keluarga berambisi. Aku 3 bersaudara yakni kakakku perempuan, kakakku laki-laki dan aku. Sebagai anak bungsu, aku bisa dibilang anak yang lebih jenius daripada kakak-kakakku. Karena bisa dibilang aku memiliki keberuntungan yang sangat baik.

__ADS_1


Tapi apakah benar seperti itu disebut keberuntungan?


Terlahir dengan Iq 60, sedangkan kakak-kakakku hanya terlahir dengan Iq 50 dan 51. Keberuntungan? oh- tentu tidak. Ini neraka...


Pagi hingga malam, duduk di tempat yang penuh buku-buku. Politik, ekonomi, ilmu pengetahuan alam, matematika, ilmu keuangan/ akuntansi, domestik, angkasa luar, ilmu mengenai dunia, dan sebagainya.


Aku manusia, kan?


Tolong katakan kepadaku...


Siapapun itu, aku manusia bukan? iya- sepertinya begitu. Tapi aku tak sendiri saat itu, tentunya diajarkan oleh guru privatku yang selalu datang sesuai jadwalnya. Setiap bulan tes Iq, jika tidak berta,bah kurang lebih 5. Aku... bisa saja tidak makan 3 hari.


Setiap malam, aku harus dites tentang apa yang kupelajari. "Sukses kan? kau mau sukses kan? kau harus belajar lebih giat daripada sekarang! jadilah yang terbaik, bukan ekor tapi kepala- kau pernah belajar itu kan?" itulah kata-kata yang sering kudengar.


Belajar ? Pft- sepertinya ini hanya caraku bertahan hidup daripada mati secara mengenaskan.


Sin Cos Tan ? sudut istimewanya kan? aku sudah bisa menghafalkannya, aku juga sudah mengetahuinya sejak berumur 4 tahun. Gila kan? Sepertinya tidak... ? atau malah sebaliknya? aku tak peduli.


Capek. C-a-p-e-k, bukankah otakku sudah pintar?


Udahan ajalah kalian ga bakal tau apa-apa, ga pernah ngerasain! kalian-


Plak! tamparan keras mengenai pipiku. Sakit- tidak ini tidak sakit! bahkan aku pun sampai merupakan rasa sakit yang sebenarnya. "kenapa cuma bisa 150?! mamah ga mau tau harus 200!"


"mamah kira aku eins-" plak!


"jangan banyak alasan, dan cepatlah belajar!" ucap ibuku dengan dingin. "oh iya hampir saja lupa, ada hadiah dari mamah" ucapnya sambil mendekatiku. Dia mengambil tanganku dengan kasar, lalu...  "J-A-N-G-A-N--M-A-K-A-N-!" katanya sambil mencengkram tanganku. 'sakit' itulah kata-kata yang tak sempat kuucapkan.


Setelah memberi hadiah padaku, ia pergi membanting pintu ruang belajarku. Beberapa tahun kemudian aku hanya bisa mencapai Iq 150... Ya mungkin itulah batasanku, kemudian aku meminta kesempatan kepada ibuku untuk belajar seperti anak biasa.


Entah kenapa ia mengizinkanku, ia malah ingin memberi tahuku bahwa mulai minggu depan aku akan pindah ke sekolah biasa. Tentunya hal itu menandakan bahwa aku diberi kesempatan hanya dengan 6 tahun di SD dan SMP, karena aku sudah menghabiskan waktu hidupku dengan belajar giat dari umur 1 tahun hingga aku berumur 8 tahun. Orang tuaku pun merasa tak apa melepaskanku begitu saja ke sekolah umum, alasannya supaya aku mencapai Iq 200 keatas.


Dengan adanya perbedaan tempat belajar, ortuku berharap agar aku dapat menjadi anak yang jenius. Tentu saja aku, langsung diterima oleh sekolah tepat si kelas dimana anak-anak seumuranku disana. Di SD itulah aku bertemu malaikat tanpa sayap, yakni Reina. Terdengar sangat lebai, tapi tak apa memang dia cocok untuk panggilan itu. Bahkan, jika dia terlahir di keluarga sepertiku. Aku yakin, bahwa dia dapat menyelesaikan masalah dengan baik.

__ADS_1


*end of flashback*


Yap, dia pasti bisa menyelesaikan fase reductionnya. Dia anak yang kuat, aku percaya itu.


1 April (09.30 A.M.) *di tempat keluarga Adams*


Troy P.O.V.


"m~ hm~" terdengar suara senandung adikku yang cantik sedang merapihkan rambutnya.


Sudah lama, aku tak melihat adikku bersenandung seperti ini. Sepertinya memang dia ingin bertemu dengan James- si cowo gila, jelas-jelas adikku ini lebih cantik daripada mantan kekasihnya itu.


hah... kira-kira apa yang dilakukan cowo itu di lab, jika firasatku benar sepertinya aku haru mengikuti adikku lebih tepatnya membututinya sampai ke sana!


"He~? kakak? apa yang kakak lakukan disitu?" Clarissa adiknya itu pun berbalik karena menyadari keberadaan kakaknya. "cuma nengok doang~ disewotin~" jawabku dengan nada sedikit mengejek. "siapa yang sewotin kakak? dasar kakak sok tau" Balas Clarissa dengan nada andalannya. "lagian~ aku cuma bilang ngapain kakak disitu? ya kan?" tanyanya dengan mata berbinar-binar.


"Kalau aku ga ngomong kayak gitu, pasti sebentar lagi kakak diseotin" ucapku dengan yakin. "cieee yang nyari alasan~ eh iya kak, btw~ cowok-cowok itu suka apa ya~?" tanya Adikku dengan nada manis.


"apa ya~ kalau kakak mah adek aja~" godaku sambil terkekeh. "Jijik~ kalau begitu aku harus dandan cantik-cantik ya kan? hehe~ makasih kakak udah ngasih aku inspirasi~" ucapnya dengan lembut.


Clarissa P.O.V.


Ya, pada dasarnya cowok takluk pada wanita~ Karena itu, aku akan menaklukannya~ hehe~! semangat Clarissa<3!


-T. B.C (To Be Contunied) To the next chapter


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Hi~ Jangan lupa pencet like dan add favorite yaa~


Karena sekecil apapun dukungan kalian sangat membantu author loh !


Makasih dah baca sampe akhir :D <3

__ADS_1


__ADS_2