
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
...Chapter 19 - Adams Crew...
3 R.d. Person P.O.V.
Setelah Pennelope masuk ke lift, james menutup pintu. Lalu menekan tombol Basement (parkiran), ia mulai membuka ponselnya tentang chatnya dengan Clarissa Adams. Tak lupa sebelumnya ia mematikan koneksi wifinya. James memberi lihat ponselnya,
Pennelope melihat ponsel James dekat-dekat.
"nih pegang!" ucap James memberikan ponselnya, Pennelope mengganguk dan menerima ponselnya dengan hati-hati.
'entah mengapa kalau orang ngasih hpnya, jadi keinget pas SD aku ngejatuhin hpnya Reina'
James kembali memasukkan tangannya ke dalam jas kemejanya. Pennelope mulai men-scroll Room Chat James dengan Clarissa, "Rupanya begitu, aku mengerti!" pPennelope mengembalikan Ponsel James. Lalu james menerimanya dengan hati-hati,
"Hey, emangnya kita mau kemana?" Pennelope mengernyitkan keningnya.
"entah, tetapi kita akan menarik perhatiannya" ucap James. "Ha?~" tanya Pennelope dengan bingung.
"Kita akan melihat situasi dan kondisi, nanti kita bicarakan di mobil" Jawab James.
Pintu Lift terbuka, lalu James menekan tombol tutup pintu. Saat Pennelope ingin keluar lift, James menarik tangannya dan menekan tombol tutup pintu. "Heh! apa maksudmu James?" Tanya Pennelope kesal.
James melepaskan tangan Pennelope, lalu menekan tombol lobby. "Lu masalahnya dah 2 kali narik tanganku kayak gitu-" Gerutu Pennelope kesal. "maaf" Jawab James dengan tenang. "Kau-" Geram Pennelope, "tapi kok kita naik lagi ke lobby?" tanya Pennelope dengan kebingungan.
__ADS_1
"Aku mau ambil barang-barang yang menurutku nantinya berguna" jawab James dengan muka flatnya. "Ha?" tanya Pennelope bingung. Pintu lift terbuka, James dan Pennelope keluar dari lift. James mendekati meja resepsionis, "kalian tolong ambilkan 2 laptop dan 2 buku kosong" ucap James dengan tegas.
Pennelope P.O.V.
Saat aku ingin keluar dari lift, James menarik tanganku dan menekan tombol tutup pintu. "Heh! apa maksudmu James?" ucapku kesal. Yaiyalah siapa yang nga marah, sama orang plin-plan' Dia melepaskan tanganku tanapa berkata apa-apa. Lalu... dia menekan tombol lift, menekan tombol lobby?
"Lu masalahnya dah 2 kali narik tanganku kayak gitu-" Gerutuku dengan nada kesal. "maaf" Jawab James dengan tenang. "Kau-" Geramku, yasudahlah biarkan saja.
"tapi kok kita naik lagi ke lobby?" tanyaku dengan kebingungan."Aku mau ambil barang-barang yang menurutku nantinya berguna" jawab James dengan muka flatnya. "Ha?" tanyaku bingung. Pintu lift terbuka, kami keluar dengan tenang.
Tapi aku\, benar-benar ga setuju sih dengan clarissa... gak habis pikir aja gitu... Masa soal privasi dilacak? dan lagipula dia terlalu mencurigakan. Dan James belum sepenuhnya milik dia\, ergh dia terlalu mencurigakan. Aku jadi mengingat kejadian saat Pennelope meninggal\, saat pemakaman palsu lebih tepatnya. Dia malah mengajak James dan aku pergi bersamanya ke bar\, kan- *****! bukannya berduka cita-
"Pennelope, ayo kita pergi!" ucap James dengan muka flatnya. "eh iya, ayo" jawab ku dengan singkat padat dan jelas. Pokoknya aku ga srek ama orang itu.
"kalian tolong ambilkan 2 laptop dan 2 buku kosong" ucapku kepada 2 karyawanku. "baik tuan, segera" ucap salah satunya. "Agak cepat ya, terimakasih" sambungku. Aku takut kita kehabisan waktu, karena aku malas bertemu dengan si benalu itu. Tampaknya Pennelope juga begitu, aku menatap sekilas Pennelope di sampingku.
Eh- wajahnya tampak sedikit menyeramkan, ada apa ya kira-kira? atau jangan-jangan, karena aku menarik tangannya.
"Tuan, ini 2 laptop dan 2 buku kosong" ucap salah satu karyawan yang sudah kembali. "Trimakasih banyak, oh iya jika ada pengunjung yang mencariku bilang aku ada urusan dengan nona Pennelope atau bertanya soal lab sebaiknya kalian curigai dia, dan tanya ada urusan apa... jika dia menanyakan tentangku jawab seperti apa yang tadi aku katakan" ucapku dengan muka datar. "baik pak, saya mengerti" jawabnya dengan mantap. Aku memberi senyum tipis, lalu menyadarkan Pennelope dari lamunannya itu.
"Pennelope, ayo kita pergi!" Pennelope tampak kaget dari lamunannya itu. "Eh iya, ayo" ya, jika dugaanku benar dia pasti mulai memikirkan si Be- Na- Lu. "Pegang nih-!" ucapku menyodorkan 1 laptop dan 1 buku kosong. Pennelope mengganguk dan tidak bertanya-tanya lagi. Kami berjalan menuju lift yang tadi kami pakai, menekan tombol lift. dan mulai memasukinya,
"Pennelope lu kalau bisa langsung mengerti apa yang ku maksud. kalau semisal meet up that person in accident"
ucapku tegang.
__ADS_1
*arti : bertemu orang itu secara tiba-tiba.
"ya~ santuy~ gini-gini gw pinter tau~" ucapnya menyombongkan diri. "iya si, lebih pinter daripada si-" aku menghentikan pembicaraanku dan keluar lift. Karena pintunya sudah terbuka beberapa detik yang lalu,
"aku tau~ Reina kan?" cengir Pennelope. Aku mengganguk setuju, lalu mengeluarkan kunci mobil sportku.
"Eh gila lu- pake mobil sport?" sentak pennelope. Aku mengerutkan alis, "kenapa? kan buat umpan. hey-" ucapku dengan tenang. "tapi itu terlalu- lebay" ucap Pennelope dengan muka yang menandakan 'apa-apaan dia, dia gila sekali'
pft- aku tertawa kecil melihat tingkahnya. "apa si, gila lu!" ucap Pennelope dengan nada kesal. "Pantes aja, jadi lu rencana buat dia salah paham? kan?" tanya Pennelope. "tak bertanya pun, sebenarnya kau tahu" jawabku. Pennelope tersenyum kecil, dan mulai mengikutiku masuk ke dalam mobil. Setelah aku masuk, aku membuka jendela. "masuk cepet, waktu kita nga banyak" seruku buru-buru. "iya ntar~" ucap Pennelope sambil membuka pintu belakang mobil. "Woi depan! gw emangnya sopir lu?" ucapku kesal. "iya bentar atu, dodol!" ucapnya sambil menutup pintu belakang. Pennelope masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahku, aku menyalakan mobil dan mulai menegendarainya.
Aku mengendarai mobil sportnya menuju cafe yang agak jauh jaraknya. sebenarnya ini pun perubahan rencana, sebenarnya waktu aku di telfon oleh benalu itu aku kepikiran mengajaknya ke cafe sebelah lab. Tapi itu akan ketahuan jika kita kesana, peluangnya 50:50. karena itu aku harus ke cafe atau ke resto yang agak jauh jaraknya sehinga aku bisa menaikkan peluang menjadi 70:30, tentunya peluangku untuk berhasil 70. 30 untuk gagal, astaga aku jadi keingat Reina yang selalu berbicara tentang peluang saat aku bermain catur dengannya.
3 R.d. Person P.O.V.
"kita mau kemana wey?" tanya Pennelope. "awalnya, aku ingin mengajakmu ke cafe 'diaxy' yang ada di sebelah lab. namun itu sepertinya terlalu berresiko. karena itu aku ingin mengajak mu ke resto 'ppanighans' lagian mau jam makan kan? untuk kali ini aku menraktir mu" ucap James sambil menyetir mobil. "wih~ traktir gais~" goda Pennelope. James tersenyum tipis melihat gaya Pennelope, "Tapi Ppanighans itu bukannya?" tanya Pennelope dengan muka yang menunjukkan kurang setuju.
-T. B.C (To Be Contunied) To the next chapter
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hi~ Jangan lupa pencet like dan add favorite yaa~
Karena sekecil apapun dukungan kalian sangat membantu author loh !
Makasih dah baca sampe akhir :D <3
__ADS_1