
...- A Dusty Photo -...
...•••...
..._Sabrang...
Cewek itu sekali lagi membuat gue tidak berkutik. Dia lagi lagi menunjukkan sisi yang selalu membuat gue merasa gue adalah makhluk paling bersalah di muka bumi ini. Dia menangis. Dengan drama yang membuat gue muak namun tidak pernah bisa melawan. Tangisnya mengisyaratkan untuk gue agar segera meminta maaf ketika dengan jelas dia adalah pihak yang bersalah.
__ADS_1
Seluruh pengunjung kantin menatap gue dengan sinis. Sembari membisikkam gosip ke kanam kiri. Mempengaruhi setiap tatap mata yang tadinya menatap gue dengan simpati berubah sama seperti mereka.
Akhirnya gue berlutut. Tentu dengan dongkol yang tidak bisa digambarkan lagi. Darah gue naik, kepala gue panas, kalo saja cewek ini bukan seorang yang berpengaruh atau berkuasa, gue akan dengan senang hati memukul wajah cantiknya.
"Abra!" Dia menyebut nama gue. Setiap mata mulai bersimpati, gue muak. Drama ini tidak akan pernah berakhir. "Jangan minta maaf." Lantas dia memegang lengan gue. Mengisyaratkan agar gue berdiri.
Apakah gue benar benar lelaki paling bersalah di muka bumi? Kesimpulan yang diambil hanya karena cerita dari mulut ke mulut di kanan kiri gue. Gue tidak ingin membela diri dengan mengelak tentang semua itu. Namun gue juga tidak akan membenarkan cerita berbumbu seolah gue memang bersalah. Karena akan lebih baik jika mereka mengenal gue secara pribadi. Mengerti siapa gue dan dengan begiti gue akan dengan senag hati mendengar penilaian mereka.
Gue menghela nafas, lantas menyandarkan punggung pada sandaran kursi penonton di lapangan basket. Berteman teriak para pesorak yang sedang menyebut nama idolanya dengan lantang. Kertas karton bertuliskan semangat mengayun ayun dari kanan ke kiri kemudian maju mundur terus berirama. Gue melihat betapa lincah banyak orang itu. Dengan kaos setengah basah karena keringat dan keterampilan luar biasa. Gue lagi lagi menghela nafas.
__ADS_1
Mereka berhasil mendapatkan panggung pertunjukan mereka. Meliuk liuk mengejar bola, menghindar hingga mengecoh. Terasa apik dimata gue. Namun bagaimana dengan gue disini? Masih mencari panggung yang pantas buat gue. Karena selama ini gue hanya menjadi pemain cadangan. Menjadi seorang yang siap sedia menggantikan peran ketika sang peran utama sedang menghilang. Dan tidak pernah bernai mengajukan diri untuk menjadi pemain ini. Gue tidak sepercaya diri itu.
Lantas pandangan gue terfokos pada para
pemain yang sedang duduk bersorak. Dipinggir lapangan dengan rompi kuning. Menutup kaosnya yang sebenarnya menjadi kebanggaannya. Itulah gue. Sang pemain cadangan. Nasib gue sebagai penyokong. Nasib gue sebagai pengganti. Tidak akan pernah masuk panggung jika pemain utama tidak cidera, tidak terluka. Namun apakah dengan begitu gue berdoa untuk hal itu. Gue sendiri tidak yakin. Apakah boleh dan apakah Tuhan akan mendengar jika gue berdoa untuk ketidak beruntungan orang lain.
Namun setelah itu apakah gue akan menjadi pemain dengan kemampuan sama dengan pemain utama? gue rasa tidak. Dan semua tiba tiba berakhir dengar percuma. Meskipun gue berdoa untuk ketidak beruntungan orang lain, pada akhirnya gue pun harus mencari jalan gue sendiri. Menyingkirkan bebatuan besar untuk bisa gue lewati. Lantas apa guna gue menyingkirkan orang lain jika akhitnya gue berjalan di jalan gue sendiri?
**
__ADS_1
Hi Hello...
Apa kabar semua?