
...- A Dusty Photo - ...
...•••...
..._Bulan...
Gue ngobrol sama Bunda setelah makan siang. Karena dia melarang kami melanjutkan tugas sekolah kami. Alasan konyol. Padahal ada sesuatu yang ingin dia gali dari gue.
Gue sedang mengupas kulit kacang ketika Bunda datang dengan nampan berisi teh ditangannya. Gue nyengir.
"Teh hijau. Kamu paling suka ini." Bunda menurunkan satu persatu gelas keatas meja. Lantas menyingkirkan nampan dibawah meja. Gue menyesap teh buatan Bunda dan tanpa basa basi lainnya bunda mulai menggali sesuatu tentang gue.
"Abra itu temen baru kalian." berhenti pada seruputan kedua gue menoleh ke bunda. Bentul, kan..
"Iya, Bun."
"Anaknya baik?"
"Banget, Bun."
"Bunda pernah ketemu dia, sekali." gue yang lanjut dengan kacang agak terkejut.
"Kapan? Masa, sih. Kayaknya dia baru sekali kesini."
"Adalah. Kamu nggak perlu tau."
Bunda, nih. Mancing. Pas umpannya dimakan malah nggak ditarik.
"Bunda pengen tau banyak tentang dia." Bunda menatap gue. Kemudian mengambil toples kacang yang sedang gue dekap.
"Dia baik. Kayak aku sama Felix. Cukup buat temenan sama Han."
"Bukan. Bukan itu. Bunda pengen tau banyak tentang dia kayak bunda tau banyak tentang kamu dan Felix." Bunda melanjutkan. Gue menghela nafas.
"Kenapa?"
"Tatapan matanya, sama kayak pertama kali bunda ketemu kalian."
"Bunda paham juga?"
"Jadi cerita sama Bunda, seberapa banyak yang kamu tau dari dia?"
Gue juga tidak tau banyak. Itu yang gue tau. Lucunya, gue sudah gamblang menceritakan latar belakang gue ke dia namun dia tidak atau mungkin belum. Bisa dibilang gue bodoh, oke. Salahkan gue.
"Dia jarang cerita."
Gue menjawab sembari merebut kembali toples berisi kacang yang tadi diambil bunda. Lantas berdiri dan meninggalka bunda dengan rasa penasarannya. Silakan bilang bahwa itu tidak sopan.
__ADS_1
Gue berjalan menuju belakang rumah. Disana terdapat kolam renang dan tiga orang yang seperti anak anak. Menepuk permukaan air untuk menciptakan cipratan. Gue tidak tau apa gunanya, toh semua sudah basah.
Gue berhenti didepan pintu. Menatap ketiganya. Mereka bahagia. Itu yang gue lihat.
Mereka melempar senyum satu sama lain. Kemudian gue ikutan tersenyum. Sabrang Aditya. Dia terseyum. Senyum yang berbeda ketika dia ngobrol santai dengan Juna tempo hari. Senyum yang berbeda ketika dia ngobrol dikelas bersama seorang cewek cantik kemarin siang. Senyum yang sama ketika dia bermain basket kala itu. Gue akan menyimpulkan. Itu adalah senyum yang sesungguhnya. Sesungguhnya.
"Bulan." lamunan gue tersadar ketika Felix memanggil. Kemudian melambaikan tangannya ke arah gue.
Gue hanya tersenyum lantas menggeleng. Gue tidak ingin menghancurkan senyum Abra. Setidaknya begitu.
Akhirnya gue memutuskan kembali ke ruang tengah. Disana Bunda masih duduk dengan gelas tehnya.
"Kenapa balik?"
"Nggak apa apa."
"Kamu nggak kangen Bunda? Seenggaknya ada cerita baru yang kamu ceritain ke Bunda."
"Ada. Tapi jangan disini. Sesuatu yang cukup berat."
Gue menatap Bunda dalam. Ini kebiasaan. Gue selalu cerita ke Bunda tentang apa yang sedang dan akan gue alami. Tentang keluarga adalah yang paling sering gue ceritakan. Karena gue nggak punya tempat nangis selain Bunda kalo cerita tentang keluarga.
Bunda mengajak gue ke lantai dua. Disana ada balkon yang cukup nyaman untuk cerita. Juga sofa dan meja kecil yang cocok untuk bersantai.
Gue mulai bercerita pada Bunda. Tentang bokap dan nyokap baru gue di Surabaya.
Gue belum terlalu banyak cetita soal keluarga gue, kan. Jadi gue akan cerita disini.
Lulus SMP gue pindah ke Surabaya ikut bokap. Dia menikah disana dan punya satu anak sabung yang kini gue panggil adik.
Nyokap sambung gue ini nggak suka sama gue. Itu kasarnya. Dia selalu memuji gue dengan baik di depan bokap lantas membandingkan dengan adik sambung gue yang cuma jarak dua tahun dari gue. Dan kalian akan tau betapa tidak enaknya kalian dibandingkan.
Kemudian secara perlahan bokap mulai benci sama gue. Oke, benci sepertinya ungkapan yang kasar. Dia membuat gue nemutuskan untuk kembali ke Jakarta dengan uangnya. Lucu. Dia menyebut nominal ketika gue memutuskan untuk terbang ke Jakarta. Dia akan menyekolahkan gue hingga lulus. Bahkan hingga universitas. Dan gue tersenyum. Apa itu yang gue butuhkan selama ini?
Dan, yah. Gue pindah. Dengan senyum kemenangan nyokap sambung gue.
"Berat?" Bunda bertanya.
"Bulan justru mikir kalo Bulan udah keluar dari sesuatu yang berat itu."
Gue berfikir seperti itu. Keluarga bukan sumber bahagia gue selama ini.
"Mami kamu?"
Dia menikah dengan pria berkebangsaan Australia. Gue sekali bertemu dia saat mereka berkunjung ke Jakarta. Nyokap gue menikah tepat satu tahun usia perceraian mereka. Apakah itu membuat gue bahagia ketika gue masih berharap kedua orang tua kandung gue akan bersama lagi. Suatu saat nanti meski gue harus menunggu lama.
Mereka tersenyum bahagia ketika bertemu gue. Dengan senyum yang sungguh membuat gue muak.
__ADS_1
Gue tidak suka mereka.
"Kamu benci Mami?"
"Bulan harap bisa begitu."
"Orang tua itu hadiah dari Tuhan." Bunda membuat gue menatap dia lebih antusias. "Bagi anak anak mereka."
"Biasanya Tuhan ngasih hadiah yang nggak mengecewakan."
"Kamu kecewa sama Papi Mami kamu?"
"Sedikit."
"Bunda cuma butuh jawaban iya atau enggak. Tapi bunda bakal anggap jawaban kamu iya."
Gue ingin menjawab begitu. Tapi gue tidak bisa. Atau gue tidak yakin dengan jawaban gue.
"Apa Bunda nyakitin kamu?"
"Kenapa Bunda tanya gitu?"
"Tiba tiba banget Bunda tanya soal keluarga, kan. Bunda tau kamu kaget." Bunda memegang pundak gue, lantas menatap begitu dalam. "Bunda lupa, kapan terakhir lihat kamu nangis. Atau Bunda bisa bilang kamu nggak nangis selama ini."
Betul juga. Gue nggak pernah nangis. Ketika perceraian bokap nyokap gue, gue hanya marah. Kemudian ketika mereka menikah lagi, gue juga tidak memangis. Gue hanya marah.
Apakah gue tidak sakit? Sungguh sakit. Tapi sakit itu teramat sakit hingga tangis tak bisa melampiaskannya. Air mata yang gue punya seperti tidak pantas untuk menangisi mereka.
"Bun, Bulan nangis." gue membalas tatapan Bunda. "Bulan nangis beberapa minggu lalu."
Bunda tersenyum. Jadi itu yang ingin dia gali dari gue. Pasti. Pasti Bunda sudah mencari tau lewat Han.
"Karena siapa?"
"Budhe?"
"Bunda sebenernya sudah tau dari Han. Bunda cuma mau mastiin dan bilang, keluarga baru kamu adalah mereka, Bulan. Air mata buat Budhe kamu lebih pantas daripada buat Papi dan Mami kamu." Bunda berucap dan gie tersenyum.
"Makasih, Bunda."
"Itu peningkatan. Makasih udah mau cerita ke Bunda."
Gue memeluk Bunda. Gue nggak tau apakah pantas buat gue memeluk hangat Mami gue seperti gue memeluk Bunda. Bunda selalu bisa membuat gue tersenyum.
Betulan, Bunda. Gue menangis untuk Budhe demi sesuatu yang dinamakan menyesal. Gue belum pernah merasakannya dulu. Belum sama sekali. Dan gue menangis untuk itu kemudian meminta maaf. Gue bahkan berjanji pada diri gue untuk tidak lagi mengecewakannya.
••••
__ADS_1
Hi Hello..
Huft.. Berap banget. Padahal ceritanya nggak seberat itu..