A Dusty Photo

A Dusty Photo
Bab 12 : Sahabat


__ADS_3

...- A Dusty Photo -...


...•••...


..._Sabrang...


Ini pertama kalinya setelah sebelas tahun lamanya, mungkin. Gue ngobrol hangat di meja makan. Namun dengan orang orang baru yang entah kenapa begitu nyaman buat gue. Dengan begitu mudah gue tertawa dari lelucon kecil yang terlontar.


Gue rindu. Lantas membayangkan apa yang akan terjadi jika yang berada di depan gue adalah bokap gue. Juga nyokap yang sedang tertawa kecil. Mungkin juga adik kecil gue yang sudah sebelas tahun umurnya.


Percakapan ringan tentang sekolah. Tentang lelah dan bosannya gue bermain dengan buku entah itu di sekolah atau di bimbel. Lantas suara adik gue yang merengek minta dibelikan sepeda baru. Gue iri dan gue ingin.


Seperti yang sudah kalian tau. Nyokap gue meninggal kecelakan di depan mata gue dan bokap. Ketika gue sedang berlatih basket dengan bokap gue. Nyokap yang sedang hamil muda menonton. Namun entah kenapa saat itu gue sedang manja dengan nyokap. Bola basket yang menggelinding melewati pagar rumah yang tidak terkunci diambil oleh nyokap gue. Gue yang meminta, gue yang malas berlari untuk mengambil.


Kemudian dengan sekejap. Sebuah mobil melintas cepat di jalanan komplek yang sepi. Nyokap gue terpental.


Gue ingat jelas bagaimana bokap gue menjerit histeris lantas berlari padanya. Gue hanya terdiam dengan wajah bingung. Kemudian ketika melihat banyak darang menyelimuti dres kuning milik nyokap, gue seketika menangis.


Hari itu sulit buat gue lupakan. Juga buat bokap gue. Semua kenangan soal kematiam nyokap kami sembunyikan rapat. Juga kepada bola basket. Lapangan basket kecil dengan satu ring itu dihancurkan oleh bokap gue. Juga semua kenangan tentang basket lainnya.


Dan ingatan indah tentang basket dan nyokap gue kubur dalam diingatan gue. Namun kini, muncul tanpa diperintah. Gue rindu nyokap.


"Abra? Kamu baik baik aja?" suara nyokap Han menghancurkan lamunan gue. Air sudah mengalir lewat ujung mata dan gue dengan cepat menyembunyikannya.


"Kepedesan, ya?" tanyanya sekali lagi. Gue melirik nyokap Han kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Enggak kok, Tante." gue kemabali tersenyum.


"Panggil Bunda aja. Semua temennya Han panggilnya Bunda." jawab nyokap Han.


"Emang temennya Han ada berapa, Bun?" Bulan bertanya.


"Cuma kalian, sih. Hanin mana ada temen."


"Felix doang emang." Felix berkomentar.


"Daripada Bang Brian. Mana ada temen."


"Ada. Temen cewek banyak." Bang Brian ikutan bergabung. Gue cuma tersenyum.


"Buaya emang." setelah Bulan melempar canda semua orang tertawa.


Bunda. Apa gue pantas? Selama ini gue memang selalu rindu dengan kata itu. Gue ingin memanggil nyokap gue hangat. Merajuk manja. Bukan berdiri memegang lilin didepan foto besarnya lantas mengucap doa. Gue ingin dipeluk. Ingin dibelai meski akan terlihat manja. Namun jika bisa. Gue ingin memohon pada Tuhan. Khusus untuk yang satu ini.


•••••


Selesai dengan makan siang masing masing dari kami langsung beranjak. Tadinya kami ingin melanjutkan tugas yang belum rampung namun Bunda tidak memperbolehkan. Katanya kami harus bermain. Ngobrol atau yang lainnya. Dan disiang yang cukup panas ini gue, Han dan Felix memilih berenang. Rumah Han cukup besar. Dia punya kolam renang pribadi meski tidak terlalu besar. Ada juga taman kecil yang katanya milik Bunda. Berisi sayur sayuran dalam pot.


Bulan dan Bunda entah sedang dimana sedangkan Han dan Felix masih ribut memompa pelampung.


"Kalian nggak bisa berenang?" gue bertanya sambil duduk di pinggir kolam. Melihat pertikaian mereka.

__ADS_1


"Lix, capek gue. Lo sekarang yang pompa."


"Nggak, gue tadi udah." Felix yang sedang memegang ujung pompa kini duduk bersila.


"Nggak usah pake kayak gituan kenapa?"


"Harus pake, Sabrang Aditya." Han menghentikan kegiatannya. Lalu menatap gue. "Gue mau bersantai di tengah kolam bawa jus semangka. Ala ala orang kaya."


Gue menahan tawa. Sabrang Aditya. Ini pertama kali seseorang menyebut nama gue dengan lengkap setelah almarhum nyokap gue. Dan kedengarannya masih sangat manis.


Jiwa jahil gue seketika mencuat ketika melihat Han dan Felix semakin adu mulut. Gue berdiri lantas melemparkan tubuh gue ke dalam kolam membuat cipratan air yang cukup besar. Atau setidaknya cukup untuk membuat Han juga Felix marah.


Betulan. Mereka marah ke gue dan menyerang gue balik. Mereka juga melemparkan diri ke dalam kolam kemudian perang air sederhana terjadi diantara kami. Sangat menyenangkan. Gue bahkan nggak berhenti tertawa ketika bermain dengan mereka. Sampai lupa bahwa pelampung raksasa bentuk pisang itu masih setengah penuh dengan pompa yang masih menancap.


Bahagia selalu sangat sederhana dan tanpa disadari. Han nggak perlu memompa pelampung segede itu hanya untuk pura pura menjadi kaya. Felix tidak perlu menghawatirkan tubuhnya yang katanya akan menghitam. Dan gue tidak menghawatirkan semuanya. Mungkin hanya untuk sesaat. Tapi sesaat itu tiba tiba menjadi sangat sering untuk saat ini.


Gue ingin bersyukur meski itu terbilang dini. Namun kehadiran Han dan Felix cukup membiat gue sadar bahwa banyak orang yang menyimpan kesedihan namun tidak lantas harus menampakannya. Semua orang pernah mengalami sedih tapi nggak semua orang bisa menyembunyikan kesedihan itu dengan sempurna.


Kenapa gue bilang seperti ini? Karena Han, Felix dan Bulan. Mungkin gue belum terlalu mengenal banyak mereka. Tapi gue bisa merasakan bagaimana kesedihan mereka yang tersembunyi rapat dimasing masing dari mereka. Lantas meleburkannya bersama tawa satu sama lain. Saling mengisi, saling mengerti, saling memahami.


Gue juga mengerti kenapa mereka begitu mudah membicarakan masalah keluarga satu sama lain. Karena mereka saling percaya. Karena mereka saling mengerti dan sangat cukup untuk bilang bahwa mereka saling mengisi.


Lalu kenapa gue tidak bisa seperti ini pada orang lain. Atau kenapa gue tidak bertemu mereka lebih cepat.


•••••

__ADS_1


Hi Hello...


Sangat pendek. Terima Kasih sudah mampir. Di tunggu jempol sama komennya.. Thankcuuuhh


__ADS_2