A Dusty Photo

A Dusty Photo
Bab 17 : Mama


__ADS_3

...- A Dusty Photo -...


...•••...


..._Sabrang...


Entah kenapa gue nggak fokus di jam jam terakhir pelajaran. Pikiran gue kemana mana. Mulai dari Anastasya, Bulan dan kenapa cewek itu bisa pingsan siang tadi. Gue khawatir atau gue takut.


Definisi dari khawatir yang gue rasakan berbeda ketika menghawatirkan Bulan. Sesuatu yang lebih dalam dan tanpa bisa gue kendalikan.


Hingga dering bel pelajaran usai gue tidak mengentikan lamunan gue. Rasanya gue takut, pengap dan entah apa lagi. Entah karena Bulan atau Anastasya. Gue tidak tau.


Ketika kelas sudah mulai sepi gue menenggelamkan wajah diantara lengan yang terlipat diatas meja. Gue capek. Sebentar saja gue ingin tertidur.


Namun belum lama gue menenggelamkan wajah, langlah kaki mengampiri gue. Kemudiam sentuhan lembut di rambut merambat begitu nyaman. Gue mendongak untuk mendapati Anastasya sedang berdiri di samping gue. Dan ketika gue menatap wajahnya senyum indah dan teduh menghiasi wajah cantik itu. Gue jadi ikutan tersenyum.


"Kenapa belum pulang?" tanya Ana. Cewek itu menarik kursi dari meja samping dan duduk di dekat gue.


"Kamu sendiri?" tanya gue balik. Tunggu. Kamu? Canggung banget.


"Lagi pengen sesuatu. Kita main, yuk? Gantiin waktu yang nggak kamu bisa kemarin."


Kamu lagi? Gue merasa sedikit aneh. Sepertinya Ana mencoba memperbaiki hubungan dengan gue setelah pagi tadi.


Gue mengangguk. Karena gue sudah tidak bisa memikirkan apa yang akan gue lakukan setelah ini. Pergi ke rumah Bulan menanyakan kabar jelas tidak mungkin. Karena Han dan Felix sudah ada disana. Lagipula gue sudah memberi kabar pada Juna. Pasti cowok itu akan merawat Bulan dengan baik. Tapi kenapa pikiran gue selalu tentang Bulan.


•••


Gue dan Ana memilih Timezone untuk mengabiskan waktu sepulang sekolah. Dia yang mengajak sedangkan gue mengiyakan begitu saja. Karena rasanya, sudah lama juga gue tidak menyenangkan diri sendiri. Selalu bergelut dengan buku ini dan itu. Lelah juga rasanya.


Ana mengajak gue kesana kemari. Main ini setelah main itu. Cewek itu terlihat begitu bahagia. Cemberut kesal ketika kalah dalam permaian lantas tertawa ketika dia berhasil mendapat apa yang dia mau. Ana sangat cantik ketika tersenyum. Matanya berbinar indah dengan bibir tak henti melebar.


Rasanya seperti gue sering melihat senyum itu. Hingga tanpa sadar, gue ikutan tersenyum.


"Abra, kita main itu, yuk?"


"Yakin? Nanti aku lho yang menang."


"Eits. Kita coba dulu." Ana meraih tangan gue. Lantas menggandenganya menuju permainan yang dia tuju. "Kemarin aku dapet nilai bagus waktu mapel basket. Hari ini pasti menang."


"Mau taruhan?" gue juga ikutan menantang.

__ADS_1


"Oke. Yang kalah bayar tiket nonton."


Gue mengangguk. Apa gue yakin? Yah, sebelum sebelumnya juga begini.


Gue dan Ana bermain hingga petang. Rasanya begitu menyenangkan.


Selesai nonton sekitar jam delapan malam gue mengantar Ana pulang. Tapi sebelum itu dia meminta untuk mampir beli jagung bakar di dekat kelokan sebelum masuk arena perumahan. Gue iyakan. Sudah lama gue tidak makan dengan Ana.


"Makasih buat hari ini." Ana tiba tiba berucap. Gue yang sudah membuka mulut untuk menggigit jagung jadi mengurungkan niat.


"Tiba tiba."


"Sepanjang hari ini aku nggak bisa fokus. Mikirin alasan kenapa kamu mutusin aku." Ana menunduk. Memainkan jagung bakarnya. "Maaf, akhir akhir ini aku nggak ada waktu buat kamu. Aku sibuk sama dunia aku."


Gue jadi merasa bersalah jika seperti ini.


"Jangan gitu, Na. Kita udah hampir kelas tiga. Wajar kalo kamu sibuk ini atau itu." gue memberanikan diri menyentuh anak rambutnya. Merapikannya karena terbang terbawa angin.


"Aku cuma ngerasa nggak adil sama kamu. Kamu kan nggak punya temen selain aku sebelumnya. Tapi akhir akhir ini aku malah sibuk. Maaf, Bra. Kamu jadi harus cari temen."


Gue tau sebentar lagi dia akan menyinggung Han, Felix dan Bulan. Tapi gue tidak ingin menerka apa itu.


"Nggak. Jangan merasa bersalah. Mungkin emang aku yang nggak bisa ngerti kamu."


Putus dari Ana bukan soal kesibukan dia. Bukan soal teman baru seperti yang dia bilang sebelumnya. Putus dari dia memang hal yang perlu gue lakukan karena gue lelah. Terus terusan Toxic dengan hubungan. Namun jika gue memutuskan dia sekarang, gue sepertinya menjadi cowok bersalah.


Namun jika tidak pun gue juga merasa bersalah pada diri sendiri. Gue tidak bisa menjawab. Memilih memeluk Ana hangat. Agar gue tidak bisa melihat wajah sedihnya atau agar gue tidak bisa melihat mata itu kembali berair.


••••


Pukul satu malam. Gue masih terjaga di ruang tengah sembari menyesap kopi dan berteman dengan banyak buku pelajaran. Akhir akhir ini gue banyak bermain jadi gue kira, belajar gue cukup terganggu. Laptop masih setia menyala menampilkan banyak buku elektronik. Buku setebal bantal juga banyak terbuka dan menampilkan halaman yang nggak gue tau lagi sampe mana. Tangan gue juga masih aktif menyatat meski kadang gue sadar tulisan gue sudah hancur karena efek mengantuk.


Diremang lampu ruang tengah yang sengaja gur matikan hanya berteman lampu belajar kecil yang gue bawa dari kamar tiba tiba bayangan seseorang masuk ke pandangan gue.


Bokap gue. Dengan setelan yang sudah kusut dan tas kerja yang dia tenteng dengan tangan kirinya. Pria setengah baya itu menghampiri gue ketika pandangan kami bertemu.


"Kamu belum tidur, Sabrang?" kalimat pertama itu. Dia sangat perhatian, bukan?


"Kenapa Papa baru pulang?"


"Ada banyak pekerjaan di kantor. Nggak bisa besok besok atau ditinggal." Bokap gue malah duduk di sofa. Melihat catatan gue, melihat buku tebal gue sebelum akhirnya menyandarkan punggung ke sofa.

__ADS_1


"Papa kalo capek langsung tidur aja."


"Kalo dipikir lagi, akhir akhir ini Papa jarang ngobrol sama kamu."


"Aku sibuk. Dan Papa lebih sibuk. Itu biasa, kan. Lagipula sekarang hampir masuk taun ajaran baru." gue hampir kesal. Namun kemudian kembali pada catatan didepan gue.


"Boleh Papa bicara?"


"Kenapa harus sekarang. Papa capek, kan?"


"Karena kamu selalu menghindar."


Gue menghela napas. Tiba tiba udara menjadi pengap.


"Kalo itu soal Mama baru, Sabrang masih belum siap. Lagi pula sebentar lagi Sabrang kuliah." gue menutup semua buku, mematikan laptop dan menyimpannya. "Tunggu sampai Sabrang kuliah, Pa. Papa bakal lebih nyaman."


Pembicaraan itu terhenti. Sekarang apakah gur yang terlihat jahat? Maksudnya, gue selalu menghindar dari obrolan berbau pernikahan sama bokap gue. Rasanya gue belum siap memanggil orang lain dengan sebutan Mama.


Lantas kenapa gue terlihat kejam. Sudah bertahun tahun sejak kematian nyokap. Dan selama itu juga bokap gue mengurus gue seorang diri. Dia mengurus segala kebutuhan gue. Berperan sebagai nyokap dan bokap sekaligus. Bahkan jika sedang tidak dalam keadaan sibuk, bokap gue sering membuat sarapan atau makan malam bagi gue. Sesuatu yang sepertinya jarang dilakukan oleh kebanyakan bokap.


Dan setelah perjalanan panjang bokap gue seorang diri dia lelah juga. Butuh seorang pendamping hidup. Tapi gue selalu menolak itu.


Gue berjalan menuju kamar. Disana gue melewati sebuah lorong dengan foto nyokap gue tergantung dengan lilin dibawahnya. Gue tatap dia dalam. Nyokap gue sangat cantik. Rambut panjangnya tergerai berhias pita kecil disisi kanan. Gue tau foto itu sangat lawas karena garis wajah nyokap gue masih sangat lembut. Dia anggun dalam senyum dan manis dalam ucap. Ah, seandainya gue masih bisa mendengar suaranya.


Gue meletakkan tas dilantai. Lantas menyalakan lilin bagi nyokap. Kemudian gue menunduk.


"Ma, Sabrang rindu. Bagaimana Mama disana?" gue terpejam. Mata gue panas.


"Sabrang kasian liat Papa, Ma. Tapi Sabrang nggak bisa nyebut wanita lain sebagai Mama." gue sempurna menangis.


Nyokap gue yang hangat. Peluknya yang lembut. Suaranya yang manis. Meskipun gue hanya bisa mengingatnya dengan samar, tapi gue begitu merindukannya.


"Mah, Sabrang butuh temen buat cerita. Sabrang butuh seseorang, Mah." gue nggak tau lagi. Rasanya muak. Apa karena gue jarang ke gereja sampai Tuhan berbuat jahat ke gue.


Ah, gue betulan menangis. Gue tertawa kecil. Untuk apa gue menangis. Gue kembali menatap nyokap.


"Selamat malam, Mah. Peluk Sabrang walau cuma dalam mimpi."


••••


Note Penulis.

__ADS_1


Enjoy your meal. And enjoy with my work..


Thanks. Paipai ♥


__ADS_2