
...- A Dusty Photo -...
...•••...
..._Sabrang...
Gue lupa kapan terkahir kali gue merasa bahagia. Bahagia dengan melupakan semua beban masalalu karena yang ada hanya saat ini. Detik ini. Kemudian gue diingatkan oleh bahagia. Yah, gue kembali menemuka itu. Gue rasa ini bukan bahagia yang besar, namun kebahagiaan kecil yang selalu ada disekitar gue tapi gue tidak pernah merasakannya.
Detik ini gue merasa bahagia.
Gue, Felix, Han dan Bulan sedang duduk di sebuah gasebo dekat taman belakang sekolah. Taman yang sepi dan sejuk. Gue memang sering kesini sendirian memakan bekal gue namun kini Han dan teman temannya turut serta dengan gue.
Kami berhadapan dengan dua kotak bekal. Milik gue dan milik Han.
Obrolan kami amat banyak. Masa lalu. Kisah konyol. Pertanyaan pertanyaan tidak masuk akal. Tapi entah kenapa rasanya sangat nyaman. Membicarakan hal tidak penting dengan seseorang yang berharga atau penting.
Iya, mereka berharga buat gue. Gue sudah menganggapnya begitu.
"Lo masih denger kabar dari nyokap lo, Lan?" Han bertanya.
Gue sedikit khawatir. Karena menurut gue, pembicaraan tentang keluarga selalu sensitif. Namun ternyata mereka tidak begitu. Bulan dengan terang terangan memberitahu kepada kami tentang keluarganya. Semudah itu.
"Di Bali dia. Suami barunya orang Australia." Bulan berkata. Sambil membuka mulut ke arah Han dan cowok itu dengan enteng menyuapi Bulan.
"Keren juga nyokap lo." Felix berkomentar.
Gue menatap mata Bulan untuk memastikan apakah betulan seringan itu membicarakan keluarga. Dan, yah. Bulan semudah itu.
"Lo bingung ya, Bra?"
Bulan berkata ke arah gue. Dan gue sedikit gelagapan. Tingkah gue mengamati Bulan sepertinya ketahuan.
"Sorry." Gue menjawab.
__ADS_1
"Nggak apa apa. Jadi korban keluarga broken home nggak seburuk itu, kok." Bulan berkata sembari tersenyum kemudian membuka mulutnya kearah gue. Memberi isyarat untuk di suapi. Gue sedikit ragu. Karena gue memang belum pernah melakukannya pada siapapun. Hanya Anastasya, itupun jika dia memaksa. Namun dengan ragu gue menyuapi dia potongan buah. Rasanya biasa saja. Seperti teman.
"Iya, gue juga korban broken home. Nyokap gue selingkuh, terus, yah. Sekarang nyokap bokap gue pisah." Felix menimpali. "Bokap gue balik ke kampung halamannya di Australia, sedangkan gue ikut nyokap sama bokap tiri. Kadang pengap, tapi ya gimana lagi."
"Satu satunya yang nggak broken home cuma gue." Han berkata setelah melahap potongan rotinya, "cuma bokap gue udah meninggal karena kanker. Sekarang nyokap gue single mom."
"Bang Brian apa kabar, Han? Kerja sekarang?"
"Iya. Kalo cuma nyokap yang kerja ngurus butik, gue nggak akan sekolah di sekolah elit." Han tertawa.
Gue membeku. Apakah mereka sedang memberitahu gue keadaan keluarga mereka? Dan membuat gue begitu merasa gue terlalu tidak percaya diri.
Gue terlalu meremehkan hidup gue. Selalu menganggap gue adalah orang paling sengsara di muka bumi ini. Orang paling sulit untuk bahagia.
Nyokap gue sudah bersama Tuhan. Dia meninggal karena kecelakaan waktu gue masih terlalu kecil. Kecelakaan di depan kepala gue dan bokap gue. Menimbulkan trauma yang sulit disembuhkan. Gue kira Tuhan begitu jahat ke gue dengan tidak memberi gue kebahagiaan dari hangat sebuah keluarga.
Sejak saat itu bokap gue yang hangat berubah. Dia memenuhi dua peran seorang diri. Menjadi ibu sekaligus ayah. Dia bekerja keras demi gue. Bisa juga demi mental gue yang belum netul betul baik setelah kejadian tragis jaman dulu. Gue merasa kasihan ke bokap sehingga gue menutuskan untuk menjadi anak yang bisa dia banggakan. Dengan menuruti apa yang dia mau. Meski gue harus merelakan apa yang gue mau.
Bulan berkata dan Han juga Felix mengangguk. Gue hanya menunduk. Merasa malu pada diri gue sendiri.
***
Suasana yang suram menurut gue tadi akhirnya berhenti. Kami kini melontar lelucon satu sama lain.
Sampai akhirnya kami kelelahan dan kembali ke kelas kami. Felix berpisah di lantai dua. Karena dia harus naik satu lantai lagi menuju ke kelasnya. Sedangkan gue, Han dan Bulan satu kelas.
Bulan berjalan beberapa langkah di belakang gue dan Han.
"Lo sama Bulan udah deket, Bra?" Han bertanya dan gue mengangkat satu alis. Apa maksudnya.
"Deket. Kayak gue sama Lo."
"Ini dalam artian lain. Katanya lo pernah nganterin dia pulang."
__ADS_1
"Iya, pernah. Sekarang gue juga sering ke rumah Bulan." gue tersenyum sedikit. " Ternyata Bulan itu sepupu sahabat gue sejak SMP."
"Lo sahabatnya Juna?" Han sedikit kaget.
"Lo kenal Juna juga?" gue bertanya.
"Sejak kenal Bulan, sih gue kenal Juna juga. Soalnya Bulan sering main sama Juna sama adiknya juga Lana."
"Lo juga sering main ke rumah Bulan?"
Han hanya mengangguk. "Rumah Budhe nya Bulan."
Obrolan gue dan Han terhenti ketika suara kotak makan jatuh terdengar keras. Gue dan Han sontak menolah. Bulan sudah jatuh dengan lutut menumpu lebih dulu dan kotak makan yang berserakan. Untung isinya sudah habis dilahap.
Gue ingin berlari membantu Bulan namun setelah melihat Anastasya membungkuk meninta maaf lantas berlari kearah gue akhirnya gue mengurungkan niat. Han sudah mengulurkan tangan untuk membantu Bulan.
"Abra!?" Anastasya meraih pergelangan tangan gue lantas menggiring gue menuju kelas.
"Kangen banget." Ana masih memegang lengan gue. Di satu sisi gue merasa senang bisa bertemu dengan Ana setelah seminggu ini dia sibuk dan jarang meluangkan waktu buat gue. Tapi disisi lain gue merasa tidak nyaman. Gue betulan tidak nyaman ketika Ana melakukan kontak fisik dengan gue padahal sebelum sebelumnya biasa saja.
"Sore ini mau jalan?" gue berkata. Tanpa berpikir. Langsung keluar begitu saja.
Ana mengangguk.
Gue dan Ana ngobrol sebentar di kelas sebelum bel masuk berbunyi. Dia langsung pergi setelah bel tanda masuk berdering dan tanpa gue sadari, gue mulai melirik Bulan.
Tidak ada maksud yang pantas gue berikan kenapa gue melirik Bulan. Apakah gue memastikan kakinya baik baik saja setelah terjatuh atau hal lain.
****
Hi Hello...
Selamat menikamati..
__ADS_1