
...- A Dusty Photo -...
...•••...
..._Bulan...
Kata kata bang Lino sekarang selalu menjadi motivasi buat gue. Entah itu berlaku bagi Budhe atau orang lain. Yap, gue akan belajar mendengarkan orang lain dan mengerti situasi. Tidak asal bertidak.
Hari ke dua di sekolah. Gue kurang yakin dengan pergaulan gue. Apakah gue susah bergaul atau karena kejadian di kantin kemarin yang menyebabkan gue tidak bisa dapat teman. Memang ada Hanin, tapi dia tidak akan bisa selalu di samping gue. Dia juga punya kehidupannya sendiri. Punya kawan kawannya sendiri.
Semuanya semakin terasa ketika pembagian untuk tugas kelompok. Semua sudah menggerombol dengan kelompok mereka, sedangkan gue masih tengok kanan kiri mencari kelompok.
Gue kayak orang dongo banget, sumpah. Kemudian Han menghampiri gue. Yah, ini dia kawan gue. Penyelamat disaat tidak ada lagi orang yang bisa menolong.
"Anggota kelompok minimal tiga orang. Dan nggak boleh lebih dari lima orang." bu Andini berucap lagi. Namun banyak kelompok yang masih sibuk. Namun gue dan Han hanya ngobrol satu sama lain.
Kemudian satu laki laki menghampiri kami. Dengan buku tebal ditangannya.
"Kalian cuma berdua?"
Gue mengangguk.
"Lo mau gabung kita?"
"Iya. Gue belum dapet kelompok."
Yes. Gue berteriak dalam hati.
Lantas semudah itu. Gue kenalan dengan dia. Namanya Sabrang, biasa dipanggil Abra. Dia bukan tipe cowok cerewet kayak Felix dan Han. Lebih kalem dan berkarisma. Gue sempat terpesona ketika dia mulai berbicara dalam kelompok.
Kemudian pembelajaran selesai begitu saja. Gue tidak banyak menyadri hal itu karena fokus gue tiba tiba goyah.
__ADS_1
"Mau makan di kantin, Lan?" Han berbicara ke gue ketika kami membereskan beberapa buku.
"Tanya Felix, gih."
"Abra?" Han memanggilnya ketika cowok itu bersiap bangkit dari kursinya.
"Mau makan bareng? Gue jarang lihat lo makan siang."
Gue menoleh pada Han. Lantas berfikir, mungkin diet. Melihat tubuhnya yang sedikit gempal.
"Dimana?" tanyanya.
"Kantin pojok."
Cowok itu seperti berfikir.
"Boleh. Gue ngembaliin buku ke perpustakaan dulu. Nanti nyusul."
Lantas semudah itu. Dia pergi membawa dua buku besar yang tadi ada ditangannya.
"Lo akrab sama dia, Han? Kenalin ke gue, dong."
***
..._Sabrang...
Gue masih berusaha menghindar dari Anastasya. Siang kemarin berhasil menipu dia dengan gue yang tiba tiba kebelet boker dan nggak bisa ikutan makan siang di kantin. Gue juga bakal nebak kalo dia nggak pergi ke kantin juga. Makanya gue kesana setelah selesai boker.
Namun seorang ternyata sedang membuat kegaduhan. Entah apa itu namun dilihat dari banyak pecahan beling yang berserakan di lantai jelas seperti ada masalah. Mirip kejadiannya dengan gue kemarin. Namun kali ini dalam porsi hampir lima kali lipatnya. Banyak banget.
Kemudian gue melihat seorang cewek yang sedang menangis. Dia mengeluarkan air mata namun tidak bersuara. Matanya merah namun cewek itu justru menggigit bibir. Kemudian gue melihat Hanin, teman sekelas gue dan satu temannya membersihkan beling berserakan.
__ADS_1
Pandangan gue lebih tertarik ke cewek tadi. Dia memaikan kuku jemarinya. Melihat kesana kemari dengan tatapan takut. Menggigit bibirnya dengan khawatir. Kemudian cewek tadi menghilang bersama pemilik kantin. Masuk ke dapur dan gue tidak lagi bisa melihat dia.
Gue tau cewek itu sore harinya. Namanya Bulan. Cewek yang sama yang pagi harinya memberi dua potong sandwitch pada pak satpam.
Kemudian kini dia dihadapan gue. Dengan tatap mata yang sungguh berbeda. Tak ada takut juga khawatir. Hanya ceria yang dia tunjukan bersama senyum.
Sejenak. Gue terpesona.
"Es jeruk aja kali, ya? Lo mau makan apa?" suara Hanin menghamburkan lamunan gue. Sedikit bingung akhirnya gue menjawab seadanya. Samain aja.
"Ngomong ngomong, kok gue jarang lihat lo makan siang, bra?" Felix menatap gue. Sambil ngemil kacang atom.
"Gue sering bawa bekal dari rumah. Cuma kebetulan hari ini gue nggak bawa."
"Nyokap lo baik. Gue iri." Bulan berucap. Kemudian menatap gue dengan tatapan lain.
Lagi lagi gue terpesona. Apakah cewek ini selalu punya manik mata yang indah dan jelas. Dimana dengan sangat mudah seorang membaca perasaan hatinya.
"Lo kan sering bawa bekal dulu." Hanin berkata pada Bulan.
"Itu gue sendiri yang buat. Jaman jaman harus hemat." Bulan menjawab lantas tertawa.
Makan siang yang lebih berkesan dari pada makan sendirian atau bersama Anastasya. Kami ngobrol banyak hal meski kebanyakan yang dibicarakan hanya masa lalu Bulan bersama kedua temannya. Gue merasa seolah gue bagian dari mereka, dengan ikutan tertawa. Lantas berganti cerita.
Jelas terlalu bahagia. Berbeda dengan gue. Dimana mayoritas masa lalu hanya tentang Anastasya. Kemudian teman temannya. Dan kata kata menyakitkan mereka.
Yah, Anastasya. Cewek yang pernah gue banggakan itu pernah menyakiti gue dengan kata kata. Menjatuhkan gue dengan keras untuk kemudian mengulurkan tangannya untuk menolong lantas kembali mengempas gue jauh. Begitu saja. Tapi gue betulan bodoh dengan terus menerima itu dan lebih bodoh lagi karena gue tidak pernah berhasil melarikan diri darinya. Seperti ada sebuah kesedihan yang tidak pernah bisa gue ungkap darinya. Bahkan hingga kini.
Dan kini gue seperti melihat Anastasya di mata Bulan. Dengan bentuk kesedihan yang berbeda. Dengan kamuflase yang berbeda. Seolah dia adalah Anastasya kedua bagi gue.
***
__ADS_1
Hi hello...
Salam dari saiya yang lagi khawatir ke Changbin tanpa alasan.