A Dusty Photo

A Dusty Photo
Bab 7 : Bahagia


__ADS_3

...- A Dusty Photo -...


...•••...


..._Sabrang...


Siapapun akan mudah sadar dengan kelakuan gue. Dengan kamuflase gue setiap gue merasa gue suka namun gue tidak boleh melakukannya. Seperti saat ini. Gue kelepasan. Gue terlalu menunjukan sikap yang lain daripada biasanya.


Rasanya memang seperti terhipnotis. Ketika gue sudah mulai memegang bola kemudian di hadapkan dengan garis lapangan juga satu fokus didepan sana. Gue seperti melepaskan sayap untuk terbang. Meliuk kesana kemari lantas dengan sangat mudah gue menambah poin. Gue juga tersenyum merasakan punggung bersayap gue yang terasa ringan walaupun kemudian sadar kalo gue tidak pernah pantas untuk sayap ini. Lantas begitu saja, gue mematahkannya. Menepi kemudian pura pura tidak terjadi apapun.


Begitu juga dengan keadaan selanjutnya. Gue tidak bisa memasukkan bola dengan gampang. Selalu meleset. Karena mungkin, sayap gue betulan sudah patah.


Siang ini Han ngajak gue makan di kafetaria. Katanya Felix akan traktir untuk alasan yang tidak begitu penting. Cuma pengen traktir katanya. Gue iyakan, karena akhir akhir ini bokap jarang masak buat bekal gue ke sekolah. Juga bahkan tidak lagi sempat membuatkan gue sarapan.


Kami sudah berkumpul di kafetaria. Hari ini kafetaria cukup ramai atau mungkin  selalu ramai karena jujur gue jarang ke kafetaria jika Anastasya tidak memaksa. Atau jika Anastasya tidak berhasil di tipu.


"Minggu depan tugas kelompok harus selesai. Mau ngerjain di mana?" Han memulai perbincangan sambil mencomot potongan buah didepannya. "Rumah gue gimana?"


"Setuju! Gue kangen rumah lo." Bulan ikutan.


"Gue nggak tau rumah lo." Gue akhirnya ikutan ngomong.


"Kita berangkat bareng aja, ketemuan di mana gitu?" Bulan berkata ke gue sambil mengganggu makanan Han atau Felix. Tapi sepertinya keduanya tidak terganggu atau justru seperti milik bersama.


"Oke, minggu ini, kan? Gie bisa jam 10 pagi."


"Sip."


***


Sepulang sekolah gue memutuskan buat datang ke lapangan basket. Untuk ngobrol pada diri sendiri dan memberi gue sedikit kelonggaran untuk aturan yang pernah gue buat untuk diri sendiri.


Atau gue tidak akan menyebut itu kelonggaran, tapi koreksi karena pada akhirnya gue tidak akan pernah memberi toleransi untuk apa yang sudah gue rencanakan. Termasuk aturan koyol yang sudah sejak dulu gue buat.


Termasuk soal basket.


Gue bukan melarang diri gue untuk dekat dengan basket pada awalnya. Bukan pula menjauh dari basket. Tapi gue pernah memberitahu diri gue untuk jangan terlalu dekat dengan hal itu. Hanya sebatas jangan yang kemudian gue mulai memberi kelonggaran pada diri gue. Lantas hal itu terjadi. Gue mulai tidak bisa mendengarkan diri gue sendiri.


Siang tadi adalah contohnya. Gue terbuai dengan aroma dan aura lapangan basket. Riuh soraknya yang sebetulnya tidak terlalu ramai membuat gue serasa itu adalah panggung. Gue betulan seterbuai itu.


Untuk kemudian terhenti begitu saja. Dan gue berusaha menghapus memori soal kejadian siang tadi. Gue tidak ingin mengingatnya karena gue takut hal itu akan kemudian terjadi di masa depan.


Namun kali ini gue berdiri di tengah lapangan. Dengan kedua tangan memegang bola basket. Dan pikiran bimbang antara apakah gue akan teguh dengan niat awal gue atau tidak.


Atau mungkin ini terakhir.

__ADS_1


Gue memejamkan mata sebentar sebelum melempar bola kearah gawang. Bola melambung, rasanya lambat. Gue bahkan bisa melihat gerak bola dengan jelas dan begitu saja bola tidak tepat sasaran. Gue menghela nafas.


"Kayaknya lo sengaja, deh."


Seorang cewek tiba tiba bersuara di pinggir lapangan. Gema suaranya terdengar jelas setelah pantulan bola terhenti beberapa saat.


"Bulan? Sejak kapan lo disitu?"


"Baru aja."


Bulan berjalan ke arah bola tadi untuk kemudian mengambilnya dan memantulkannya ke lantai. Berlagak seperti profesional.


"Lihat gue." Bulan berkata. Sembari memainkan bola lantas membidik.


Bola melambung. Tinggi. Tapi jangankan masuk ke dalam ring mendekati saja tidak.


"Ups. Gagal."


Gue tersenyum. Bulan berlari mengejar bola. Memantulkannya lagi kemudian membidik. Lagi lagi gagal. Begitu terus berulang.


"Capek gue." Bulan mengatur nafas. Gue hampir tertawa.


"Terakhir, kalo gagal gue nyerah."


"Kalo berhasil?" gue bertanya.


"Katanya, kalo kita bisa masukin bola ke dalam ring dari jarak jauh permohonan kita bakal terkabul." Bulan berlari memgambil bola. Kemudian mendekati gue.


"Kata siapa?"


"Dari drama kemaren. Gue habis nonton drakor sama abang gue."


"Trus permohonan lo apa?"


Bulan memantulkan bola lagi dan bersiap membidik.


"Gue pengen bahagia. Nggak stres lagi." kemudian bola terlempar. Namun lagi lagi sama. Gagal.


Gue mengejar bola. Kemudian mendekati Bulan. Kini dia terkapar di tengah lapangan.


"Berarti gue nggak bakal bahagia, gitu?"


"Itu cuma kepercayaan. Jangan sepenuhnya dipercaya."


"Padahal gue cuma pengen bahagia."

__ADS_1


Gue duduk di sampingnya yang terkapar lelah. Kemudian menatap langit langit gedung yang cukup tinggi. Gue juga pengen bahagia. Tapi faktanya, sesering apapun gue berhasil memasukkan bola ke dalam ring bahagia tak pernah berkunjung ke gue.


"Apa bahagia sesulit itu?"


"Bagi gue, mungkin. Tergantung bahagia macam apa."


Gue menatap dia. Peluh menjalar diwajahnya. Rambutnya setengah basah oleh keringat karena sedari tadi berlarian kesana kemari mengejar bola.


"Gue lihat lo udah cukup bahagia."


Bulan tertawa, "Makasih."


"Itu bukan pujian."


"Tapi gue pikir itu pujian atau mungkin doa."


Bulan terbangun. Bangkit kemudian merebut bola dari tangan gue. Hanya untuk dipantul pantulkan sembari duduk.


"Menurut lo, semua orang punya kesempatan buat bahagia?"


"Kenapa enggak."


"Karena gue kadang nggak bisa mikir hal itu."


"Bahagia itu abstrak. Ada tapi nggak bisa dilihat. Ada tapi kadang kita nggak sadar kalo lagi bahagia. Contohnya lo."


Gue menatap Bulan. Gue? Kenapa gue jadi contoh?


"Gue lihat lo bahagia bahagia aja. Sama kayak lo lihat gue."


Gue ingin menyangkal, namun percuma. Gue belum mengenal Bulan lebih banyak.


Bulan berdiri. Kemudian mengulurkan bola.


"Gue balik dulu." dia melangkah menuju arah tasnya yang tergeletak.


"Tadinya gue kesini karena nungguin Han. Tapi gua nggak yakin dia bakal dateng. Maaf ganggu waktu lo." Bulan berjalan menjauh, "Bye, Bra."


Gue meletakkan bola. Kemudian berdiri dan menyusulnya.


"Bulan?!" gue berlari ke arah tas gue kemudian mengambil dan menggantungnya di pundak. "Boleh pulang bareng?"


***


Note Penulis :

__ADS_1


Hi Hello..


Apa kabar hari ini?


__ADS_2