
...- A Dusty Photo -...
...•••...
..._Bulan...
Nyokap gue tidak pernah jengah mengganggu. Dia selalu berhasil membuat gue kecewa lantas menepuk bahu gue simpati untuk kemudian dia jatuhkan lagi. Oke, gue bodoh karena terus terjebak dengan hal itu. Namun ikan mana yang tidak tertarik dengan makanan yang melambai lambai diantara lautan luas. Dan sepertinya gue termasuk salah satunya.
Kali ini nyokap gue memerkenalkan seorang cowok ke gue. Ini bukan drama antara CEO kaya dengan gadis macam gue. Atau perjodohan demi membayar utang atau yang lainnya. Jelas bukan.
"Gue kira nyokap yang bakal jemput." gue masuk mobil setelah cowok ini memersilakan.
"Maaf, Mami nyuruh aku."
Namanya Sebastian Earl entahlah. Gue nggak bisa mengucap namanya. Dia anak tiri nyokap gue yang katanya mau dikelankan. Dan sekarang, gue sudah kenal. Jadi gue harap nyokap nggak akan memersalahkan hal ini lagi.
Didalam mobil gue cuma memandang luar.
Gue memikirkan sesuatu yang menyebalkan. Kenapa nyokap tidak datang ke gue sendiri. Kenapa yang katanya dia mau jemput gue ternyata mengirim orang asing- yang mungkin sebentar lagi nggak akan asing bagi gue- alih alih dia sendiri.
Gue benci bilang bahwa gue rindu dia. Tapi gue pun merasa kecewa karena gue tidak bisa bertemu dengannya kali ini. Dan ini ternyata juga membuat gue benci.
"Gue boleh buka kaca mobilnya?"
"Oh, boleh."
Angin sore menerbangkan sedikit anak rambut gue. Seketika rambut panjang gue berantakan menutup wajah. Gue kesal.
Gue menatap pergelangan tangan gue dan melihat ikat rambut hitam disana. Milik Anastasya yang dia pinjankan ke gue siang tadi. Iya, gue memutuskan untuk mengambilnya dan menyimpan karena sangat disayangkan gue sedang tidak membawa ikat rambut. Gue menutup kaca mobil sebentar untuk kemudian mengikat rambut panjang gue.
"Tunggu. Kita mau kemana?" gue baru selesai mengikat rambut ketika sadar kelokan menuju rumah budhe terlewat begitu saja.
"Pulang."
"Sorry, tapi pulang yang lo maksud itu kemana?"
"Ke rumah Mami, kan?" Sebastian tersenyum. Dan melihat senyumnya gue ingin mengutuk. Dia tersenyum untuk sesuatu yang Mami suruh.
__ADS_1
"Mami yang minta?"
Sebastian mengangguk. Dan entah kenapa perasaan gue berubah aneh. Gue senang? Atau sebaliknya. Namun yang pasti gue memikirkan banyak hal yang akan gue katakan pada nyokap setelah kita ketemu nanti. Agar tidak hanya umpatan yang keluar dari mulut busuk ini.
Mobil berbelok pada sebuah bangunan apartemen. Gue hanya menghela napas ketika Sebastian sudah memarkirkan mobil dan mempersilakan gue untuk keluar. Ah, gue takut. Gue sedikit belum siap ketemu nyokap.
"Bulan?" Sebastian menegur gue ketika kami berada di dalam lift hanya berdua. "Makasih."
Gue menoleh. Untuk apa?
"Kita bahkan baru ketemu." gue memutar bola mata.
"Betul juga. Tapi tetep aku mau bilang makasih." Sebastian menunduk. Dia memainkan jemari tangannya yang gue kira sebagai perasaan tidak enak. "Makasih kamu udah mau berbagi Ibu sama gue."
Gue tidak menjawab.
Berbagi ibu, ya? Enggak, Sebastian. Masalahnya disini gue nggak sedang berbagi ibu. Namun membiarkan lo memiliki sepenuhnya seorang yang pernah menjadi Ibu buat gue.
"Dan makasih juga," gue menghela napas. Makasih terus yang dia ucap sedari tadi. "Makasih udah mau jadi adik aku."
"Kamu nggak mau?"
Pintu lift terbuka. Gue keluar lebih dulu kemudian menunggu Sebastian dengan ragunya. Gue hanya diam, memasang wajah seganas mungkin agar cowok ini tidak kembali menanyakan masalah keluarga. Karena gue benci itu.
Gue tidak mau. Gue tidak suka dan gue betulan sebenci itu.
Berbagi keluarga? Huh. Persetan dengan kalimat berbagi.
Sedari awal setelah perceraian nyokap dan bokap gue sudah merasa hidup gue dipisah. Gue hanya hidup dengan bokap dan pacarnya yang sering datang kerumah dan bersikap sok ramah ke gue. Sedangkan nyokap? Dimana dia? Apa dia pernah mencari atau menunggu gue.
Berbagi itu bukan kata yang bisa digunakan untuk saat ini. Karena faktanya gue sudah lupa akan sosok itu sejak dulu. Yang gue rasa, dia hanya masih ada didunia dengan kehidupan pribadinya tanpa memikirkan gue. Dan gue pun enggan berharap dia mengingat gue.
Sebastian mempersilakan gue masuk lebih dulu dan menutup pintu setelahnya. Gue menyursuri setiap sudut dengan pandangan gue. Lantas duduk pada sebuah sofa setelah dipersilakan. Tak lama berselang, seorang perempuan keluar dengan piyamanya.
"Mami." gue bergumam. Dan gue berharap perempaun itu tidak dengar.
"Halo, Bulan. Lama nggak ketemu." senyumnya mereka. Dan dada gue sesak dibuatnya.
__ADS_1
Senyum itu masih sama. Lembut dan teduh seperti pertama gue bisa memandangnya dulu.
"Iya. Mami apa kabar." Bulan Anindya sangat bodoh dan mudah terayu bukan? Padahal gue sudah dengan susah payang menyembunyikan kesenangan ketika gue bertemu dengannya.
Nyokap gue meletakkan ponselnya diatas meja kaca. Kemudian beralih duduk disamping gue dan memeluk hangat.
"Mami kangen kamu, nak."
Air mata gue menetes. Dada gue seperti diserbu ribuat semut hitam yang membuatnya bergidik dengan bisikan yang nyokap gue beri. Gue mengatupkan bibir. Menahan sebisa mungkin agar air mata ini tidak menetes lebih deras.
"Kabar Mami baik banget. Gimana kamu? Gimana sekolah kamu?" Mami melepas peluk sebelum gue bisa membalasnya. Kemudian menghujani gue dengan banyak pertanyaan yang hanya bisa gue jawab seadanya.
Sebastian hanya duduk dan menonton kami saling bicara. Meski sebagian besar hanya Mami gue yang bersuara.
"Kamu makin cantik." Mami mengusap pucuk kepala gue.
"Mami juga masih cantik." suara gue terbata. Karena kalimat ini bukan apa yang gue persiapkan sejak tadi.
"Ah, ya.. Ada yang mau Mami sampein ke kamu. Kita sambil makan, ya?"
Suasana yang gue bayangkan tidak terjadi. Tadinya gue berpikir akan banyak cerita dari masalalu yang terlontar dari mulut nyokap. Namun selama hampir satu jam gue berhadapan dengan dia, tidak ada sedikitpun masalalu yang terusik. Juga masa depan. Gue jadi berpikir bahwa gue jahat karena telah memikirkan sesuatu yang tidak pernah terjadi.
Sedari tadi yang dibicarakan hanya apa yang nyaman bagi gue. Buku keluaran terbaru, lagu hip hop yang entah kenapa gue sukai belakangan ini. Kemudian soal asmara. Nyokap bertanya tentang apakah sudah ada seorang dihati gue dan dengan malu gue menjawab ada. Tanpa menyebutkan identitas seseorang tentu saja. Namun gue merasa terlalu tebuka untuk seorang yang sudah gue anggap asing.
Ah, gue jadi semakin merasa bersalah.
Obrolan berlanjut lama. Gue pun nggak tau kenapa gue bisa senyaman ini ngobrol ber jam jam. Sebastian bergabung dengan kami. Menonton film keluaran terbaru sembari berebut popcorn buatan Mami. Meskipun gue masih dengan gelagat malu.
Sekuat itu pengaruh seorang nyokap. Maksud gue, sebenci apa gue dengan dia masih bisa mereda hanya karena obrolan yang sedikit masuk akal. Gue masih membencinya. Masih merasa tidak adil dengan perlakuannya tempo dulu. Namun semakin gue mencari tau semakin gue melemah.
Masih sama dengan yang lalu lalu. Gue sayang sama nyokap gue. Tapi benci masih menyelimuti rasa sayang itu. Belum mau terkelupas untuk menunjukkan seluruh sayang.
••••
Catatan penulis.
Gue capek.. Menunggu sesuatu yang tidak pasti. Ah, udah. Malah curhat.. Oke, paipai
__ADS_1