
...- A Dusty Photo -...
...•••...
..._Sabrang...
Rencana mengajak Ana jalan gue batalkan secara sepihak. Dia marah, itu sudah pasti. Dan marahnya cewek itu membuat gue semakin yakin untuk menghentikan hubungan gue yang tidak sehat ini. Ana menolak, itu juga pasti. Tapi gue bersikeras.
Sesuatu yang dipaksakan itu tidak pernah menyenangkan. Itu kutipan yang selalu gue dengar selama ini diantara banyak kutipan lain. Sejujurnya gue ingin mengatakan itu pada Ana, namun gue tidak yakin. Bukan karena keyakinan gue yang goyah tapi karena gue tidak bisa menerapkan kalimat itu dengan baik.
Apa gue pernah melakukan sesuatu hal dengan senang hati? Bahkan gue lupa kapan terakhir gue melakukannya. Selama ini, gue selalu memaksa apa yang ingin gue lakukan. Termasuk hal kecil kapan gue harus berangkat tidur dan jam berapa gue harus terbangun. Kemudian hal hal besar yang tanpa sadar ternyata dikendalikan. Seperti kenapa harus ini bukan itu.
Gue tersenyum kaku. Ana masih dengan gigi terkatup di depan gue. Menatap gue dengan amarahnya. Gue membuatbya marah, lagi.
Cewek itu lantas menunduk. Kemudian memegang tangan gue yang bebas disamping tubuh. Gue tidak mengelak. Sentuhan tangan Ana gue biarkan membelai punggung tangan gue. Kemudian cewek itu menggenggamnya dengan kedua tangan kecilnya.
"Udah lama, ya, Bra? Sejak lo bilang suka sama gue waktu itu." dia membuka kalimat. Tanpa menatap gue sana sekali.
Sudah lama. Satu tahun yang lalu.
"Satu tahun bareng sama lo belum cukup buat gue, Sabrang Aditya." Ana mengangkat dagunya. Menyejajarkan tatap dengan mata gue. "Jadi kita harus bareng lebih lama lagi."
"Ana!"
"Gue nolak lo ajak putus, itu intinya." Ana menjatuhkan tangan gue.
"Pacaran dengan satu perasaan nggak cukup Anastasya." gue mencoba meyakinkannya.
"Sama dengan keputusan yang lo buat." Ana mendekat ke gue. Hampir membuat gue gelagapan. "Gue cuma mau waktu. Bentar lagi. Nggak akan banyak makan waktu, gue janji."
Ana memegang dasi gue. Dia melonggarkannya lalu menepuk bahu gue. Lantas sekejap dia meninggalkan gue. Dia berjalan menjauh. Punggungnya yang dulu selalu gue rindu kini menjadi sangat biasa atau gue bisa menyebut itu bosan. Dia melepas bando biru yang tersemat dipucuk kepalanya. Membebaskan anak rambut didahinya yang meskipun gue tidak bisa melihat dari belakang sini, gue tau bahwa dia masih sangat cantik. Ana membuang bandonya. Dia terlihat kesal.
__ADS_1
Sebentar? Berapa lama kata itu memakan waktu. Sesuatu yang tidak pernah pasti. Gue benci itu.
***
Jam istirahat kali ini gue habiskan untuk bengong di lapangan basket. Tidak ada Han, tidak ada Felix ataupun Bulan. Gue menikmati pantulan bola basket yang dimainkan seseorang. Mengikuti arah geraknya yang lincah kesana kemari.
Sebentar. Itu kata Ana pagi tadi. Gue ingin percaya bahwa sebentar itu tidak akan merubah keputusan akhir gue. Gue juga berusaha yakin sebentar yang dia maksud adalah hanya menunggu.
Setelah bagaimana cara gue diperlakukan oleh Ana. Gue hanya ingin mengakhirinya dengan cepat. Tidak lagi membuat kenangan yang bisa saja gue sesali suatu saat nanti. Gue tidak mau itu terjadi.
Saat lamunan gue sedang menuju goyah ponsel gue bergetar dari saku kemeja. Gue sedikit kaget.
Bulan mengirim pesan. Namun pesan itu tidak ingin gue balas dengan pesan pula. Gue malah tergerak untuk menghubungi. Tidak pakai lama, Bulan menjawab.
"Dimana, Bra?" suaranya berat. Jelas bukan Bulan.
"Lapangan basket."
Gue terkejut. Berdiri secara cepat membuat kotak bekal di pangkuan gue berserakan.
"Dia kenapa?"
"Strees katanya. Gue cuma mau ngabarin. Takutnya lo nyariin."
Gue hanya diam membeku. Tidak tahu ingin memberi respon apa. Lantas gue menutup telepon.
Ada apa dengan hati gue? Gue juga tidak tau. Rasanya seperti ada benda besar memenuhi ruang sempit yang membuat dada gue terasa pengap. Gue berusaha menarik napas panjang dimana hasilnya justru mata gue terasa perih. Apa gue takut? Untuk alasan apa. Bulan bukan siapa siapa, dia hanya sekedar teman. Dan gue rasa, tidak pantas bagi teman seperti gue khawatir berlebihan padanya.
Jadi apa yang sedang gue rasakan. Gue masih membeku dengan ponsel gue cengkeram erat.
Gue memungut kotak makan gue tanpa memedulikan tumpahan makanan yang kini berserakan. Lantas berlari ke kelas.
__ADS_1
Tunggu. Untuk apa gue berlari. Bulan sudah pulang.
Berhenti tepat setelah kelokan koridor menuju kelas, gue terhenti. Ana melambai didepan kelas gue. Dia menghentikan obrolan dengan seorang didepannya, lantas berjalan ke arah gue dengan senyum. Dada gue semakin sesak.
"Abra!" suaranya yang khas menghamburkan kesadaran gue. Pengap yang tadi sudah sedikit melonggar.
"Kenapa kamu kesini?"
"Kamu?" Ana seperti mengoreksi. Betul juga. Kenapa kamu.
"Kita sudah tidak punya hubungan, kan?" jawaban itu singkat.
Ana justru mendekat. "Aku minta kamu sedikit waktu, Sabrang."
Kamu?
"Aku nggak akan bikin kamu menyesal. Kita mungkin sudah saatnya berakhir, tapi tidak sekarang. Sebentar lagi." setelah ucapan itu Ana meraih lengan gue. Dia menuntun gue berjalan menuju kelas.
Aku? Kamu? Sepertinya memutus hubungan dengan Anastasya tidak akan semudah itu. Gue baru memulai untuk kemudian disambut dengan permainan lain Anastasya yang tidak pernah gue mengerti apa.
Sekarang kalian tau betapa hubungan Anastasya dan gue begitu toxic. Gue selalu gerjebak dalam permaianannya. Diaman keluar mati dan mengikuti tersiksa.
Mana yang lebih baik? Terjebak dengan seekor monster yang tidak tau kapan akan menyantap kita. Atau mati yang dipercepat.
Gue jelas belum bisa memilih.
••••••••
Hi Hello...
Long time no see..
__ADS_1