A Dusty Photo

A Dusty Photo
Bab 18 : Hubungan


__ADS_3

...- A Dusty Photo -...


...•••...


..._Bulan...


Gue ingin berterima kasih pada kesibukan gue akhir akhir ini. Gue siswa baru dia kelas dua semester dua. Dan gue akan cukup hectic untuk mengejar banyak ketertinggalan. Gue akan bilang bahwa gue tidak sebodoh itu atau gue betulan tidak bodoh. Untuk meraih peringkat pertama itu mudah bagi gue. Namun mengejar di semester dua tentu tidak semudah itu. Makanya gue betulan sibuk.


Dan alasan kesibukan gue bisa digunakan untuk menghindar dari Sabrang. Ah, gue memutuskan memanggilnya begitu. Gue tidak suka sok akrab dengan dia. Mengingat akhir akhir inipun cowok itu sedang kembali dekat dengan Anastasya.


Gue, Han dan Felix sedang duduk di sebuah gazebo di belakang sekolah. Ada banyak buku didepan gue dan Han juga Felix yang didepan mereka justru ada sandwitch dan susu kotak.


"Bulan yang belajar kalo lagi stres udah balik, Han." Gue mendenga Felix bergumam didepan gue.


"Gue belajar bukan karena lagi stres, Lix. Ini semester dua, dan gue kan baru. Banyak banget ketinggalan." gue membolak balik buku catatan milik Han. "Lo masih sama malesnya kalo soal nyatet, Han."


"Ya Sorry. Gue mah sibuk di lain hal." Han menyesap teh kotaknya.


"Sibuk ngapain, Han?" Felix bertanya.


"Gue pengen cerita ke kalian, tapi Bulan lagi nggak bisa diganggu, kalo gue cerita sama lo aja, nanti Bulan kepo." Han menghela napas. "Lelah banget, gue."


"Yaudah. Nanti aja, selesain dulu." Gue kembali fokus pada buku didepan gue. Ah, rasanya gue menyetujui apa yang Felix katakan. Sepertinya gue sedang stres dan cara mengalihkan apa yang sedang gue rasakan adalah dengan mencari kesibukan.


Oke, ini sejak dulu. Sejak sangat lama gue selalu lari pada belajar jika keadaan hati gue sedang hancur. Ini hanya alibi. Karena apa yang membuat stress diri gue adalah kedua orang tua gue sendiri. Dan apa yang bisa dilakukan anak kecil untuk menghindar dari kekacauan. Satu satunya yang bisa gue lakukan hanya belajar. Gue merubah fokus stres gue ke berbagai hal di depan gue. Dengan kosa kata baru bahasa inggris. Atau mendalami lebih banyak jenis ganggang dan rumput laut.


Gue seketika terdiam. Apa yang gue lakukan karena ulah nyokap bokap gue ternyata membuat mereka bangga. Betul juga. Gelar lulusan dengan nilai rata rata tertinggi gue dapat saat lulus SMP dulu. Dan seingat gue, bokap gue juga melenggang dengan kepala terangkat ketika datang mengambil rapot semester satu SMA dulu.


Apa yang salah dari semua ini. Kenapa hal yang gur hindari justru membuat kedua oranv tua gue bangga.


Gue menutup buku. Bertepatan dengan Sabrang yang sedang melenggang dengan dua kotak susu ditangannya. Gue menatapnya sekilas sebelum akhirnya berdiri dan mengangkut seluruh buku.


"Mau kemana, Lan?" Felix bertanya. Bertepatan dengan Sabrang yang baru saja sampai.


"Gue mau ke perpustakaan."


"Abra baru juga dateng." Han menatap gue. Dia sedikit mendongak dan dari air wajahnya dia sedikit merasa canggung.

__ADS_1


Gue memang sedang menghindar dari Sabrang. Kenapa? Pertama karena Anastasya. Gue berpikir kalo ternyata gue salah mengancam Anastsya di toilet tempo hari. Ah, itu bukam mengancam. Hanya tiba tiba membicarakan sebuah kemungkinan mustahil. Sabrang tentu bukan seorang yang dengan mudah meninggalkan seorang sesempurna Anastasya. Kedua, karena nyokap gue. Ini memang berhubungan dengan Sabrang. Karena gue rasa akan bermasalah jika gue dekat dengan Sabrang ketika cowok itu sedang berpemikik. Ah, lantas kenapa. Toh hanya sahabat. Iya, gue tadinya juga berpikir begitu. Toh hanya berteman. Namun hati dan perasaan gue enggan berkata demikian. Semakin gue dekat dengan Sabrang semakin gue memikirkan kemungkinan mustahil yang gue bicarakan sebelumnya.


Tiba tiba semua masalah gue berhubungan dengan Sabrang, ya? Enggak. Gue mamang sedang perang dingin dengan nyokap gue.


"Gue nggak punya banyak waktu buat ngejar ujian akhir, Han. Dan catetan lo luar biasa nggak bermanfaat." gue memaksa senyum pada Han. Kemudian pamit ke semuanya. Termasuk Sabrang.


Gue betulan memaksa senyum untuknya. Memasang wajah senatural mungkin agar tidak dengan jelas gue berusaha menghindar dari dia.


Gue akhirnya melangkah ke perpustakaan. Perpustakaan di sekolah ini ternyata cukup besar. Dan gue rasa tidak lebih besar dari sekolah gue di Surabaya. Tapi disini semua buku tertata rapi. Setiap rak memiliki papan judul masing masing. Mengelompokkannya satu persatu. Gue menuju rak terbesar disudut belakang. Dan mencari buku Matematika tebal. Lantas gue berusaha mencari kursi. Masih di sudut ruang gue berpapasan dengan Anastasya.


Cewek itu berjalan ke arah gue yang sudah duduk dan mencoba fokus pada seluruh angka didepan gue. Namun entah kenapa bayang Anastasya yang mendekat tertangkap retina dengan sangat jelas. Cewek itu terlihat cantik atau memang selalu cantik. Hari ini rambut tebal dan panjangnya di kucir kuda dengan sedikit anak rambut keluar dari ikatan.


Anastasya mendekat. Dan duduk didepan gue tanpa permisi. Gue mencoba keras tidak peduli.


Anastasya mengeluarkan ikat rambut warna hitam dengan aksen pita kecil disana. Menyodorkan ke gue yang sedang menunduk dan sibuk dengan pena.


"Ikat dulu rambut lo. Kayaknya nggak nyaman belajar dengan rambut kayak gitu." Anastasya berucap. Gue memandangnya kemudian menghela napas.


Apa cewek ini pura pura baik? Tidak. Dia memang baik. Seluruh semesta sepertinya menyetujui hal itu. Namun kesan gue dengannya pada pertama bertemu tidak seperti kebanyakan orang rupanya.


"Enggak. Makasih."


Anastasya fokus dengan buku didepannya. Gue juga. Atau setidaknya gue mencoba untuk fokus. Karena melihat bagaimana Anastasya duduk dengan anggun dudepan gue membuat perasaan gue sungguh tidak nyaman.


"Bulan." Anastasya menurunkan bukunya. Kemudian menatap gue. Gue ikutan mendongak. Mencoba menyelaraskan pandangan.


"Apa lagi."


"Kayaknya lo lagi bad mood."


"Kenapa lo bisa nilai gue begitu?" tanya gue sedikit tidak enak.


"Saat lo pingsan hari itu gue rasa lo mulai menghindar dari Abra."


"Sesuatu yang terjadi di gue nggak semua berurusan sama Sabrang. Dan gue rasa lo pun nggak perlu ikut campur." gue ingin pergi. Sungguh. Pembahasan tentang Sabrang hari ini membuat perasaan gue menjadi lebih kacau.


"Tapi terakhir lo bilang, lo begitu yakin kalo Abra bakal dateng ke lo."

__ADS_1


"Tapi gue pun bilang nggak akan rebutan pacar sama lo." gue menutup buku. Akan lebih baik menjauh dari Ana.


"Gue hampir putus sama Abra gara gara lo." gue gagal berdiri. Malah menaruh kotak pensil dan menatap Anastasya lagi. "jadi sekarang lo tertarik?"


"Lo bilang itu hampir. Dan gue ragu kalo itu karna gue."


"Gue yakin lo tertarik." Anastasya menutup bukunya. Kemudian mendekatkan tubuhnya kearah gue.


Gue memutar bola mata. Untuk apa gue tertarik.


"Tepat di hari dimana lo pingsan. Gue lihat Abra sedikit khawatir. Dia berkali kali cek hape, nelpon seseorang yang nggak gue tau siapa. Tapi gue yakin itu berhububgan sama lo."


"Apa lo bilang semua itu cuma berdasar hipotesa? Gue salut, kayaknya lo termasuk pemikir." gue berdiri. Kemudian menutup kursi. "Tapi jangan hubungkan apa apa tentang gue sama Sabrang. Karena gue sama sekali nggak tertarik."


Gue berlalu.


Gue nggak waras. Sepertinya otak gue sedang dirajai perasaan aneh yang semua itu berhubungan dengan Sabrang. Apa kalimat Han tempo hari itu benar. Tentang cinta yang katanya rumit. Gue sampai tidak memakai logika jika sesuatu itu berhubungan dengan Sabrang. Dan satu lagi, kenapa gue menghubungkan semua hal dengan Sabrang.


Ditengah jalan menuju kelas ponsel gue berdering. Gue mengeluh kesal ketika gue mendapati nyokap gue lagi dan lagi.


"Halo!" sapa gue.


"Bulan. Sore ini Mami jemput, ya. Ada seseorang yang mau Mami kenalin ke kamu."


"Bulan sibuk."


"Cuma hari ini, Bulan. Mami bakal jemput kamu. Dan kamu tau Mami nggak suka penolakan."


"Berarti seharunya nggak usah minta ijin."


Gue memutus sambungan secara sepihak. Gue nggak peduli apa nyokap gue disana kini sedang kesal atau tidak. Gue tidak peduli.


••••


Note penulis...


Hi hello.. Hmm. Baru baru ini gue nonton yt tentang mental illness. Dah, gitu aja..

__ADS_1


Maaf untuk semua typo, kalo banyak peminat aku bakal perbaiki..


__ADS_2